My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Hukuman untuk Freya


__ADS_3

Alano mengerjapkan matanya setelah tertidur cukup lama. Ia sedikit merasakan pusing di kepalanya namun ia tidak punya pilihan selain harus tetap bangun. Perlahan ia berjalan ke kamar mandi.


Alano meletakkan kedua tangannya di tepi wastafel usai membasuh wajahnya. Ia mencoba mengingat kejadian apa yang sudah ia lewatkan semalam, namun ia hanya sebatas mengingat jika dirinya sedang berada di cafe bersama Justin.


Tok.. Tok.. Tok..


"Kamu udah bangun Al?" tanya Freya dari balik pintu. "Aku udah bawain sarapan buat kamu."


Mendengar suara vokal istrinya, Al segera mengusap wajahnya dengan handuk sambil menyunggingkan senyumnya. Detik itu juga Al langsung membuka pintunya.


Melihat Freya sudah berdandan rapi membuat Al tidak tahan untuk tidak memeluknya. Pria itu langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Freya. Hal itu sedikit mengejutkan Freya pasalnya Al memeluknya dari belakang.


"Gimana tidur kamu, nyenyak?" tanya Freya sambil mengaduk segelas susu yang ia bawa.


"Berkat kamu," jawab Al dengan kekehan kecil sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Freya.


"Kamu pasti nggak inget semalem ada kejadian apa?" ujar Freya membuat Al langsung mengangkat wajahnya.


"Memang ada apa, apa aku membuat ulah?"


Freya membalikkan badannya sambil menyodorkan susu kepada Al.


"Tentu."


"Memang apa yang udah aku lakukan?" tanya Al usai menghabiskan susu pemberian Freya lalu menyerahkan kembali gelasnya pada istrinya.


"Aku harus bersusah payah membantu kamu untuk berjalan. Kamu bisa bayangin gimana susahnya orang sekecil ini memapah tubuh pria tegap dan berotot. Belum lagi kamu tiba-tiba muntah di baju aku. Tapi dari semua kekacauan itu, aku tau satu hal."


Al mengerutkan dahinya. "Apa?"


"Kamu pria paling bucin yang pernah aku temui," jawab Freya sambil tersenyum kecil.


"Please Frey, kasih tau aku. Jangan bikin aku penasaran."


"Yakin mau tau, nggak takut nanti malu. Aku percaya sih kalau ucapan orang mabuk adalah ucapan yang paling jujur."

__ADS_1


"Daripada dihantui rasa penasaran?"


"Baiklah. Jadi di sepanjang jalan yang kamu bicarakan cuma aku. Mungkin jika orang lain yang mendengar mereka akan mengira kamu gila, tapi dari kegilaan kamu aku percaya jika itu adalah hati kamu yang berbicara. Awalnya aku marah, aku datang dengan tujuan untuk menyeret kamu pulang. Tapi seketika aku luluh."


Al tertawa, "benarkah, lalu apa yang udah aku katakan?"


"Yakin kamu nggak ingat?"


Freya mengeluarkan ponselnya dan menyalakan sebuah rekaman.


"Freya, kamu tau kan betapa aku sangat mencintaimu."


"Freya aku nggak mau lagi liat kamu jalan sama pria itu, pengacara nggak jelas itu. Inget, kamu cuma milik aku!"


"Freya, betapa bahagianya aku saat kamu mau menikah denganku. Aku bersikap ketus, dan kadang suka marah-marah nggak jelas sama kamu, itu karena aku nggak bisa mengontrol perasaanku. Aku takut kamu akan menolakku. Tapi begitu aku melihat kamu dengan pria lain seketika itu juga aku ingin menghajar pria itu dan mengatakan jika kamu milikku. Tapi aku cuma seorang pengecut yang nggak berani untuk mengakuinya, hingga akhirnya perasaan itu semakin dalam dan membuat diri aku semakin tersiksa karena belum bisa bilang yang sejujurnya sama kamu."


"Freya aku mencintaimu, aku ingin kamu jadi milikku seutuhnya, aku ingin melihat wajahmu tiap kali aku tidur dan terbangun. Aku tidak ingin jauh darimu barang sedetik saja... Semua itu yang harusnya aku bilang sejak awal. Namun apapun itu akhirnya aku memiliki keberanian untuk mengatakannya."


