
"Apapun yang terjadi nanti, ini semua salah kamu," ucap Freya sinis.
"Kenapa main nyalahin aku, aku mana tau kalau mereka ternyata ngajak aku buat datang ke rumah kamu," balas Alano yang tak mau kalah.
"Alasan, bilang aja kalau kamu suka sama aku."
"Apa? Aku suka sama kamu, hahaha.." Alano terkekeh. "Jangan mimpi."
Baik Alano dan Freya mereka saling melempar tatapan sengit, membuat orang tuanya menggelengkan kepala begitu melihat sikap kekanak-kanakan mereka.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul disini, mari kita langsung bicara ke intinya. Pak Hartono dan Freya, tujuan kami kesini tidak lain adalah untuk membicarakan kelanjutan hubungan putra putri kita. Seperti yang kita tau jika diluar sana sudah beredar kabar yang kurang mengenakan tentang anak-anak kita. Jauh dari dalam lubuk hati kami, kami selaku orang tua Alano ingin meminta maaf yang sebesar-besar atas nama putra kami. Dan kami sudah sepakat untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius sebagai solusi atas kejadian kemarin. Bagaimana Pak Hartono, apa anda setuju atau memiliki pendapat lain?" ujar Pak Reno panjang lebar.
"Saya rasa itu solusi yang paling baik. Bagaimana jika kita sekalian menentukan tanggal, bukankah lebih cepat lebih baik?" usul Hartono tanpa meminta pendapat dari Freya.
"Nggak, Freya belum mau menikah pa?" Freya sudah bangkit dari kursinya dan langsung bersuara dengan lantang.
"Alano juga, Alano nggak setuju dengan rencana kalian. Umur Alano baru 23 pa, sama sekali belum punya pemikiran untuk menikah."
"Memang kenapa jika kalian masih muda, justru karena usia kalian ini usia yang rentan dengan pergaulan bebas makanya kita nyari solusi agar kedepannya kalian bisa saling menjaga. Lagipula apa kalian nggak malu dengan omongan orang di luar sana. Ayolah Al, Frey, ini demi kebaikan kita bersama," ucap Liliana.
"Frey, harga diri wanita itu ada pada kehormatannya kamu tau itu kan. Jalan satu-satunya untuk membersihkan nama kalian ya ini. Jika kamu menolak, papa udah nggak tau harus bagaimana?"
Freya pergi dan keluar dari rumahnya tanpa sepatah kata pun. Sementara Alano masih mematung tanpa suara.
"Bagaimana Al, kamu mau kan?" tanya Liliana.
Alano mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Freya. Memang dari awal mereka bertemu hingga sekarang, tidak ada satu pun kesan baik yang terjadi di antara mereka. Tapi ada satu hal yang cukup mengganggu pikiran Alano, yaitu tentang siapa orang yang selama ini mengintai Freya. Jujur, setiap kali Alano berusaha untuk melupakan hal itu, selalu saja ada kejadian yang seolah-olah menuntun Alano untuk mencari tahu kebenarannya.
"Permisi?"
Tiba-tiba dari arah pintu utama terdengar suara seorang wanita. Semua orang yang berada di ruang tamu langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
"Ahh maaf, sepertinya kehadiran saya mengganggu perbincangan kalian," ucap wanita yang tak lain adalah Citra.
__ADS_1
Citra segera berbalik saat tahu jika mereka sedang mengadakan pertemuan.
Hartono adalah orang pertama yang menyambut wanita itu. Ia berjalan menghampiri Citra kemudian membawanya untuk ikut bergabung dengan Reno, Liliana dan juga Alano. Sedangkan Freya sudah pergi entah kemana.
"Citra, kemari lah. Kebetulan kamu datang."
Dengan wajah malu-malu Citra memperkenalkan dirinya pada Keluarga Alano.
"Saya Citra, saya adalah-"
"Dia calon istri saya," potong Hartono cepat.
"Mas…" Citra melirik Hartono dengan tatapan genitnya.
