My Last Kiss

My Last Kiss
Chapter 40 ~ Lowongan Kerja


__ADS_3

Aku duduk di ruanganku dengan kaki disilang, tubuh bersandar ke kursi, jari telunjuk menopang pipiku. Jujur saja aku masih teringat dan terbayang-bayang kejadian-kejadian yang telah menimpaku beberapa hari lalu. Dengan sedikit rasa cemas jika nanti kejadian buruk lain menyusul.


"Permisi bu," ucap Dila selaku sekretaris berdiri di depanku.


"Eh, kamu. Ya, ada apa?" tanyaku kaget dengan kehadirannya.


"Ini ada beberapa berkas yang harus ibu tanda tangani buk." Dila meletakkan berkas di mejaku dan membuka halaman yang harus ditanda tangani.


Aku pun segera menanda tangani berkas itu setelah membacanya, lalu menyerahkannya pada Dila.


"Buk, apa kah ibu baik-baik saja?" tanya Dila yang masih berdiri di depanku.


"Iya. Saya baik-baik saja kok." Aku menyunggingkan senyum kepadanya.


"Baiklah buk. Saya permisi dulu." Dila pun keluar dari ruanganku.


~


Beberapa lama kemudian, Siska selaku asisten pribadiku pun masuk ke ruanganku.


"Permisi buk. Ini berkas-berkas terkait proyek pembuatan tempat wisata yang beberapa hari lalu sudah di bahas dengan pemilik lahan, dan mereka setuju bu." Siska meletakkan berkas itu di hadapanku.


Aku pun memeriksanya.


"Baiklah. Tolong dengan segera buat pengumuman kalau perusahaan butuh tenaga pekerja untuk pembuatan proyek ini. Buat kualifikasi apa yang tepat yang perusahaan butuhkan. Kemudian tempel di papan pengumuman."


"Baik bu." Siska pun segera keluar.


Aku menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


Aku menghidupkan komputer lalu memperhatikan desain tempat wisata yang menjadi proyek besar perusahaan kami.


Dimana sebuah tempat wisata akan di bangun di sebuah daerah terpencil. Dengan harapan besar, tempat itu akan menjadi tempat yang menyenangkan di tempat itu dan dapat memberi keuntungan juga pada daerah itu.


~


~


Hari mulai gelap, kantor mulai sepi. Aku membereskan meja kerjaku lalu segera pulang.


Ketika aku berjalan di teras kantor, seorang pria menghentikan langkahku.

__ADS_1


"Permisi mbak. Mbak kerja di sini ya?" tanya pria yang mengenakan jaket jeansnya dengan tas ransel kencil di punggungnya.


Aku memperhatikannya dari sepatu sneakres yang dipakainya, celana jeans panjang hingga rambutnya yang pendek seperti anggota baru militer.


"Iya, ada yang bisa saya bantu." Aku sengaja berbohong padanya.


"Wah, salam kenal ya mbak. Nama saya Taat, mbak. Kalau mbak namanya siapa ya?" tanyanya sambil menggosok-gosok telapak tangannya dan cengar cengir.


"Nama saya Cintia." ucapku berbohong.


"Oh, ya. Salam kenal ya mbak Cintia." Dia mengulurkan tangannya.


Dengan ragu-ragu, aku pun menjabat tangannya.


"Oh ya, kira-kira besok kantor ini buka jam berapa ya? Saya mau melamar kerja sih, cuma tadi telat. Kantornya udah mau tutup."


"Kenapa bisa telat?" tanyaku.


"Ah, tadi ada sedikit masalah sih. Jadi sampai di sini udah telat."


"Besok datang saja jam delapan dengan pakaian lebih formal. Jika kau berpakaian seperti ini, bisa saya pastikan anda gugur."


"Oh ya, waduh. Untung saja saya telat. Kalau tidak saya pasti sudah gugur tadi. Betewe, terima kasih masukannya. Beruntung sekali bertemu mbak Cintia."


"Hey, mbal Cintia!" teriaknya hingga membuatku berhenti.


Aku berbalik, menoleh ke arahnya.


"Hati-hati di jalan ya mbak. Sampai jumpa besok." teriaknya sambil melambai.


Aku mengangguk lalu pergi.


~


~


( Taat)


Pria yang bernama Taat masih berdiri di depan kantor. Melihat-lihat ke dalam kantor. Kemudian dia duduk di lantai teras depan.


Seorang security mendekatinya lalu berbincang-bincang dengan pria itu.

__ADS_1


Beberapa lama kemudian pria itu pun pergi sambil melambai kepada si security dengan senyum lebarnya.


Dia berjalan menyusul motornya di parkiran lalu bukannya menghidupkan nya, dia malah mendorong motornya keluar lingkungan kantor.


"Waduh, udah malam lagi. Mau tinggal dimana. Mau balik ke rumah jauh banget. Mana motor mogok jam segini. Gimana ya," ucapnya sambil berjalan mendorong motornya.


Dia berhenti sebentar lalu meraih sesuatu dari kantongnya. Ternyata dia mengeluarkan dompetnya lalu membukanya.


"Yah ampun. Segini amat hidup aku. Duit sisa dua ribu. Dua ribu dapat apa ya?" tanyanya pada diri sendiri sambil memegang uang kertas dua ribu itu.


Dia kembali berjalan mencari tempat istirahat.


~


~


Aku tiba-tiba ingat kalau ponselku ketinggalan di meja kerjaku. Aku pun memutar balik mobilku menuju kantor.


Sayangnya setibanya di sana, aku segera masuk ke ruanganku lalu menemukan ponselku kemudian keluar dari kantor.


Aku melajukan mobilku dengan kencang.


BRAKKKKKK!!!


"Oh no!" aku mematikan mobil lalu keluar dari mobil karena telah menabrak sesuatu.


"Aduh, saya minta maaf." Aku membantu orang itu bangkit dan juga motornya.


"Aduh, sakit sedikit." Pria itu memeriksa sikunya yang lecet sedikit.


"Aduh maaf ya. Saya tidak sengaja."


Pria itu menoleh ke arahku.


"Loh, mbak Cintia?" ucapnya.


Ah, aku baru ingat dan mengenali wajah pria itu.


"Taat?" tanyaku.


"Waduh, aku minta maat banget nih Taat."

__ADS_1


"Iya mbak, gak pa pa."


**


__ADS_2