
Waktunya menjadi seorang traveller lagi. Aku mengganti pakaianku dalam mobil ketika berhenti sejenak di depan sebuah air terjun dekat dengan jalan.
Tempat itu cukup ramai, namun aku tetap melanjutkan niatku untuk menikmati air terjun itu.
BYURRRRRRRRRR!!!
Aku menyebur ke dalam air. Airnya begitu dingin dan jernih. Benar-benar alami. Hembusan angin air terjun itu menambah hawa dingin. Aku menyelam, melihat ke dalam air. Wow, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.
Masih dengan pakaian yang basah, aku keluar dari air lalu berjalan ke arah turunnya air. Menikmati pijatan gratis dari alam. Air menimpa kepalaku dengan sangat lembut. Rasanya seperti dipijat. Benar-benar terasa menenangkan.
Aku memejamkan kedua mataku, menikmati setiap sentuhan air yang jatuh mengenai kepalaku. Merasakan hembusan angin dan percikan air.
~
~
~
Usai mengganti pakaian di kamar kecil tempat itu, aku pun kembali melajukan mobil, melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan, aku menguhungi Siska untuk mengutus beberapa pekerja ke lokasi.
Karena hendak melakukan perjalanan dan aku merasa membutuhkan teman, aku pun menghubungi Panca untuk ikut bersamaku. Aku pun mengirimkan pesan padanya.
"Pan, kamu sibuk gak?" tanyaku.
"Hey Nat. Gak juga sih. Kenapa?" balasnya.
Karena sedang menyetir, aku pun hanya mengirimkan dia voice note.
"Temanin aku jalan-jalan yok! Dua hari doang kok, janji."
__ADS_1
"Ha? Jalan-jalan? Di tengah kesibukan kerja?"
"Ya, ellah. Kita juga butuh refreshing Pan."
"Hm.... Yah udah deh. Kamu dimana sekarang?"
Aku pun mengirimkan lokasiku pada Panca via pesan.
~
~
Aku memutuskan untuk kembali ke lokasi pembuatan proyek.
Setibanya di sana, Astrid dan Taat sudah bersiap untuk pulang. Dengan segera, aku mencegah langkah mereka.
Setelah menjelaskan maksudku, akhirnya mereka setuju untuk bermalam di sana, berkemah. Lagipula, hari sudah mulai gelap.
Karena telah menyusun semua ini, tentu saja, aku sudah menyiapkan segalanya dengan matang. Aku membawa beberapa tenda dan peralatan lain untuk berkemah. Anggap saja memang niatan untuk berkemah.
Malam itu, membuatku membayangkan saat dimana aku dan sahabat-sahabatku dulu melewati malam bersama di pendakian waktu itu.
"Bu," lagi-lagi Taat membuatku kaget.
"Eh, Taat. Bikin kaget aja."
"Lagian, ibu malam malam begini asyik melamun aja."
"Ah, saya tidak melamun kok. Saya cuma teringat sesuatu aja."
"Ibu kangen ya, sama seseorang?" tanya Taat membuatku tercengang mendengarnya.
__ADS_1
"Saya tau kok bu. Ibu tidak perlu mengelak."
~
~
Malam itu, di luar tenda, di depan api unggun. Aku dan Taat duduk di atas sandal masing-masing. Sayangnya, malam itu Astrid sudah tidur karena merasa kurang enak badan.
"Oh ya, kamu saat ini tinggal dimana?" tanyaku pada Taat.
"Saya tinggal di sebuah rumah sewa bu."
"Kontrakan maksud kamu?" tanyaku tegas.
"Iya bu. Oh ya, kalau ibu? Ibu kan kaya, kenapa tidak membeli rumah baru aja bu?" tanya Taat polos.
"Uhm.... Aku hanya belum mendapatkan ide untuk itu. Aku tuh masih nimbang untuk beli rumah."
"Pasal kejadian waktu itu ya bu?"
"Ya.... Begitulah."
Taat mengangguk-angguk.
"Hm.... Taat, sebenarnya saya ingin kamu...." tiba-tiba perkataan ku terhenti ketika Taat menatapku dalam. Rasanya mulutku bungkam tiba-tiba.
Perlahan tangan Taat mendekati wajahku, tentu saja membuat jantungku berdebar tak menentu. Seolah sesuatu akan terjadi.
DEG!!
DEG!!
__ADS_1
DEG!!
**