"Freya..."


"Stop!!!" teriak Al untuk menghentikan rekaman suara yang diputar oleh Freya.


Wajah Al seketika merona dengan ekspresi bingung level tinggi. Dengan ekspresi seperti itu, Al bahkan terlihat seperti orang bodoh. Ia masih belum bisa percaya dengan semua itu. Tapi ia tau persis jika itu suaranya dan ia tidak punya alasan untuk mengelaknya.


"Yups!" Freya mendekat lalu mengalungkan tangannya di leher Al. "Dan aku cuma mau bilang, makasih udah mau jujur sama aku," bisik Freya di telinga Al, lalu ia terkekeh karena tak tahan melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Al.


Bukan hanya terkekeh, kini Freya sudah tertawa terbahak-bahak di depan wajah Al.


Tak tahan ditertawakan oleh istrinya, Al segera membungkam bibir Freya, ********** dengan kasar. Itu adalah hukuman karena Freya berani menertawakannya. Bukan hanya sekedar melahap bibir ceri istrinya. Tanpa ragu Al langsung menggendong Freya lalu menidurkannya di ranjang.


Al sama sekali tidak memberi kesempatan pada Freya untuk berbicara. Dan kali Al tidak akan menerima penolakan.


Pergulatan panas itu benar-benar menguras tenaga Freya. Masih dalam keadaan tubuhnya yang polos, Freya mendesah gusar. Dua jam sudah berlalu namun Freya sama sekali tidak berniat untuk beranjak dari kasur. Freya merasa jika tulang-tulangnya seakan sudah terlepas dari tubuhnya. 'Al benar-benar keterlaluan'


Tiba-tiba saja saat Freya ingin kembali memejamkan mata, ia mendengar suara dering ponsel. Suara itu rupanya berasal dari ponsel Alano. Melihat Al masih tertidur lelap, Freya tidak tega untuk membangunkan, jadi ia memutuskan untuk mengangkatnya. Lagipula itu telepon dari papa mertuanya.

__ADS_1


"Haloo pa."


"Freya? Al kemana, kenapa kamu yang angkat."


"Itu pa.. Mas Al masih tidur."


"Apa, tidur? Bisa-bisanya dia tertidur nyenyak setelah membuat kekacauan. Tolong bangunkan dia dan suruh dia ke kantor secepatnya."


"Ba-ik pa, Freya akan bangunkan Mas Al sekarang," jawab Freya dengan suara sedikit terbata.


Freya memang belum mengetahui masalah yang tengah menimpa Al, makanya ia terkejut saat papanya Al berbicara dengan nada kesal.


"Ada masalah apa di kantor sampai papa semarah itu?" gumam Freya.


Freya lalu melirik Al, sebenarnya ia tidak mau membangunkannya tapi ia juga tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Bagaimana pun Al harus mempertanggung jawabkan pekerjaannya.


"Al.. bangun. Papa barusan telepon dan dia minta kamu buat ke kantor sekarang."


Al melenguh pelan. "Sekarang jam berapa?"


"Udah jam sepuluh."


"Sepuluh?" gumam Al tanpa sadar, namun sedetik kemudian ia langsung membuka matanya. "Apa, sepuluh?" ulangnya terkejut.


Freya mengangguk.


"Siapa tadi yang telepon, papa. Benarkah itu papa?" tanya Al yang seketika langsung panik.


Freya menganggukkan kepalanya lagi. "Iya, dan sepertinya papa lagi marah besar."


Al menepuk kepalanya dan segera beranjak dari ranjangnya. "Ahh shitt! Kenapa gue bisa lupa."


Freya menyusul langkah Al, tentu ia tidak akan diam saja saat Al sedang dalam kesulitan. "Ada masalah apa Al?"


Al tidak menjawab, ia bahkan langsung menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras.

__ADS_1


"Apa yang udah terjadi. Apa Al udah membuat masalah besar, tapi apa? Apa itu juga yang membuat Al membatalkan honeymoon kita dan akhirnya mabuk seperti semalam?" gumam Freya dengan segala dugaannya. "Aku harus cari tau," lanjutnya sambil memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai.


BERSAMBUNG...


__ADS_2