My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 57


__ADS_3

Nat dan Panca masih beristirahat dalam mobil. Tiba-tiba, Panca merasa kebelet, dia pun bangun lalu keluar untuk mencari toilet sekitar sekaligus untuk membeli minuman dingin.


Sementara Nat, masih terlihat pulas menikmati tidur siangnya.


Tiba-tiba....


BRUKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!


PRAKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!


Terjadilah sebuah insiden yang luarbiasa. Sebuah truk menabrak mobil Nat hingga terbalik dan menimbulkan kerusakan parah.


Mendengar suara keras itu, Panca dan beberapa warga setempatpun langsung berlari ke TKP. Panca berusaha melihat apa yang tengah terjadi. Dengan terburu-buru, dia pun berlari ke arah TKP.


DEG!!!


DEG!!!


DEG!!!


Panca mulai mendekat ke arah mobil yang ditabrak. Dia segera mencari keberadaan wanita yang tadi bersamanya. Lelaki itu mencari-cari keberadaan Nat dengan perasaan cemas. Dia bersama warga lain membuka pintu mobil yang cukup sulit dibuka. Dengan sekuat tenaga, akhirnya pintu terbuka.


Kondisi mobil itu sudah tak lagi baik. Kaca-kacanya sudah pecah, lecet dan benar-benar rusak parah. Sementara truk yang menabrak, lepas dari perhatian warga sehingga truk dan supir truk dengan segera melarikan diri.


Ketika pintu mobil berhasil dibuka, betapa semakin cemasnya Panca ketika wanita yang dicarinya tak ditemukan dalam mobil.


Mobil mulai berasap, orang-orang disekitar sanapun segera menjauhkan diri dari TKP.


DUARRRRRRRRRRRRRR!!!!!!

__ADS_1


DUARRRRRRRRRR!!!


DUARRRRRRRRRRRR!!!


Mobilpun meledak.


"NAT!!!!!" teriak Panca yang tersungkur sembari menangis. Pikirannya dipenuhi dengan kekacauan, kesedihan mendalam, dan entahlah bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu.


Dia terus menangis dan menangis berteriak memanggil sepupunya itu.


Beberapa lama kemudian polisi datang untuk menyelidiki kasus di TKP itu.


Hati seorang Panca tentu saja begitu sakit dan teramat sakit dengan kejadian yang menimpa sepupunya itu. Tangis belum reda. Seorang polisi wanita pun membawanya ke tempat yang tenang.


~


~


~


Lelaki itu duduk tak berdaya di sofa dengan bayang-bayang kejadian yang baru saja menimpanya dan sahabatnya.


"Nat.... Maafin aku yang gak bisa nyelamatin kamu Nat. Aku benar-benar gak berguna. Maafin aku Nat. Aku bukan teman yang baik buat kamu Nat. Ini semua salahku Nat. AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!" teriaknya kemudian mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar dengan tangisan yang kembali meluap.


Rasanya tak sanggup menghadapi semua ini. Rasanya terlalu sakit.


Panca kembali terisak dengan tangis yang tak jua padam.


"Maafin aku Nattt!!!" teriaknya lagi dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


**


(BEBERAPA BULAN KEMUDIAN)


Berita meninggalnya Nat membuat keluarga angkatnya cukup terpuruk dalam kesedihan. Kezia dan keluarga barunya menyempatkan waktu untuk pulang ke Indonesia beberapa bulan lalu kemudian kembali lagi ke London. Hal itu tak membuat kesedihan Kezia, sang mama, berhenti.


Wanita matang itu kerap dilanda kesedihan setiap mengingat sang anak yang telah pergi.


Demikian dengan Panca. Dia masih sedikit trauma dan terbayang-bayang dengan kejadian beberapa bulan lalu. Kadangkala dia kembali menangis mengingat sepupunya itu, namun karena dukungan dari teman-temannya, diapun perlahan mulai merelakan kepergian sepupunya itu.


Disamping itu, untuk sementara, perusahaan milik Nat diurus oleh asisten kepercayaannya karena sebelumnya sudah dipercayakan kepada Siska untuk berjaga-jaga ketika Nat melakukan perjalanan panjang.


~


~


(Panca)


Tiba-tiba lelaki itu teringat sesuatu.


"Apa semua ini rencana laki-laki itu? Ini kah yang dia namakan rencana busuk yang ingin dia lakukan?" gumam Panca.


"Tidak, tapi bukankah dia mencintai Nat. Kenapa dia harus membunuhnya?" gumamnya lagi.


Selama itu, Panca sering kali melamun dan menghayal. Kadangkala, dia mencari tahu bagaimana kejadian itu bisa terjadi. Hingga detik itu pun, polisi belum juga memberikan penjelasan atas kasus itu. Seolah kasus itu ditutup begitu saja.


Panca terus berputar-putar dalam pemikirannya. Berusaha menemukan jawaban atas semua pertanyaannya.


**

__ADS_1


__ADS_2