My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus


__ADS_3

"Apa kamu bilang, Freya nerbitin buku di perusahaannya Al?" Citra terkejut saat ia mendapat kabar dari salah satu informannya.


"Iya bu, dan sekarang perusahaan sedang gencar untuk melakukan pemasaran."


"Nggak, ini nggak bisa dibiarin. Gimana pun caranya kamu harus bikin novel itu nggak laku di pasaran atau kamu bisa copy file novel itu dan serahin ke saya biar saya yang urus sisanya."


"Baik bu."


Diam-diam Citra memiliki seorang informan yang berada di perusahaan Al, dan tujuan Citra adalah untuk mematai-matai perusahaan Al sekaligus menjatuhkan perusahaan itu. Gimana pun caranya Citra akan terus berusaha keras untuk membuat hidup Freya menderita, karena sudah terlalu lama Citra membiarkan Freya dan ibunya hidup bahagia di tengah-tengah penderitaan yang ia alami selama ini.


"Sial! aku pikir setelah investor mereka pergi perusahaan itu akan goyang, tapi ternyata mereka punya seribu satu cara untuk membuat perusahaan itu tetap bisa berjalan normal." Citra menghela napas panjang sambil berusaha mencari ide baru. "Oke, kita liat aja. Seberapa jauh kalian bisa melakukan itu," lanjutnya.


"Ma..?"


Mendengar suara vokal Hartono, Citra segera menoleh kaget. Ia tidak menyangka jika suaminya sudah berdiri di belakangnya. Apalagi barusan ia tengah memberi perintah pada seseorang untuk menjatuhkan Freya.


'Apa papa denger pembicaraan aku. Mampus! aku harus jawab gimana sekarang,' batin Citra bingung sambil diliputi perasaan was-was.


"Mama kenapa sih kok gelisah gitu. Ayo kita turun, katanya kita mau ke rumah Freya kan?"


"Mama baru aja mau keluar," jawab Citra.


"Oh iya Prisa jadi ikut kan?" tanya Hartono lagi sebelum mereka melangkahkan kaki.


"Sepertinya Prisa nggak bisa ikut pa, dia masih ada syuting."


"Yah, sayang banget. Ya udah ayo buruan." Saat mereka sudah maju beberapa langkah, tiba-tiba Hartono berhenti karena teringat akan sesuatu. "Oh itu ma, masakannya yang mau dibawa udah siap semua kan. Jangan sampai ada yang lupa, kasihan Al karena punya istri yang nggak bisa masak."


Citra memutar bola matanya dengan jengah. Tanpa Hartono sadari, sikapnya yang begitu perhatian pada Freya menimbulkan kecemburuan di hati Citra, dan itu semakin membuat amarah Citra pada sang anak tiri semakin tak terkendali.


"Udah siap semua pa, papa nggak perlu khawatir," jawab Citra sambil menyunggingkan senyum palsu nya.


****


Di tempat lain Freya mulai sibuk dengan aktivitas kantornya. Ia cukup senang karena akhirnya ia kembali memiliki kesibukan, namun ia juga harus beradaptasi karena lingkungan perusahaannya yang lama dengan yang sekarang jelas berbeda.


Saat Freya sedang menyandarkan tubuhnya di kursi sambil meregangkan otot-otot tubuhnya, tiba-tiba dering ponselnya berbunyi. Padahal ia baru saja ingin memejamkan matanya.


"Siapa sih," gumamnya dengan nada kesal.


"Kamu pasti capek ya, aku udah suruh Laura buat pijitin kamu. Dan aku juga udah suruh Toni buat beliin kamu makanan karena aku tau kamu pasti belum makan."

__ADS_1


Itu adalah isi pesan whatsapp dari Alano yang seketika membuat Freya senyum-senyum sendiri. Kebetulan Alano sedang ada meeting di luar sehingga ia tidak bisa menemani istrinya di kantor.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Freya.


"Iya masuk," teriak Freya.


Baru juga pesan itu selesai di baca, Laura langsung meluncur ke ruangan Freya.


"Laura?" pekik Freya. "Jangan bilang kalau kamu kesini karena disuruh sama Pak Al?" tebak Freya.


