My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Bukan aku, tapi dia


__ADS_3

Alano memilih menghabiskan waktunya dengan Justin di cafe tempat biasa mereka nongkrong. Bukan tanpa alasan, Alano hanya belum siap untuk bertemu dengan Freya setelah kejadian semalam. 


Alano masih mengingat jelas jika mereka hanya melakukan sebatas c*uman tidak lebih dari itu. Tapi tetap saja, Freya bukanlah siapa-siapa Alano dan itu cukup mengusik pikirannya. 


"Al kita mau sampai kapan ada disini. Ini udah jam 10, lo nggak mau pulang?" tegur Justin sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. 


Mereka sudah berjam-jam berada di cafe, dari matahari hampir tenggelam hingga sekarang mulai memasuki tengah malam. Jika Alano bukan sahabat sekaligus rekan kerjanya, Justin pasti sudah meninggalkannya. 


Sampai detik ini pun, Alano belum menceritakan apa-apa terkait keberadaannya di cafe ini selama berjam-jam. Jika tidak ada masalah,  seorang Alano tidak akan melakukan hal itu, dan Justin sangat paham itu. Namun karena Alano terus bungkam, Justin tidak bisa berbuat-buat apa-apa selain menemaninya. 


"Gue masih pengen disini?" 


"Iya tapi kenapa, Freya lagi?" tebak Justin. 


"Sepertinya gue udah ngelakuin kesalahan." 


"Kesalahan apa, makanya lo itu ngomong biar gue juga bisa kasih solusi. Kalau gini terus, mau sampai kapan kita ada disini. Sekalian aja lo tidur disini." 


"Mungkin," jawab Alano dengan nada pasrah seakan-akan ia bimbang akan jawabannya sendiri. 


"Maksud lo?"


"Mungkin gue akan tidur disini, gue akan sewa cafe ini untuk malam ini." 


"Lo gila ya Al, hotel banyak, apartemen punya, napa harus disini. Bener-bener gue nggak ngerti lagi sama jalan pikiran lo. Gue ngerti lo mabuk, tapi lo masih bisa mikir kan?" Kekesalan Justin sudah tidak bisa tertahan lagi. Apalagi saat melihat wajah kusut Alano, itu benar-benar bukan seperti Alano yang Justin kenal. 


"Gue nggak tau mau ngomong apa kalau sampai gue ketemu sama dia."


"Serah lo, ngomong aja sendiri. Gue mau pulang." 


Justin merasa tidak dianggap oleh Alano karena pria itu terus saja berbicara sendiri. Ia kemudian bangkit dari kursinya, lalu mulai berjalan meninggalkan Alano dalam kondisi mabuk.


Namun sebelum Justin menyalakan mesin mobilnya, ia menghubungi Freya dulu. Justin ingin agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, terlebih Alano juga tidak mau berbagi cerita dengannya. 


Cukup lama Justin menunggu Freya untuk mengangkat teleponnya, bahkan Justin sempat berpikir jika Freya sudah tidur. 


Tapi kemudian terdengar suara dari ponsel Justin, dan itu membuat hati Justin sedikit lega. 


"Freya, ini gue Justin temennya Al," ucap Justin. 


"Iya terus?" 

__ADS_1


"Lo bisa dateng ke cafe Alora sekarang, Al ada disini dan dia dalam keadaan mabuk."


"Kok bisa?" 


"Gue nggak tau masalahnya Al apa, tapi kayanya cuma lo yang bisa bawa dia pulang karena dia nggak mau gue ajak pulang."


"Tapi gue-"


"Dia bilang mau nginep di cafe, jadi gue minta tolong selesaiin masalah kalian."


"Toni kemana?"


"Toni tadi ijin katanya ibunya masuk UGD makanya Al sama gue."


Freya berdecak kesal, ia tidak tahu harus mengiyakan permintaan Justin atau justru menolaknya. Tapi mengingat kondisi Al, Freya mulai ragu untuk bersikap cuek pada Al. 


Dengan terpaksa Freya menyambar jaketnya lalu menuruni anak tangga untuk menemui Al. 


Kebetulan saat Freya akan keluar, ia berpapasan dengan Citra yang sedang memegang gelas, sepertinya wanita itu baru saja mengambil air minum. 


"Kamu mau kemana Frey, ini udah malem lo?" 


