My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Karena terpaksa


__ADS_3

"Prisa.. Haloo.." Stev sampai harus memanggil Prisa sekali lagi sambil melambaikan tangannya di depan wajah Prisa.


Prisa tentu terkejut saat sadar jika posisi Stev sudah begitu dekat dengannya. Prisa kemudian menegakkan tubuhnya sehingga memberi jarak untuk mereka.


"Kamu itu liatin apa, dan kenapa kita harus ngikutin Freya. Sebenarnya hubungan kalian itu seperti apa sih?"


"Kamu bisa diem nggak, aku lagi nyari tau sesuatu," jawab Prisa sambil kembali menatap ke arah Jasmine.


Stev hanya bisa berdecak pelan karena Prisa benar-benar mencampakkannya.


"Tante senang bisa ketemu sama kamu, sejak kamu membantu tante, perlahan usaha tante mulai berjalan seperti keinginan tante. Lalu apa rencanamu selanjutnya?" ujar Citra.


Jasmine mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga Citra.


Entah apa yang mereka bicarakan, Freya sendiri tidak bisa asal menebak. Selama ini ia sudah mengenal Jasmine dengan baik, sama sekali tidak terlintas di pikirannya jika Jasmine akan berkhianat di belakangnya.


"Sejak awal aku emang udah nggak suka sama itu cewek, dia pasti punya niat buruk sama kamu Frey," ucap Mesha berkomentar.


"Niat buruk apa, jangan ngaco deh kamu. Kita belum punya bukti apa-apa."


"Bukti apalagi Freya, jelas-jelas mereka bersekongkol di belakang kamu."


"Bisa aja kan kalau mereka itu punya hubungan saudara atau mungkin ada bisnis bareng, kita kan nggak tau Sha."


"Ya udah kita liat aja siapa yang bener, aku atau kamu."


Setelah Jasmine membisikkan sesuatu ke Citra, wajah mereka tampak ceria.


"Kamu serahin semuanya sama tante, tante pasti nggak akan ngecewain kamu." Citra memberikan kepercayaan besar pada Prisa.


Berbeda dengan Freya yang masih sedikit menaruh rasa percayanya pada Jasmine, Prisa malah sudah menaruh curiga yang begitu besar. Bahkan sekarang gadis itu sudah berdiri lalu berjalan menghampiri mamanya.


Freya dan Mesha yang melihat kemunculan Prisa hanya bisa saling menatap dengan ekspresi terkejut.


"Ngapain anak itu ada disini?" tanya Mesha pada Freya.


Sementara Freya hanya mengedikkan bahunya.


"Mama ngapain ada disini, dan siapa wanita ini?" tanya Prisa terus terang sambil memasang wajah juteknya.


"Prisa? sejak kapan kamu ada disini?"

__ADS_1


"Mama belum jawab pertanyaan Prisa jadi nggak usah ngalihin pembicaraan," tegas Prisa.


"Sayang sini duduk dulu, dia ini namanya Jasmine, kebetulan-"


"Jasmine," gumam Prisa memotong ucapan mamanya sambil berusaha mengingat-ingat nama dan wajah wanita itu. "Aku ingat, kamu temennya Freya sama Al kan. Ada hubungan apa kamu sama mamaku, atau jangan-jangan..."


Prisa melotot seketika saat di pikirannya terngiang beberapa dugaan. Lalu secara tiba-tiba mamanya membungkam mulut Prisa sebelum gadis itu mengeluarkan semua kata-katanya.


"Jaga ucapan kamu Prisa, nanti kalau ada orang yang denger terus salah paham gimana. Ayo kita pulang, nanti mama jelasin di rumah!"


Citra langsung menyeret Prisa keluar tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.


Melihat Citra dan Prisa meninggalkan tempat duduknya, Freya dan Mesha segera menyembunyikan wajahnya menggunakan buku menu.


"Lo lihat kan, dia mencurigakan banget Frey. Kali ini lo harus percaya sama gue. Mungkin aja kan kalau kabar pernikahan kontrak lo itu bocor gara-gara ulah mereka berdua," bisik Mesha.


