My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Dag dig dug


__ADS_3

Freya tak henti-hentinya memikirkan tentang hubungan papanya dengan Tante Citra. Terkadang ketika hati Freya sudah diliputi rasa kesal dan kecewa, ia mengalihkan pikirannya dengan mengingat kenangan manisnya bersama sang mama. Tanpa Freya sadari, hal itu justru membuatnya tak tahan untuk meneteskan air mata.


 


 


Jelas Freya sangat merindukan mamanya. Tidak akan ada tempat sehangat yang pernah mamanya berikan, tapi bagaimanapun sang mama sudah berada di Surga, Freya tetap harus bisa merelakannya.


 


 


Disaat-saat seperti ini, dulu selalu ada Mesha yang berada di sisinya untuk menghiburnya. Tapi sekarang, kehidupannya sudah berbeda. Bukan lagi Mesha yang ada di sisinya tapi Alano. Meski demikian Freya tetap saja enggan untuk berbagi cerita dengan Alano karena ia cukup sadar tentang posisinya di rumah ini, yang tidak lebih hanya sebatas istri pura-pura.


 


 


Sejenak Freya merindukan Mesha. Ia akhirnya menghubungi sahabatnya itu, hanya ingin sedikit berbagi masalahnya. Namun kebetulan Mesha sedang melakukan sesi wawancara yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Sehingga setelah pekerjaannya selesai Mesha menyempatkan waktu untuk datang ke rumah Freya.


 


 


Saking khawatirnya, Mesha menghampiri Freya dengan terburu-buru. Bahkan Mesha sudah menerobos masuk dan mencari Freya ke segala penjuru ruangan meski bibi sudah melarangnya.


 


 


Bibi pun merasa sedikit kesal pada tingkah Mesha karena menurut bibi Mesha kurang memiliki etika dalam bertamu. Lagipula bibi juga belum pernah melihat Mesha sebelumnya sehingga ia masih sedikit tidak percaya jika Mesha adalah sahabat Freya.


 


 


"Non ini siapa, jangan masuk sembarangan gitu Non. Nanti Non bisa dimarahi sama Tuan."


 


 


Mesha mengabaikannya, ia justru sudah menaiki tangga karena setelah menyusuri lantai satu ia belum berhasil menemukan keberadaan Freya.


 


 


"Non turun dulu, biar saya yang panggilkan Non Freya."


 


 


"Saya ini sahabatnya Freya Bi, bukan orang lain, lagipula saya juga pernah kesini."


 


 


"Tapi Non…"


 


 


"Frey.. Lo dimana?" teriak Mesya untuk yang kesekian kalinya.


 


 


Akhirnya Mesha bisa bernapas lega setelah melihat Freya. Perlahan ia menghampiri sahabatnya itu yang tengah duduk termenung di depan balkon kamarnya.


 


 


"Frey lo ngakpapa kan?" tanya Mesha khawatir sambil menggenggam jemari Freya.


 


 


"Kapan lo dateng, kok gue nggak denger ya?" jawab Freya sambil menyunggingkan senyumnya.


 


 


"Barusan," jawab Mesha sambil menatap lekas wajah sahabatnya. "Ini soal bokap lo lagi?"


 


 


Freya mengangguk dengan wajah putus asa.


 


 


"Gue tau kalau lo nggak setuju bokap lo nikah lagi, tapi coba deh lo pikir lagi Frey.. Lo udah tinggal disini sama Al, dan lo juga udah punya kehidupan sendiri. Sedangkan bokap lo, dia sendiri Frey dan usianya juga nggak lagi muda. Dia pasti-"


 


 

__ADS_1


"Jadi lo juga mau nyalahin gue?" bentak Freya langsung.


 


 


"Bukan gitu Frey, tapi coba deh lo posisiin diri lo sebagai bokap lo. Kalau lo masih keberatan sama saran gue, lo coba dengerin kata-kata bokap lo. Selama ini lo nggak pernah tau kan isi hati bokap lo. Sekarang udah waktunya buat kalian ngomong dari hati ke hati. Percaya sama gue, apapun keputusannya nanti kalau kalian udah saling terbuka, aku yakin kalian bisa menerima keputusan akhirnya dengan ikhlas."


 


 


Mesha memeluk Freya ketika mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


 


 


"Jangan sampai keegoisan lo nyakitin banyak pihak terutama diri lo Frey. Gue yakin lo bisa."


 


 


Dan untuk yang kesekian kalinya Mesha berhasil menenangkan hati Freya meskipun ia belum bisa mengembalikan senyumannya. Tapi setidaknya Freya bisa memulai membuka hatinya untuk sang papa.