"Benar Bu, Pak Al meminta saya untuk memijit Ibu Freya. Apa bisa kita mulai sekarang?" tanya Laura sambil berjalan ke arah Freya.


"Stop! Kamu nggak perlu lakuin ini Laura. Gimana tanggapan karyawan lain kalau sampai tau. Kalau di kantor aku itu cuma seorang penulis bukan lagi istrinya Pak Al. Jadi kamu nggak perlu ngelakuin itu." Freya menolak dengan tegas.


"Tapi, ini perintah langsung dari Pak Al Bu, saya nggak mungkin berani ngelak."


"Udah kamu nggak perlu takut, nanti biar saya yang bilang ke Pak Al."


"Tapi Bu..."


Belum selesai Laura berbicara, tiba-tiba muncul Toni dari balik pintu sambil menenteng sebuah kantong plastik berlogo salah satu restoran ternama.


"Ini apalagi," keluh Freya sambil menggelengkan kepala.


"Ya Tuhan, bener-bener ya. Kebangetan deh dia, masa sampai harus kaya gini."


"Ini Bu Freya, silahkan dimakan." Toni meletakkan makanan itu di atas meja kerja Freya.


"Hmmmb... oke makanan ini saya terima dan saya pastikan kalau makanan ini akan saya makan. Jadi kalian boleh keluar dari ruangan saya."


"Tapi bu, bagaimana dengan saya." Laura merasa keberatan dengan ucapan Freya karena ia tidak mungkin melanggar perintah dari Alano, apalagi ini berhubungan dengan istrinya.


"Laura kamu juga keluar ya, saya mau istirahat, saya jamin Pak Al nggak akan berani marahin kamu."


Dengan terpaksa Laura dan Toni keluar dari ruangan Freya.


Usai berhasil mengusir mereka, Freya segera meraih ponselnya. Siapa lagi yang akan ia hubungi jika bukan suaminya sekaligus atasannya.


"Ada apa istriku sayang, baru juga ditinggal beberapa jam udah kangen aja," jawab Al dari seberang sana.


"Al kamu apa-apaan sih, ini namanya berlebihan."

__ADS_1


"Apanya yang berlebihan?"


"Kamu nggak perlu nyuruh Laura buat pijitin aku, dan juga Toni.. aku kan bisa beli makanan sendiri," protes Freya.


"Memangnya kenapa? Lagian kamu kan istri aku, mana mungkin aku ngebiarin kamu kecapekan. Harusnya kamu itu di rumah bukan kerja kaya sekarang."


"Justru aku seneng bisa kerja lagi, lagian aku juga bosen di rumah terus. Jangan bikin aku jadi istri yang manja deh."


"Selama manjanya cuma sama aku, apa salahnya, justru itu bagus untuk keharmonisan rumah tangga kita."


"Al udah deh, ini bukan waktunya buat becanda."


"Jangan dipikir serius, lagian kamu di kantor itu bukan kerja tapi bantuin aku. Semua orang juga tau kalau kamu itu istrinya bos, siapa yang berani iri sama kamu. Kalau ada, orang itu akan langsung aku pecat."


"Susah ngomong sama kamu, ya udah aku mau istirahat, bye."


"Tunggu tunggu!!" ujar Al dengan cepat.


"Apalagi?"


"Sayangnya mana?"


"Sayang apa sih?"


"Sun-nya. Masa gitu aja nggak tau."


"Al kamu kesambet setan mana sih, perasaan kemarin-kemarin kamu nggak kaya gini."


"Ya itu kan kemarin, emang salah kalau aku berubah jadi lebih romantis dan lebih sayang sama istriku."


"Tapi ini lebay Al."


"Jadi kamu maunya gimana, cuek lagi kaya dulu."


"Kalau tahan sih nggak papa," jawab Freya sambil tertawa cengengesan.


"Awas ya, kalau udah ketemu, aku nggak bakal lepasin kamu."


Freya hanya terkekeh sambil diam-diam mematikan sambungan teleponnya.


"Freya.. Freya..," panggil Al sebelum tahu jika Freya mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Dia berani matiin telepon gue. Cuma istri gue yang berani kaya gini," gumam Al heran sambil menggelengkan kepala.


BERSAMBUNG...


__ADS_2