
Usai melakukan perjalanan, kami pun akhirnya pulang ke rumah. Rasanya cukup melelahkan bagiku, karena perjalanan ini bukan keinginanku, tapi apa boleh buat.
Aku berjalan langsung ke kamar ketika kami tiba di rumah. Berbaring sebentar lalu segera mandi karena hari mulai gelap.
~
~
Jhon dan Kezia tengah duduk di sofa. Kemudian Andri pulang dengan tubuh yang sedikit lemas.
"Andri. Kamu kelihatan capek," ucap Jhon ketika menoleh melihat Andri.
"Iya om. Lumayan lah."
"Emangnya kamu dari mana?" tanya Jhon lagi.
"Jalan-jalan tadi om sama teman Andri."
"Pantesan, tadi om sama yang lain udah nyariin, tapi kamunya gak ada. Oh, ya udah. Istirahat sana."
"Ah, iya om. Andri gak sempat bilang juga tadi."
Andri pun melanjutkan langkahnya ke kamar.
Setibanya di kamar, Andri menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
Pikiranmya teralihkan oleh kejadian di taman tadi bersama Nat dan Panca. Semakin dipikirkan, semakin dia jatuh cinta rasanya pada gadis tomboy itu. Hingga, malam itu menjadi malam paling panjang baginya.
Dia masih menghayal. Membayangkan wajah gadis pujaannya.
__ADS_1
"Jika kau tak bisa menerimaku saat ini, aku akan berusaha terus untuk mendapatkanmu Nat," ucapnya.
~
~
Usai mandi, aku rapi-rapi lalu berbaring di atas kasur sambil menatap ponselku. Sedang asyik dengan ponselku, aku tiba-tiba mengingat kembali kata-kata Andri.
Rasanya seperti hilang ingatan tentang aku dan diam Waktu dan jarak seolah menghapus kenangan rasa yang pernah ada antara kami berdua. Sepolos itukah rasa cintaku kepadanya, hingga diukir kembalipun tak lagi bisa.
Mungkin saja, perasaan itu terkikis oleh kehadiran orang lain selama Andri tidak ada. Atau, apakah perasaanku waktu itu muncul hanya karena kami sering bersama. Rasa nyaman yang diberikannya seolah hanya menitip cinta sementara.
Aku masih menghayal. Hayalanku menjalar ke mana-mana tanpa ujung dan tanpa tujuan yang pasti.
Tok tok tok!!!
Pintu dibukakan dari luar ketika aku memerintahkan orang itu segera masuk. Aku bangkit duduk melihat siapa yang datang.
"Pan?" tanyaku heran menolehnya lalu kembali menatap ponselku.
Panca masuk lalu berjalan menghampiriku sembari duduk di sampingku.
"Lagi ngapain sih, sibuk amat." Panca berusaha mengintip ponselku namun aku berhasil menghindar.
"Kepooooooo!" ucapku.
"Yeeeee. Gitu amat sama sodara sendiri."
"Idih, ngambek nih ceritanya?" tanyaku ketika melihatnya memalingkan wajah.
__ADS_1
"Yah gak lah."
"Nat..., ada yang ingin aku sampaikan sama kamu. Tapi gimana ya...," ucapnya ragu-ragu.
"Sebenarnya...-" ucapannya terhenti ketika aku langsung memotong.
"Sebenarnya kamu suka sama aku, tapi kita sepupuan...." potong ku.
Panca mendengus kesal lalu menatapku.
"Ya ampun.... Ge er banget sih Nat. Dengar, ciumanmu waktu itu gak akan pernah buat aku jatuh cinta sama cewek gak sopan kayak kamu."
"Hahhahaha. Canda bro. Lagian ngomong pakek diawali sebenarnya. Kayak playboy aja kamu yang mau nembak cewek." Aku kembali menertawakannya.
"Ngomongnya aja gitu. Padahal dalam hati...," ucapku.
"Gak ah. Aku berkata jujur Nat. Kalau pun kamu minta aku untuk jatuh cinta ke kamu, bisa sih tapi sebagai soodara, mau?" tanyanya usil..
"Ogah ah. Gak mau sodaraan sama kamu."
"Uhm.... Iya iya deh. Anggap aja gitu."
"Uhm. Lah iya kan."
"Ini serius Nat. Sebenarnya aku udah tau semua tentang kamu."
"Maksudnya gimana coba?" tanyaku mengalihkan perhatian ke Panca.
"Yah.... Tentang kamu yang bukan anak kandung tante kezia dan almarhum om."
__ADS_1
"Ha? Gimana gimana?" tanyaku heran.
*