
"Apa?" pekik Hartono, ia jelas terkejut dengan apa yang diucapkan oleh wanita yang baru saja ia temui. Dan seketika itu juga Hartono bangkit dari kursinya. "Kamu sedang mencoba untuk menghasut saya kan. Kamu pikir saya akan percaya begitu saja. Jangan harap!" kecamnya kemudian.
Hartono meninggalkan wanita itu sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Sesampainya di mobil, Andre langsung bertanya saat menyadari raut wajah Hartono.
"Bapak kenapa, apa bapak sakit, bagaimana jika kita langsung ke rumah sakit saja?" Andre panik karena ia tahu betul bagaimana kondisi kesehatan Hartono.
"Tidak usah, kamu anter saya ke rumah Freya saja."
"Kenapa mendadak begini?" gumam Andre pelan.
"Ayo cepet jalan, kenapa kamu malah bengong," tegur Hartono karena Andre tak kunjung menjalankan mobilnya.
"Iya pak."
Di dalam mobil Hartono mencoba menghubungi Freya, dan beruntung saat itu Freya langsung menjawab teleponnya.
"Halo pa, tumben telfon jam segini?"
"Kamu dimana, papa sekarang lagi jalan ke rumah kamu."
"Freya di kantornya Al Pa. Papa kok nggak bilang dari tadi kalau mau ke rumah."
"Kamu pulang sekarang, papa tunggu di rumah," tegas Hartono dan langsung mematikan teleponnya secara sepihak.
"Haloo Pa.. Papa.." panggil Freya sebelum menyadari jika teleponnya sudah terputus. "Papa kenapa sih, kok kaya lagi marah ya. Tapi marah kenapa?"
Usai meminta ijin pada Al, Freya segera meninggalkan kantor. Pikir Freya, kedatangan papanya pasti ada hubungannya dengan Prisa. Sama sekali tidak terlintas di pikirannya jika papanya seperti itu karena dirinya.
"Pasti itu anak kabur dari rumah, makanya papa nyariin dia. Emang dasar ya itu anak, selalu aja bikin masalah. Nggak mamanya, nggak anaknya, mereka sama-sama suka mencari perhatian," gerutu Freya kesal.
Freya menghubungi Bi Irma dan memintanya untuk tetap menahan Prisa di rumah.
Seperti dugaan Hartono, ia sampai lebih dulu dari Freya.
"Bapak mau saya ikut masuk atau menunggu disini?" tanya Andre usai membukakan pintu untuk Hartono.
"Kamu tunggu saja disini, saya harus bicara berdua dengan Freya," kata Hartono.
Pria paruh baya itu langsung masuk begitu Bi Irma membukakan pintu.
"Non Prisa ada di kamar Tuan," ucap Bi Irma sebelum mempersilahkan Hartono untuk duduk.
__ADS_1
Tentu saja Hartono terkejut karena ia malah tidak tahu jika Prisa ada di rumah itu.
"Prisa? Jadi dia ada disini?" ucap Hartono sambil mengerutkan dahinya.
Bi Irma terdiam sejenak, ia bingung dengan ucapan Hartono karena seharusnya Hartono senang mendengar kabar darinya, tapi ini.. Hartono malah bertanya balik.
"I-iya Tuan," jawab Bi Irma ragu. "Jadi Tuan kesini bukan untuk mencari Non Prisa?" tanya Bi Irma untuk mempertegas ucapan Hartono.
Hartono tidak mau menjawabnya dan malah mengalihkan pembicaraan ke Prisa. "Jadi dimana kamar Prisa?"
"Sebelah sana Tuan, mau saya antar sekarang?" tanya Bi Irma.
"Oke," jawab Hartono sambil melanjutkan langkahnya.
Hartono sudah sampai di depan kamar Prisa. Ia meminta Bi Irma untuk memanggilnya karena jika Hartono yang melakukan itu Prisa pasti akan mengunci dirinya di kamarnya.
"Non Prisa?" panggil Bi Irma sambil mengetuk pintu.
"Jangan ganggu aku, aku mau tidur," sahut Prisa dari dalam.
"Tolong buka pintunya sebentar Non, ada seseorang yang mau bertemu dengan Non Prisa," ucap Bi Irma.
"Tuan Al," jawab Bi Irma. Jika ia mengatakan bahwa Al yang ingin bertemu, Prisa pasti langsung membukakan pintu.
Dan benar, sesuai dugaannya Prisa langsung membuka pintunya.
Raut wajah yang semula ceria, seketika berubah tegang saat Prisa melihat Hartono berdiri di depannya.