Kini dua keluarga itu tampak larut dengan canda tawa yang tercipta. Namun tidak dengan Alano. Sejak kedatangan Citra, Alano merasa kurang nyaman sebab ada hal yang mengganggu pikirannya. Hal itu mengenai sepatu yang dikenakan Citra. Entah kenapa sepatu high heels itu mengingatkan Alano pada wanita yang ia jumpai di club waktu itu. Warna merah menyalanya dan sampai ke bentuk kakinya, semuanya mirip. Namun Alano belum bisa memastikan jika wanita yang ada di club itu adalah Citra karena di dunia ini banyak orang yang memiliki sepatu yang sama.
Jika benar dalang di balik penyerangan Freya adalah Citra, maka ini akan sangat membahayakan Freya. Terlebih sebentar lagi Citra akan menjadi bagian dari keluarga Freya, besar kemungkinan jika memang Citra lah orangnya.
"Al, kamu kenapa sih dari tadi bengong mulu?" tanya Liliana.
Liliana menganggukkan kepala. "Tapi jangan pulang dulu ya."
"Iya."
Setelah mendapat ijin dari mamanya, Alano berjalan keluar. Ia berjalan ke samping rumah Freya dan tak disangka ternyata disana Alano menemukan sebuah taman mini dilengkapi dengan dua buah ayunan.
Alano melihat sosok Freya tengah duduk di atas ayunan lalu ia perlahan mendekatinya.
Alano dengan sengaja memegang dua sisi ayunan yang di duduki Freya sehingga ayunan itu tak dapat bergerak lagi.
"Sialan, gue kirain siapa," rutuk Freya saat menoleh ke belakang dan mendapati Alano tengah berdiri disana.
Alano terkekeh lalu ia ikut duduk di ayunan yang berada di sebelah Freya. "Napa, lo kayanya benci banget sama gue. Asal lo tau, kita ini sama-sama dirugikan jadi nggak ada gunanya kalau kita terus berdebat. Lebih baik kalau kita bekerjasama. Bukannya kita punya tujuan yang sama, sama-sama nggak mau dijodohkan."
__ADS_1
Freya terdiam sejenak sambil memikirkan ucapan Alano.
"Emang apa rencana lo?" tanya Freya.
"Gimana kalau kita tetap menikah-"
"Gila lo! Kalau ngasih ide yang masuk akal. Gue harus bilang berapa kali kalau gue nggak mau nikah sama lo," ucap Freya dengan nada tinggi.
"Dengerin dulu napa sih, gue belum selesai bicara tapi lo main potong aja," gerutu Alano dengan wajah judesnya. "Jadi gini, gimana kalau kita nikah kontrak. Kita bikin perjanjian yang isinya cuma lo dan gue yang tau. Itu sih cuma saran ya, gue mau cari amannya aja daripada gue harus kehilangan jabatan gue di kantor," lanjutnya.
"Kontrak? Berapa lama, satu bulan, tiga bulan?"
"Busettt, ya nggak sesingkat itu juga kali. Kalau terlalu singkat orang tua kita bisa pada curiga. Gimana kalau tiga tahun."
"Nggak nggak, mana bisa gue hidup tiga tahun sama lo."
"Dasar, apalagi gue!" rutuk Alano sambil menyunggingkan sudut bibirnya karena kesal dengan ucapan Freya.
"Satu tahun deh, itu udah gue sabar-sabarin," ucap Freya.
Alano mengulurkan tangannya sebagai tanda persetujuannya. "Oke deal satu tahun."
Freya balik menjabat tangan Alano. "Oke deal."
"Besuk lo datang ke kantor gue, gue bakal kasih surat kontraknya. Lo bisa isi syarat apa aja yang lo minta selama kita nikah kontrak. Dan satu lagi, selama satu tahun itu kita harus pura-pura baik dan harmonis di depan orang tua kita, gimana?"
"Oke, gue setuju."
"Good."
Alano tersenyum ketika Freya menyetujui usulannya. Dalam hati Alano juga merasa lega karena sebenarnya tujuannya melakukan nikah kontrak ini adalah untuk mencari tahu tentang orang yang berusaha mencelakai Freya.
Sekuat apapun Alano berusaha untuk tidak perduli, tetap saja pada akhirnya ia akan bertindak mengikuti kata hatinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...