My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 51~ MAKAN MALAM


__ADS_3

(Di dalam sebuah restoran)


Aku dan sepupuku duduk di kursi tengah. Seorang pelayan menghampiri kami.


"Permisi, mbak dan mas mau pesan sekarang atau nanti?" tanyanya anggun.


"Nanti saja mbak," jawabku.


Panca terlihat seolah menunggu sesuatu. Matanya terus melihat ke arah pintu masuk.


Aku menepuk pundaknya,


"Lihatin siapa sih Pan?" tanya.


"Uhm.... Mana Nat? Kok gak ada?" tanyanya.


"Apaan?" tanyaku heran.


"Teman kantor kamu itu yang namanya, siapa itu?"


"Astrid?"


"Iya,"


Tak menunggu lama, Astrid dan Taat pun datang.


"Itu." Aku menunjuk ke arah mereka.


~


"Hallo bu Nat." Astrid duduk di kursi sebelah Panca.


"Hallo, bu." lanjut Taat.


"Hallo. Kita mesan makanan sekarang ya," ucapku.


(Makanan pun dipesan)


"Oh, ya. Ini Panca, teman aku."


Mendengar perkataanku, Taat dan Astrid saling menatap heran.


"Udah, santai aja. Kalau di luar urusan kantor gak usah manggil ibu."

__ADS_1


Taat dan Astrid pun hanya mengangguk paham dengan maksud perkataanku.


"Hallo mas Panca, saya Taat," ucap Taat. Merekapun berjabat tangan.


"Hallo. Panca."


"Astrid, mas," ucap Astrid bergilir.


Panca pun tersenyum lebar menatap Astrid hingga membuat Astrid malu.


Tatapannya tak berhenti begitu saja kepada Astrid.


"Itu tangan mau sampai kapan gitu terus?" tanyaku menyindir sepupuku yang kegatelan itu.


Ketika sadar, dia pun melepaskan tangannya. Tak henti di situ saja, dia melemparkam senyum nya lagi kepada Astrid.


(Beberapa lama kemudian, pesanan mendarat di meja kami)


"Mari makan," ucapku.


"Iya mbak, Nat," balas Taat dan Astrid.


Makan malam pun ditemani dengan obrolan-obrolan kecil di antara kami. Rasanya, waktu demi waktu, resto itu semakin banyak yang mendatangi.


~


~


"Kita langsung pulang atau gimana nih?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Aku sih terserah mbak sama masnya," jawab Taat.


"Yah udah, kita langsung pulang aja." Aku bangkit berdiri.


"Kalian bawa mobil gak?" tanya Panca tiba-tiba.


"Gak mas. Tadi kita naik motor aja sih," jawab Astrid.


"Yah udah, Nat sama Taat pulang aja dulu." ucap Panca menahan langkah kami.


"Trus Astrid?" tanyaku.


Panca hanya mengedip ke arahku, memberi isyarat bajwa dia ingin pergi bersama Astrid dulu sebelum pulang.

__ADS_1


"Yah udah. Kita pulang duluan." Aku dan Taat pun berjalan ke parkiran.


~


"Kamu bisa nyetir kan?" tanyaku pada Taat sembari melemparkan kunci mobil kepadanya.


"Bisa mbak."


Kami pun masuk ke dalam mobil dengan segera.


~


~


(Panca dan Astrid)


"Yok," ajak Panca.


"Oh ya, gak usah panggil mas ya. Panggil Panca aja." Panca meraih helm lalu menyodorkannya kepada Astrid.


"Oke deh."


Motor pun melaju dengan kecepatan sedang. Menyusuri sepanjang jalan yang terang karena lampu jalanan dan cahaya bintang di langit.


Sementara aku dan Taat masih dalam perjalanan pulang. Tepatnya di lampu merah.


Aku menurunkan jendela kaca mobil. Disebelah sana, aku melihat sepasang kekasih yang tengah menunggangi sebuah motor vespa berwarna putih. Wanita itu memeluk lelaki itu sambil bersandar di punggung kekasihnya.


"Romantis ya, mbak." Taat menoleh membuatku kaget dengan suaranya.


"Ah.... Iya." Dengab segera aku pun kembali menutup jendela kaca.


"Mbak Nat, sudah punya pacar?" tanyanya kembali membuatku kaget dan tersentak.


"Ah.... Mmm.... Aku sih, gak sempat mikirin itu sih. Banyak urusan kantor yang harus aku urus."


"Uhm.... Pantes. Memangnya mbak gak takut jadi perawan tu-a,"


"Hushhhhh." Aku mengibaskan tangan ke arah wajahnya.


"Memangnya kamu sudah punya?" tanyaku.


***

__ADS_1


Mana nih, supportnya.....


__ADS_2