Prisa hampir saja menutup pintu, tapi Hartono langsung menghalanginya.
"Prisa, papa mau bicara. Papa emang nggak tau apa masalah kamu, tapi semuanya bisa dibicarakan baik-baik, tidak perlu seperti ini. Mama kamu cemas nyariin kamu. Kamu harus pulang sekarang."
"Jadi mama yang udah nyuruh papa?" tanya Prisa.
"Tidak, papa menyelidikinya sendiri karena mama kamu juga menyembunyikan kepergian kamu dari papa."
Prisa terdiam karena ia memang sudah kehabisan kata-kata untuk menyangkal.
"Pa, ini ada sebenernya?" tanya Freya. Ia tiba-tiba muncul di waktu yang tepat.
Mendengar suara Freya membuat Hartono langsung menoleh ke belakang. Dan ia segera menarik tangan Freya untuk menjauh dari Prisa dan juga Bi Irma.
__ADS_1
"Papa harus bicara sama kamu?" tegasnya.
Sikap Hartono tentu menimbulkan kebingungan di benak semua orang, terutama Freya. Bahkan Freya sampai beberapa kali menoleh ke belakang lalu menatap papanya seolah-olah ingin memastikan jika papanya memang sedang tidak salah menarik orang, karena menurut Freya seharusnya orang yang ditarik seperti itu adalah Prisa.
Hartono melepaskan tangan Freya ketika mereka sampai di halaman belakang. Kebingungan Freya tak berhenti sampai disitu karena setelahnya papanya justru terdiam sambil berjalan mondar-mandir dan sesekali Hartono tampak memijit pelipisnya.
"Papa kenapa bawa Freya kesini, dan kenapa papa terlihat gelisah?"
"Freya kamu harus jujur sama papa, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan selama ini. Kamu pikir.. kamu bisa terus-terusan menyimpan kebohongan sama papa," ucap Hartono dengan raut kecewa.
"Papa ini ngomong apa, Freya sama sekali nggak ngerti Pa. Nggak ada sesuatu yang Freya sembunyikan dari papa. Oh.. atau ini tentang Prisa yang tinggal disini. Soal itu Freya minta maaf Pa, tapi-"
"Stop, jangan membahas soal Prisa," potong Hartono cepat.
"Papa tolong bicara yang jelas. Freya nggak tau kebohongan apa yang papa maksud."
"Kamu dan Al... mempermainkan pernikahan kalian. Kalian tidak saling mencintai, itu sebabnya kalian sengaja membuat pernikahan kontrak untuk menipu papa, dan seluruh dunia." Hartono menghela napas sejenak. Sejujurnya ia tidak kuat untuk meneruskan kata-katanya, tapi ia tetap harus menghentikan kegilaan yang dibuat oleh putrinya.
"Pa..."
"Buat apa Freya, buat apa kamu melakukan semua itu. Papa memang meminta kalian untuk bertanggung jawab tapi tidak dengan cara seperti ini."
Air mata Freya berjatuhan, ia tidak menyangka jika rahasia yang ia kubur dalam-dalam akhirnya diketahui oleh papanya sendiri. Tapi siapa, siapa orang yang mengetahui hal ini. Karena selama ini hanya dirinya, Al dan juga Bi Irma yang tahu rahasia ini.
Bahkan sekarang semuanya sudah berubah. Perjanjian itu sudah tidak berlaku lagi, mereka sudah memutuskan untuk menjalani pernikahan ini seperti pasangan lain. Mereka saling mencintai dan berharap jika hanya maut yang bisa memisahkan mereka.
"Freya memang salah pa, tapi itu dulu.. sebelum Freya dan Al saling mencintai."
"Ini omong kosong apa lagi Freya."
Hartono hampir putus asa dan ia tidak bisa lagi percaya pada kata-kata Freya. Oleh sebab itu ia memilih untuk pergi dari hadapan putrinya.
Freya berusaha untuk mengejarnya, namun Hartono menepis tangan Freya.
"Pa, Freya bisa jelasin pa. Freya minta maaf, tapi semua itu memang sudah berlalu. Papa harus ngasih kesempatan ke Freya untuk bicara. Please pa... ada banyak hal yang perlu papa tau." Freya terus berusaha untuk mengejar papanya, namun Hartono sepertinya sudah sangat kecewa.
"Pa..." teriak Freya saat papanya itu benar-benar melenggang pergi tanpa menoleh sedikit pun.
"Kenapa semuanya jadi begini," Freya menutup wajahnya dengan kesal lalu melampiaskan amarahnya dengan menenangkan kakinya ke udara.
BERSAMBUNG...
__ADS_1