
Freya sudah melewatkan satu hari paling melelahkan dalam hidupnya. Kini dia langsung menyandarkan punggungnya di sofa begitu sampai di rumah.
"Akhirnya sampai rumah juga," gumam Freya sambil menggeliatkan tubuhnya.
Alano tersenyum sinis. "Udah berasa rumah sendiri ya?"
"Memangnya iya kan, toh nanti kalau kita bercerai rumah ini juga akan jadi milikku," jawab Freya dengan santai.
Alano mengangguk-angguk sambil tersenyum seolah meremehkan ucapan Freya. "Itu jika semua berjalan sesuai rencana." Tiba-tiba saja Alano langsung membungkukkan badannya di atas tubuh Freya sehingga terlihat seperti ingin menindihnya. "Bagaimana jika tidak?" lanjutnya sambil memainkan alis.
Freya tercengang, ia bahkan sudah menahan napasnya selama beberapa detik karena aksi gila Alano. Freya benar-benar berada dalam kungkungan Alano.
"Astaga!" ucap Bi Irma yang tak kalah terkejut begitu melihat adegan mesra antara Freya dan Alano.
Bi Irma hendak pergi dari hadapan mereka sebelum merusak momen itu, namun baik Alano maupun Freya sama-sama sudah terlanjur mengetahuinya. Mereka menoleh secara bersamaan.
"Bibi!" Mereka kompak memanggil di waktu yang bersamaan.
Lalu ketika Alano dan Freya menyadari posisi mereka, mereka segera berlomba untuk menjauh.
Bibi yang berniat untuk pergi pun mengurungkan niatnya. Ia kembali menoleh ke belakang sambil memasang senyum termanisnya.
"Ini nggak seperti yang bibi liat," batah Freya cepat sebelum Bi Irma berpikir yang tidak-tidak.
Freya dan Alano sama-sama diterpa rasa gugup dan malu. Dan yang bisa mereka lakukan hanyalah menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sambil menoleh ke sana kemari karena tidak tahu harus melakukan apa ataupun sekedar berbicara untuk menjelaskan keadaan.
"Maafin bibi Non, Tuan.. Bibi kesini cuma mau nganterin minum."
Benar, Bi Irma memang datang sambil membawa nampan yang berisi dua gelas minuman.
Usai meletakkan gelasnya, Bi Irma mengedipkan matanya pada Freya.
__ADS_1
Freya langsung melotot tak terima. "Bibi jangan mikir yang macem-macem ya?"
"Kalau gitu bibi permisi dulu Tuan."
Seperti yang Freya lihat, Bi Irma mengabaikannya. Namun dari sorot matanya Freya tahu jika sekarang Bi Irma sedang bersorak untuk mengejeknya.
"Ini semua gara-gara kamu," ketus Freya sambil berlalu meninggalkan Alano.
"Kenapa jadi gue. Oh iya gue tadi liat lo ngobrol sama cowok yang di taman. Kalian punya hubungan apa?"
"Apa itu penting buat lo?"
"Jelas penting, gue harus tau siapapun orang yang deket sama kamu."
Freya membalikkan badannya lalu mendekat secara perlahan sambil mengangkat dagunya. Tidak hanya itu, ia juga melipat kedua tangannya di dada, terlihat seperti ingin menantang Alano.
"Terus kalau gue bilang dia pacar gue kenapa, ada masalah?"
"Mau dia pacar kamu, mantan kamu atau gebetan kamu sekalipun aku nggak perduli Freya. Aku cuma mau bilang, jangan terlalu percaya sama siapapun terlebih orang yang baru kamu kenal. Kamu paham kan?"
Sesampainya di kamar, Alano langsung menghubungi Toni. Ia tidak bisa menyingkirkan pria itu dalam pikirannya. Entah kenapa ia tidak suka saat pria itu berada di dekat Freya.
"Ton, cari informasi sedetail mungkin tentang pria bernama Naufal. Saya akan kirimkan fotonya."
Selang beberapa menit, Toni sudah kembali menghubungi Alano.
