My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 22~ HARI PERTAMA KERJA


__ADS_3

Tin tin tin!!!


Aku melangkah keluar dengan penampilan yang sedikit kasual. Mengenakan kemeja lengan panjang dan celana jeans kulot, sneaker dan tas selempang kecil.


Aku menghampiri sebuah mobil yang berhenti di depan rumah.


"Hai. Selamat pagi, pujaan hatiku." Jobes melempar senyum sambil membukakan pintu mobil untukku.


"Selamat pagi." balasku membalas senyumnya.


Mobil melaju dengan segera meninggalkan rumahku.


"Udah siap kan, ketemu calon papa mertua?"


"Hek eh. Dih.... Calon papa mertua apaan. Ngaco aja kamu. Udah ah fokus nyetir aja."


"Tegang amat. Santai aja kali Nat."


~~


(Setibanya di kantor)


"Pagi pa." Jobes merangkul seorang pria yang berdiri membelakangiku.


"Pagi Bes," jawabnya dengan suara berat.


"Ini loh pa, teman Jobes yang Jobes ceritain ke papa waktu itu." Jobes mengarahkan pandangan sang papa ke arahku.


Deg....


"Selamat pagi Pak." Aku menunduk menyapanya.


"Iya..., selamat pagi. Ayok duduk."


Aku duduk dengan malu-malu.

__ADS_1


Perbincanganpun dimulai. Segala kontrak dan sistem kerjanya didiskusikan bersama.


"Jadi bagaimana, apakah kamu bersedia kerja di perusahaan kami, dengan posisi sebagai pemandu wisata?" tanya Pak Jaya mencoba meyakinkan dirinya bahwa aku akan menerima tawaran itu.


"Yah tentu donk pa. Nat pasti mau. Ya kan Nat?" tanya Jobes dengan wajah berseri.


"Um.... Saya bersedia Pak Jaya. Saya terima tawaran kerjanya." Aku pun menjabat tangan Pak Jaya sebagai pemilik perusahaan itu.


"Baik lah, mulai besok, kamu sudah bisa masuk kerja. Jobes akan mengarahkanmu dalam bekerja nantinya."


Aku mengangguk mengerti. Ketika aku berjalan keliar, aku menemukan Jobes yang berbisik kepada papanya itu. Entah apa yang mereka bahas, aku tidak tahu.


~~


"Yok!" ajak Jobes menarik tanganku.


"Kemana?" tanyaku heran sambil mengiringi langkahnya.


"Udah, ikut aja."


"Aku senang deh, bisa serekan kerja sama kamu."


Aku hanya tersenyum menatap Jobes. Ada apa sekarang, batinku.


(Beberapa lama kemudian)


"Loh, kita ngapain di sini? Kamu mau belanja?" tanyaku sembari melihat-lihat sekeliling.


"Bukan aku, tapi kamu?" tegasnya.


"Ha? Sejak kapan aku bilang mau belanja, bocah tolil!" Aku menjitak pelan kepala Jobes.


"Ya ela Nat. Udah gede pun masih aja jitakin kepalaku."


"Idih.... Selow aja kali. Itu artinya aku sayang sama kamu, makanya dijitakin. Hehehehe."

__ADS_1


"Udah ah, ayok!" Jobes menarik paksa tanganku.


Dikarenakan dalam kondisi yang terpaksa, aku pun mengusili Jobes dengan memilih beberapa pakaian super mahal supaya nantinya dia tidak jadi membelinya. Hahaha (tertawa jahat).


"Ini semuanya?" tanyanya heran, entah karena kemahalan atau kemurahan.


"Iya," jawabku polos.


Jobes diam sejenak dengan ekpresi heran.


"Oke, bungkus ya mbak!" ujarnya kepada mbak-mbak kasir.


Tentu saja aku tersentak kaget. Dengan segera aku membatalkan pakaian itu lalu menggantinya dengan pakaian yang jauh lebih murah dari itu.


"Loh, kenapa diganti Nat?" Sepertinya Jobes mulai kesal.


"Ammmm..., a-aku kurang suka sama warnanya." Ucapku sambil cengar-cengir.


Pada akhirnya, aku berhasil membujuk jobes untuk membeli pakaian itu.


"Udah?" tanyanya.


"Udah kok. Yok!"


"Kamu memang gak pernah berubah ya, usil mulu."


"Siapa yang ajarin coba."


Jobes pun mencubit lembut ujung hidungku. Tentu saja itu membuatku sedikit kesal dan meneriakinya. Jobes berlari usai mengacak-acak rambutku dengan gelak tawanya yang seolah meledekku. Aku berusaha merapikan kembali rambutku yang diacaknya sambil mengejarnya.


**


Yuks! Jangan lupa tinggalun jejak, like, follow, komen dan vote ya.


🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2