 


 


***


 


 


Esok harinya Freya berencana untuk menemui papanya sesuai saran dari Mesha. Kini ia sedang sibuk di dapur bersama Bi Irma untuk membuat semacam oleh-oleh yang akan ia bawa ke rumah papanya.


 


 


Freya begitu bersemangat, meski ia tidak bisa memasak tapi setidaknya ia bisa melihat prosesnya secara langsung. Lagipula kalau hanya untuk sekedar mengupas bawang atau memotong tomat ia juga bisa.


 


 


Alano celingukan mencari Freya ketika ia sudah duduk di meja makan. Biasanya setiap pagi istrinya itu selalu menemaninya sarapan, tapi tidak dengan kali ini.


 


 


Takut jika Freya sakit, Alano mencoba mencari Freya. Ia memulai dengan mencarinya di kamar, namun kamarnya ternyata kosong. Saat Alano melewati dapur, tiba-tiba hidungnya mencium aroma masakan yang begitu kuat sehingga ia memutuskan untuk berjalan ke arah dapur.


 


 


 


 


Usai mengangkat masakannya, Freya mencoba untuk memasukkan sebuah adonan ke dalam minyak. Namun karena kurang hati-hati, minyak tersebut justru melukai tangan Freya.


 


 


Secepat mungkin Alano segera menghampiri Freya lalu mengamati lukanya dengan penuh kecemasan.


 


 


Freya hanya bisa bengong melihat kemunculan Alano yang mendadak.


 


 


"Kamu itu kalau nggak bisa masak nggak usah sok-sokan mau masak. Kalau udah gini yang sakit siapa, kamu sendiri kan," omel Alano pada Freya.


 


 


"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Freya.


 


 


"Nggak usah banyak nanya," protes Alano. "Bibi kok malah bengong, cepet ambilin salep."


 


 


Melihat sikap kasar Alano pada bibi, Freya menepiskan tangannya. "Gue bisa obati sendiri, lagian lukanya juga nggak seberapa."


 


 


"Bibi cepetan," teriak Alano sambil kembali menarik tangan Freya lalu meniupnya.

__ADS_1


 


 


Melihat perhatian yang Alano tunjukkan, Freya tidak bisa berkata apa-apa. Ia memilih untuk diam dan mengikuti perintah dari Alano sebelum sisi iblis suaminya keluar.


 


 


"Ini Tuan." Bi Irma menyerahkan sebuah salep dengan wajah ketakutan. "Maafin saya Tuan, lain kali saya akan melarang Non Freya untuk memasak," sesalnya kemudian.


 


 


"Ini bukan salah kamu bi, lagian aku juga mau belajar masak."


 


 


"Tangan kamu itu nggak ada bakat buat kerja beginian. Orang cuma disuruh diem di rumah susah banget. Diluar sana banyak orang yang nggak seberuntung kamu, jadi kamu harus bersyukur," jelas Alano sambil mengoleskan salep yang ia pegang ke tangan Freya.


 


 


Freya bisa merasakan ketulusan Alano saat mengobati lukanya. Alano merawatnya dengan sabar dan penuh hati-hati, sangat berbanding terbalik dengan sikap dan kata-kata kasar yang selama ini pria itu tunjukkan padanya.


 


 


"Emang apa salahnya kalau kita mau mencoba sesuatu yang baru, toh nanti juga berguna buat diri gue sendiri."


 


 


"Ya salah kalau yang ada cuma nyakitin kamu. Ini belum apa-apa aja udah kaya gini, pertanda kalau lo itu dilarang masak."


 


 


"Siapa yang larang?" tanya Freya.


 


 


"Gue. Udah diem nggak usah banyak omong."


 


 


Alano meletakkan salepnya di atas meja usai mengobati luka bakar di tangan Freya. Tanpa berkata apa-apa, pria itu segera meninggalkan Freya tanpa menoleh sedikitpun.


 


 


"Dasar pria aneh," gumam Freya pelan sambil menyunggingkan senyumnya.


 


 


"Non ini biar bibi aja yang lanjutin, Non Freya istirahat aja ya," ucap Bi Irma.


 


 


Freya mengangguk masih dengan senyum manisnya.


 


 


Perasaan Bi Irma mengatakan jika Freya sedang terpesona dengan sikap dan perhatian yang diberikan Alano. Bahkan Bi Irma bisa menebak jika sebenarnya Freya tidak mendengarkan ucapannya dengan seksama, gadis itu hanya asal mengangguk karena mendengar suaranya.


 


 


"Anak muda jaman sekarang emang susah ditebak," gumam Bi Irma sambil melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


 


 


Sementara Freya masih senyum-senyum sendiri sambil mengamati lukanya.


 


 


 


 


BERSAMBUNG...


 

__ADS_1


 


__ADS_2