"Bos, Naufal adalah pengacara baru di kantornya Pak Hartono-mertua anda. Dia tinggal di xxxx seorang diri. Dia lulusan S2 Universitas Brawijaya dengan predikat kumlout dan menjadi sarjana hukum di usia 29 tahun. Kedua orangnya sudah bercerai sejak ia usia remaja. Papanya meninggal dunia ketika dia baru lulus SMA, sementara ibunya tinggal di luar negeri usai bercerai. Untuk sementara itu dulu yang bisa saya laporkan bos."
"Oke, cari lebih banyak lagi. Siapa tau dia ada hubungannya dengan teror itu."
Alano menurunkan ponselnya usai mendapat jawaban dari Toni. Kini ia sedikit mencurigai Naufal. Entah ini kebetulan atau tidak tapi kenapa dia tiba-tiba muncul di kantor Pak Hartono dan juga mendekati Freya.
__ADS_1
"Apa ini cukup masuk akal jika dikatakan hanya sebuah kebetulan?"
***
Freya mungkin tidur dengan sangat nyaman hingga ia tidak menyadari jika matahari sudah mulai merangkak naik. Awalnya Freya sempat terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tapi saat menyadari jika ia akan menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di rumah, Freya kembali menjatuhkan badannya di ranjang.
"Apa artinya hidup kalau hidup gue cuma gini-gini aja. Kapan ini akan berakhir," teriaknya karena Freya muak dengan kehidupan membosankan yang selama ini ia jalani.
Freya menutup wajahnya dengan selimut berharap jika matanya akan kembali terpejam, namun hal itu tidak bisa mewujudkan keinginan Freya. Ia masih terjaga meski matanya sudah ia pejamkan.
Kesal pada dirinya sendiri, Freya langsung bangkit dan berjalan menuju ke pintu. Begitu pintu kamarnya terbuka, tanpa sengaja Freya melihat ada kotak susu yang diletakkan di depan pintu kamarnya.
Freya mengambilnya. Rupanya ada sebuah kertas kecil yang ditempelkan di kotak susu itu. Freya lalu melepas perekat kertasnya lalu membaca tulisannya.
"Aku sudah menyuruh bibi untuk mengisi kulkas dengan susu favoritmu dan juga camilan yang kamu suka. Sebagai gantinya, aku mengambil kunci mobilmu. Sampai jumpa nanti sore dan jangan mencoba untuk kabur dari rumah."
Wajah Freya langsung meradang begitu selesai membaca pesan yang ia yakini dari Alano. Kertas itu pun sudah diremas dan siap untuk di lempar ke tempat sampah sebelum akhirnya Bi Irma datang dan memergokinya.
"Surat dari Tuan ya Non. So sweet banget ya, di jaman serba canggih ini Tuan justru mengungkapkan isi hatinya dengan selembar kertas, jantung bibi ikut berdebar Non," ucapnya sambil terkekeh.
Freya benar-benar melempar kertas itu ke tempat sampah lalu membanting pintu kamarnya dengan keras.
"Apa-apaan ini, Alano emang nggak bisa diremehkan. Gue nggak bisa terus tinggal diam, gue harus lakukan sesuatu yang bikin Alano kapok dan berlutut sama gue. Tapi apa…?"
Freya memelototi susu pemberian Alano dengan tajam lalu ia melempar susu itu di ranjang.
Sementara itu, diluar Bi Irma juga mulai menggerutu. Tapi bukan karena ia kesal pada sikap Freya, melainkan ia gemas pada sepasang majikannya yang sama-sama keras kepala.
Bi Irma menghela napas panjang. Ia seakan sudah menyerah untuk terus menyatukan Alano dan Freya.
"Hahh.. Apa suasana rumah ini akan seterusnya seperti ini. Padahal aku sungguh menginginkan bayi mungil yang lucu, entah dia akan mirip Non Freya atau Tuan Alano aku tidak perduli. Bayi mungil itu pasti akan tetap cantik dan menawan."
__ADS_1
... BERSAMBUNG......
Karena mood lagi oke, author kasih dua bab buat hari ini, jadi mana nih semangatnya😊😍🤗