
Ketika malam hari, aku kembali ke rumah. Betapa kagetnya aku melihat kobaran api menelan rumahku itu. Aku jatuh tersungkur tanpa mampu berkata apa-apa.
Aku masih menatap ke arah kobaran api itu. Untungnya tak ada rumah lain di sekitar sana karena disana memang sepi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Sepertinya rumah itu sengaja di bakar oleh orang lain dan itu sudah beberapa jam yang lalu dilakukan. Hingga yang tersisa hanya debu dan tiang-tiang besi yang masih berdiri.
Aku benar-benar tak tau apa yang harus ku lakukan. Aku juga tak tau siapa yang melakukan ini padaku dan mengapa melakukan semua ini.
Dengan langkah berat, aku berbalik dan berjalan menuju mobil dan melajukan mobil sekencang mungkin. Beruntung sekali karena saat itu aku tak berada di dalam rumah, hingga nyawaku terselamatkan.
Aku pun melajukam mobil ke arah apartment Panca.
TOK TOK TOK!!
Pintu dibukakan. Aku berdiri dengan lemas di depan pintu.
"Nat? Kok muka kamu hitam-hitam begini?" tanya Panca ketika melihat wajahku yang hitam-hitam akibat debu bakaran rumah tadi.
Tak sempat menjawab, aku pun terjatuh pingsan.
~
~
~
Nat masih berbaring di atas kasur. Dia masih belum sadarkan diri. Panca duduk di sebelahnya sambil membasuh wajah Nat.
*
Pagi harinya, aku terbangun. Tubuhku terasa lemas dan lagi-lagi bayangan kobaran api itu terlintas di pikiranku hingga membuat kepalaku terasa sakit.
Aku duduk perlahan sambil memegangi kepalaku yang masih pusing.
"Hai, kamu sudah sadar rupanya." Panca masuk dengan sebuah gelas di tangannya.
"Nih, diminum teh nya." Dia meletakkan segelas teh di atas meja dekat kasur.
"Thanks ya," jawabku pelan.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi semalam?" tanya Panca duduk di sebelahku.
"Rumahku kebakaran Pan," jawabku spontan, lalu meneguh teh.
"What!!!?? Kok bisa kebakaran sih Nat?" tanyanya kaget.
"Aku gak tau siapa pelakunya. Yang jelas ketika aku balik ke rumah, rumah sudah berantakan, trus ketika balik lagi semua sudah jadi abu." Aku mulai sedih menceritakannya karena kembali terbayang.
Panca menyentuh pundakku.
"Sabar ya Nat. Kamu bisa kok tinggal di sini selama yang kamu mau."
"Thanks ya."
Panca hanya mengangguk dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
__ADS_1
"Yah udah, kamu istirahat dulu ya. Aku ada kerjaan lagi nih, musti ke luar kota hari ini. Nanti malam aku balik lagi kok ke sini."
Panca berdiri lalu pergi.
~
~
"Nat, apakah semua baik-baik saja?" tanya Jobes dalam sebuah pesan.
Aku meraih ponselku lalu membalasnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya mengalami sedikit musibah sih."
"Ha? Musibah apa? Kok kamu gak bilang sama aku?"
"Hahaha, gak pa pa kok. Gak usah dipikirin."
"Aku ke rumah kamu ya sekarang."
"Jangan. Gak ada gunanya kamu datang. Nanti kamu hanya akan menemukan abu kalau ke rumahku."
"Abu, maksudnya gimana sih?"
"Semalam rumahku kebakaran."
"Ha? Seriusan Nat? Kamu gak becanda kan?"
"Aku serius."
"Di apartment sepupu aku."
"Aku ke sana ya, aku kwatir sama kamu. Kirim alamatnya dong."
"Gak usah deh. Sepupu aku lagi gak di rumah. Gak enal sama tuan rumahnya."
"Yah udah sih. Gimana kalau ketemu di luar aja. Bisa gak?"
"Yah udah, gak pa pa."
Aku pun mengirim alamat untuk tempat ketemuan kami.
Aku segera bersiap-siap untuk berangkat, meski kepalaku masih sedikit berat.
~
~
"Nat, kamu baik-baik aja kan?" tanya Jobes memeriksaku.
"Yah, aku baik-baik aja kok."
"Baguslah kalau begitu."
__ADS_1
Kami pun duduk di kursi sebuah kafe. Kemudian memesan beberapa makanan dan minuman.
"Kok bisa kebakaran sih Nat?" tanya Jobes dengan tatapan serius.
"Aku juga gak tau, apakah benar-benar sebuah kecelakaan atau disengaja. Ketika aku balik ke rumah, aku hanya menemukan api yang berkobaran di sana. Untungnya aku sedang di luar saat itu, jadi aku masih sempat selamat."
"Trus kamu gak melakukan laporan ke polisi untuk menyelidiki kejadian ini?"
Pesanan mendarat di meja kami.
"Gak ah. Aku udah relain semuanya. Lagian, aku gak mau memperbesarkan masalahnya." ucapku santai karena aku sudah benar-benar ikhlas. Di sisi lain aku merasa lega karena dengan begitu, siapapun orangnya dibalik kejadian itu pasti berpikir kalau aku sudah mati ditelan kobaran api, artinya tujuan busuknya berakhir begitu saja.
Kami pun menyantap makanan itu sambil masih berbincang-bincang.
~
~
"Kamu yang sabar ya Nat. Kalau kamu mau, kamu bisa kok tinggal di rumahku."
Aku membulatkan mataku.
"Udah beli rumah sendiri?" tanyaku tak menyangka.
"Iya Nat. Untuk masa depan kita berdua." Jobes tersenyum Ke-PD an.
"Mmmm. Iya iya. Sssserah deh!"
"Aku serius Nat."
"Oke oke. Aku pikir-pikir dulu ya."
~
~
~
Pertemuan kami berakhir ketika Jobes pamit kembali ke kantor.
Aku sendiri kembali ke apartment Panca dengan mengendarai mobilku.
Ceklek!
Aku membuka pintu kamar lalu langsung bersiap-siap untuk ke kantorku (bukan hotel ya).
Ketika kurasa kepalaku sudah baikan, dengan segera aku melajukan mobil menuju ke kantor.
~
~
Aku duduk di ruanganku dengan kaki disilang, bersandar ke kursi, jari telunjuk menopang pipiku. Jujur saja aku masih teringat dan terbayang-bayang kejadian-kejadian yang menimpaku beberapa hari lalu.
__ADS_1
**
Jangan lupa jejaknya sobat Readers๐๐๐