Freya hanya melirik sekilas lalu meninggalkan Citra begitu saja. 


Freya sudah tidak lagi memperdulikan penampilannya karena pikirannya hanya tertuju pada Alano. 


Saat Citra sedang memandang kepergian Freya, tiba-tiba Hartono muncul di belakangnya. 


"Itu Freya kan, dia mau kemana?" tanya Hartono. 


"Nggak tau mas, dia nggak bilang mau kemana." 


"Kelihatannya dia buru-buru, apa jangan-jangan Al sama Freya lagi berantem ya. Tumben banget kan Freya nginep disini."


"Apa kita tanya aja sama Al?" 


"Coba kamu hubungi dia?" 


Hartono mulai mencemaskan putrinya. Dulu saat Freya masih tinggal bersamanya, Hartono tidak pernah mengijinkan Freya keluar malam lebih dari jam 10, apapun alasannya. Sehingga sejak dulu Freya tidak pernah keluar malam. 


"Nggak diangkat mas," kata Citra usai menurunkan ponselnya dari telinga.

__ADS_1


Hartono merogoh saku celananya dan mulai menghubungi seseorang. Sialnya, kali ini juga tidak dijawab. 


"Freya juga nggak diangkat," ucap Hartono dengan raut wajah panik. 


"Terus gimana mas, aku takut terjadi sesuatu sama Freya." 


Hartono mengusap pundak istrinya untuk menenangkan nya. "Udah kamu tenang dulu. Lebih baik sekarang kita masuk. Besuk kita coba dateng ke rumahnya Al." 


***


Freya sudah tiba di parkiran Cafe Alora. Begitu mematikan mesin mobilnya, Freya langsung berlari masuk ke cafe itu. Wajahnya terlihat jelas jika Freya sangat mengkhawatirkan Alano. Tapi saat mata Freya mengangkat sesuatu, saat itu juga ia langsung menghentikan langkahnya. 


Senyumnya yang hampir mengembang tiba-tiba pudar berganti menjadi ekspresi terkejut dan penuh kekecewaan. 


Sekitar 5 meter dari tempat Freya berdiri, ia melihat Alano sudah bersandar nyaman di pundak Jasmine. 


Perlahan Freya melangkah ke belakang lalu bersembunyi di balik tembok. Freya berusaha menerima kenyataan ini, namun ia masih belum percaya atas apa yang baru saja ia lihat. 


Sekali lagi, Freya menyembulkan wajahnya untuk memastikan jika seseorang yang ada di samping Al benar-benar Jasmine. Dan ternyata memang itulah faktanya, Jasmine adalah orang pertama yang menjadi tempat bersandar Al. 


Freya melangkah keluar dengan putus asa. Ia masih tidak menyangka jika ia akan pergi sejauh ini hanya untuk mengkhawatirkan Al. 


"Apa yang perlu dicemaskan dari Al. Lihat sekarang, justru lo yang tampak menyedihkan Freya," ucap Freya dengan senyum getirnya. 


Freya kembali ke dalam mobilnya dan langsung meninggalkan cafe itu tanpa melirik Al sedikit pun.


Di dalam mobil, Freya menyalakan musik dengan sangat keras. Entah apa yang ia rasakan, namun melihat Al sedekat itu dengan Jasmine membuat hatinya seakan patah menjadi berkeping-keping. 


"Kapan lo bisa sadar akan posisi lo Freya. Stop ikut campur urusan Al. Lupakan semua itu jika kamu nggak mau berakhir seperti ini."


Sesekali Freya mengingat akan semua perjanjian yang ia buat dengan Al. Dan karena itu, harusnya Freya tidak pergi sekarang. Harusnya Freya membiarkan Alano melakukan apapun yang dia mau. Karena itu... itu bukan urusan Freya.


Tentu ada orang yang akan selalu ada di sisi Alano, dan itu bukan Freya. Tapi Jasmine.


...BERSAMBUNG......


Ada yang pernah ngerasain di posisi Freya?


Jangan galau ya, kalian nggak sendiri kok. Ada author yang siap menghibur kalian😊😀


Ditunggu like, komen dan vote-nya. Jangan lupa untuk masukkan novel ini ke daftar favorit kalian😍

__ADS_1


See you😘


__ADS_2