Freya mulai berpikir, ucapan Mesha memang cukup masuk akal. Apalagi Prisa juga secara terang-terangan menanyakan hubungan mamanya dengan Jasmine, itu cukup membuktikan jika mereka sedang bersekongkol.


****


Al baru saja pulang dari kantor dan ia langsung mendapati istrinya yang sedang duduk sambil melamun.


"Al aku mau tanya, menurut kamu Jasmine itu seperti apa sih?"


Al mengerutkan dahinya. "Jasmine, kenapa kamu tiba-tiba membicarakan dia?"


"Nanya aja, aku penasaran kenapa dia masih aja jomblo padahal menurut aku dia sempurna. Kata-kata yang aku inget itu waktu dia ngomong kalau dia belum bisa melupakan seseorang dari masa lalunya, apa itu artinya dia pengen mengulang masa lalunya?"


"Aku udah pernah cerita kan kalau dia udah populer sejak di bangku SMA, dan tentang siapa pria di masa lalunya... aku kurang tau," jawab Al sedikit gugup. Ia sendiri tidak tahu siapa seseorang yang dimaksud oleh Jasmine. Namun setau Al, Jasmine tidak pernah memiliki seorang kekasih, hanya dirinya orang yang paling dekat. Apa mungkin jika orang itu adalah dirinya?


"Gitu ya..."


"Emang kenapa sih, mau nyariin dia jodoh?" tebak Al.


Freya menyentil hidungnya Al dengan gemas. "Aku rasa selera dia cukup tinggi, mana bisa aku mencari pria yang seperti itu."


"Kalau suamimu ini gimana, apa termasuk dalam tipe pria idaman?" ujar Al sambil memainkan alisnya.


Freya menatap ke depan sambil berpikir, "idaman nggak ya?" jawabnya bimbang untuk menggoda Al.


Al yang gemas melihat tingkah Freya langsung menggelitikinya, membuat istrinya itu berjingkat kesana kemari.

__ADS_1


"Al udah cukup, geli..." rengek Freya sambil tertawa karena sudah tak tahan.


Al justru semakin gencar menggeluti Freya. "Jawab dulu, idaman nggak?"


"Stop Al, oke aku jawab," ujar Freya dengan napas tersengal-sengal sambil mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat jika ia sudah menyerah.


Al menunggu sambil memangku tangannya di hadapan Freya.


"Al liat, ada sesuatu di belakangmu?" seru Freya.


Begitu Al menoleh ke belakang, Freya langsung berlari menuju kamarnya. Ia berlari sekuat tenaga agar Al tidak bisa menangkapnya.


Saat Al berhasil mencapai pintu, Freya langsung menutup pintu dengan sangat kencang. Freya merasa lega, seandainya ia terlambat satu detik saja maka ia tidak akan bisa lolos dari Al.


Rasa capek membuat Freya langsung menyandarkan tubuhnya di pintu hingga perlahan merosot dan akhirnya Freya terduduk di atas lantai dan bersandar di pintu. Ia juga mulai mengatur napasnya yang hampir membuat jantungnya terlepas dari tempatnya.


"Sayang, kamu curang," teriak Al dari balik pintu. Sama seperti yang Freya lakukan, Al juga bersandar di balik pintu dengan posisi duduk.


Freya tersenyum lalu berkata, "Al, kamu itu pria dingin, arogan dan keras kepala, mana bisa dikatakan pria idaman."


"Terus kenapa kamu mau menikah denganku?"


"Karena terpaksa," jawab Freya dengan entengnya.


"Sama, aku juga," seru Al yang tak mau kalah dari Freya.


"Terus gimana, tetep mau dilanjut meski seluruh dunia udah tau?"


"Mau gimana lagi, udah terlanjur sayang."


Hanya dengan saling melempar candaan dari balik pintu sudah bisa membuat mereka tertawa, dan itu menunjukkan apapun keadaan dan kondisi mereka, mereka akan merasa bahagia jika takdir selalu ada di pihak mereka.


Selama mereka bersama, mereka akan melawan apapun rintangan yang datang. Tak perduli apakah itu petir, ombak atau pun badai.


"Al?"


"Hmm..."


"Aku capek," celetuk Freya sambil terkekeh pelan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2