My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 52


__ADS_3

"Uhm.... Pantes. Memangnya mbak gak takut jadi perawan tu-a,"


"Hushhhhh." Aku mengibaskan tangan ke arah wajahnya.


"Memangnya kamu sudah punya?" tanyaku.


"Sudah mbak."


"Ha? Masa?" tanyaku tersentak.


"Iya mbak. Saya serius toh."


Aku hanya angguk-angguk.


"Belum mbak. Mana ada yang mau sama saya. Beberapa bulan lalu saya pengangguran. Di desa saya tidak ada yang mau sama orang pengangguran mbak. Hidup gak kejamin, itu sih kata mereka."


"Tapi yang kamu suka ada dong?" tanyaku.


"Masih belum berani mbak."


"Pernah pacaran sebelumnya?" tanyaku lagi.


"Pernah mbak, sekali. Hehehe," jawabnya cengengesan.


"Uhm.... Ya ya ya."


"Mbak pasti udah sering ya?"


"Uhm.... Gak ah. Apaan." Aku mencoba mengelak.


"Jadi, mas Panca itu bukan pacar mbak?"


"Gak. Dia itu sepupu jauh saya. Betewe, stop manggil mbak dong. Kita seumuran kok. Panggil Nat aja."


"Ops, iyaa mbak. Eeh..., Nat. Agak canggung ya."


"Bodo amat deh. Selama kita gak terhubung tentang kerjaan kantor, stop manggil mbak atau apalah, oke ya."


"Oke deh."


~

__ADS_1


~


~


Mobil berhenti di depan apartment. Herannya, motor sudah ada di sana. Itu artinya, Panca dan Astrid ada di dalam atau.... Panca sudah mengantar Astrid pulang.


Aku dan Taat pun berjalan masuk ke apartment.


"Hai?" ucap Panca tiba-tiba.


"Udah balik aja? Astrid mana?" tanyaku.


"Udah aku antar pulang."


"Owh. Semua baik-baik aja kan?" tanyaku.


"Iyalah. Maksudmu apa?" tanyanya kaget.


"Hahaha. Oke oke."


"Nat.... Aku balik yah. Ini kunci mobilnya."


"Oh iya. Makasih yah Taat."


Dia pun segera menghidupkan motornya lalu pergi.


~


~


"Jadi gimana tadi sama Astrid?" tanya sembari duduk di sebelah Panca yang tengah menonton siaran tv.


"Sayang banget Nat. Dia nya udah punya pacar."


"Uhm.... Kasihan banget ya. Hahahaha." Aku pun segera berjalan ke arah kamar.


(Panca)


"Dasar.... Orang kamu juga jomblo, sok sok an ngeledek orang." Panca mengumpat sendiri karena merasa kesal.


Tak beberapa lama, dia juga kembali ke kamar usai mematikan tv.

__ADS_1


~


~


Tok tok tok!!!


Aku terbangun ketika seseorang mengetuk pintu kamarku. Dengan rada malas, aku pun bangkit lalu membukakan pintu.


"Kenapa Pan?" tanyaku dengan matanya masih sukit terbuka.


Panca tiba-tiba saja mengusap wajahku dengab tangannya sehingga membuatku langsung melek.


"Paan sih Pan!" bentakku kesal.


"Masuk dulu." Pancapun menarik lenganku lalu duduk di atas kasur.


"Apaan? Ganggu orang tidur aja."


"yah elah.... Ini masih jam sepuluh putri tidur."


"Yah tapi kan aku ngantuk Panca."


"Bodo amat lah. Aku pengen ngobrol sama kamu Nat. Serius deh." Panca memperbaiki duduknya. Kini tubuhnya menghadap ke arahku.


"Nat, kita bukan saudara ataupun sepupu yang sesungguhnya, itu artinya.... Kita tidak ada larangan dong untuk saling suka."


"Waduh.... Ini nih kelamaan jomblo. Jangan ngaur deh Pan."


"Aku serius Nat."


"Gak deh Pan. Aku tuh udah anggap kamu sebagai sodara aku dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun."


"Tapi Nat. Kamu pikirin dulu deh."


"Udah ah, kamu balik ke kamar kamu. Aku mau tidue." Aku mendorong tubuh Panca untuk keluar.


PLAK!!!


Dengan segera, aku menutup pintu kamarku lalu kembali menikmati kasur empuk yang ada di depanku. Aku pun menghembaskan tubuhku ke atas kasur.


"Dasar laki-laki gila," umpatku tak menyangka kalau Panca akan berpikir begitu.

__ADS_1


***


__ADS_2