My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 20


__ADS_3

(Masih dalam restoran)


BUKKKKK!!!!!!


Sebuah pukulan kembali melayang pada wajah Han. Usai ditarik dari dalam resto.


"Weisss, santai bro. Lu kenapa sih. Hobi banget mukulin gua setiap kali bertemu." Han perlahan bangkit lalu tersenyum meledek.


"Eh, lu gak usah pura-pura bego deh. Lu ngelakuin apa sampai bikin Nat sedih, ha?" tanya laki-laki yang tentu saja itu adalah Panca, sepupu posesifku.


"Oh..., wanita ini. Jadi lu selingkuhin dia di depan mata dia, ha? Kurang ajar lu." Sebuah pukulan mendarat di pipinya.


Tanpa menunggu respon, Han berlari mencari keberadaanku.


~~


Hujan turun begitu deras. Panca semakin kewalahan mencariku. Akhirnya dia berteduh di sebuah halte dengan perasaan cemas.


Tak ingin menunggu lama, Panca menerobos hujan deras dengan mengendarai motornya. Dia mencariku dengan hati yang tidak tenang.


"Dimana wanita manja itu? Apa yang sebenarnya ke****t itu lakukan ke Nat, sampai Nat terlihat kecewa." batin Panca sambil mengusap wajahnya yang dipenuhi bintik-bintik hujan.


Hiks.... Hikss.... Hiksss....

__ADS_1


Samar-samar terdengar suara tangis ketika Panca sempat berhenti di sebuah taman dengan sekujur tubuh yang basah karena hujan.


Merasa telah melihatku, Panca segera menghampiriku yang duduk membelakanginya.


Panca menyentuh pundakku. Ketika aku berbalik, aku langsung memeluk erat tubuh Panca sambil menangis terisak. Sakung sedihnya, aku tak mempedulikan apakah sosok yang ada di belakangku adalah Panca atau orang lain. Untungnya dia adalah Panca.


Merasa sedikit bersalah, Panca menghelus rambutku dengan penuh kasih sayang.


~~


(Di rumah Panca)


"Sebenarnya ada apa sih Nat? Han ngelakuin apa ke kamu? Cerita Nat."


**


Dalam beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk melakukan perjalanan untuk menghilangkan pikiran dengan apa yang sudah terjadi.


Sedari pagi aku sudah mengemasi barang-barang lalu berpamitan. Tante dan om memang sudah mengerti tujuanku.


Aku melangkah meninggalkan rumah itu, sesekali menoleh kembali rumah itu.


~~

__ADS_1


Aku mulai merasa kesepian. Papa sudah pergi untuk selamanya, mama juga pergi dan belum kembali, sahabat-sahabatku bahkan tak lagi mengenalku dan..., orang yang aku cintai justru mengkhianatiku setelah sempat beberapa kali tidur bersama.


Dengan biaya hidup yang setiap bulannya mama kirimkan, aku memutuskan untuk tetap melakukan hobiku sambil dengan iseng mencari pekerjaan. Hanya sekedar untuk mengisi hari-hariku yang terasa hampa.


Sebagai seorang traveller, aku bisa tidak tinggal dalam rumah. Sehingga setelah pergi dari rumah Panca, aku hanya mengandalkan peralatan kemahku untuk bisa tetap beristirahat.


Seperti siang ini, aku berbaring di tepi pantai yang sebenarnya tak begitu kuketahui. Jujur saja, adanya masalah itu membuatku bahkan tidak tahu harus melakukan apa.


Aku mendirikan tenda kemah lalu berbsring hingga gelap mulai menampakkan diri.


Terselip banyak kerinduan, sepi dan..., aku merasa Tuhan sangat tidak adil padaku. Hidupku terasa sangat kosong, hampa dan kurasa tak ada gunanya lagi.


Aku tertidur dalam tenda itu. Angin menghembus lembut wajahku yang setengah keluar dari dalam tenda.


~~


Mataku perlahan kubuka dengan sedikit malas. Cahaya matahari pagi itu membuatku silau. Aku menelungkup, menghadap ke air laut yang bergsntian menepi.


"HOAAAM!" Aku bangkit dari berbaring lalu berjalan keluar dari tenda. Duduk di dekat air sambil dengan memainkannya. Menyiramkan percikan air ke sekelilingku.


Kesedihan beberapa hari lalu masih membekas jelas. Gairah hidup seakan hilang, membuatku merasa bahwa tak ada alasan untuk bertahan hidup.


***

__ADS_1


__ADS_2