
(Setahun telah berlalu)
Kini kehidupan Panca dan keluarga Kezia sudah membaik. Merelakan adalah cara terbaik meraih kebahagiaan yang baru bagi mereka.
Panca masih berada di tempat yang sama. Masih sendiri dan tinggal di apartment yang sama .Tidak ada yang berubah. Sementara Kezia dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Indonesia seiring dipindah tugaskan ke Indonesia. Mereka tinggal di rumah Jhon.
(Suatu ketika)
Saat jam makan siang, Panca memutuskan untuk makan di sebuah restoran, sendiri. Tempat dimana dia dan sepupunya pernah makan bersama di sana.
Tiba di sana, panca segera memesan makanan lalu mendapati meja di pojokan sana. Sambil menunggu, Panca disibukkan dengan ponselnya.
PRAKKKKKKK!!!!!!!
Seorang wanita tidak sengaja menyenggol siku meja tempat Panca, sehingga menimbulkan bunyi yang membuat Panca mengalihkan perhatian dari ponselnya. Dia menoleh ke arah wanita itu lalu langsung melongo, bagai melihat seorang bidadari cantik yang turun dari kayangan.
''Maaf maaf. Saya tidak sengaja.'' Wanita itu menunduk mengakui kesalahannya lalu mendongak menatap Panca.
''Ah..., tidak masalah.'' Panca hanya melempar senyum ramahnya.
Pertemuan mereka tak berhenti hanya sampai di situ. Akhirnya, untuk pertama kalinya Panca bisa makan siang bersama dengan seorang wanita cantik dan anggun. Makan siang saat itupun berlangsung dengan diselangi tawa dan perbincangan antara dua insan itu.
Rupanya seorang Panca berhasil membuat wanita itu terpikat oleh ketampanan Panca yang tidak jauh dari kata sempurna, meski sebelumnya tak seorang wanita pun pernah jatuh hati padanya.
Usai bertukaran nomor, makan siang pun berakhir. Panca sempat menawarkan kepada Indah, wanita yang bersamanya itu untuk diantar pulang, sayangnya Indah menolah karena harus kembali ke butiknya.
Pertemuan itu membuat Panca senyum-senyum sendiri melihat Indah berlalu.
''Rasanya gak sabar pengen ketemu lagi.'' Panca pun pergi dari resto itu lalu lkembali ke kantor.
~
__ADS_1
~
~
''Permisi pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak,'' ucap seorang pria yang tengah berdiri di depan Panca yang duduk di kursinya.
''Suruh masuk aja.''
Pria itu pun segera meminta tamu untuk masuk ke ruangan Panca.
Panca hanya memejamkan mata seolah tengah membayangkan sesuatu sambil tersenyum.
''Permisi pak,'' ucap seorang wanita yang sembari masuk ke dalam ruangan Panca.
Mendengar sapaan itu, Panca tersentak. Suara itu seperti tidak asing di telinganya. Diapun segera membuka matanya dengan harapan bahwa wanita itu adalah....
''Nat??????'' ucap Panca dengan semangat.
Sayangnya, harapan Panca hanya sebatas harapan. Wanita yang disebutnya Nat rupanya bukan dia.
''Maaf maaf. Saya salah orang. Oh ya, ada apa ya, ada yang bisa saya bantu?'' tanya Panca berusaha mengembalikan fokusnya.
"Saya ingin mengantarkan surat untuk bapak." Wanita itu menyerahkan sebuah surat kepada Panca.
Dengan penuh penasaran, Panca segera melihat sampul surat itu, tapi tak menemukan apapun di sana.
"Surat ini dari siapa?" tanyanya heran menoleh ke arah wanita itu.
"Mohon maaf pak, saya juga tidak tau dari mana. Saya menemukan surat itu dan saya lihat alamatnya ditujukan ke sini pak. Kalau begitu, saya permisi pak," ucap wanita itu lalu hendak berbalik.
"Tunggu!" halang Panca.
__ADS_1
"Anda yakin tidak mengetahui asal surat ini?" tanyanya lagi.
"Ya, pak. Saya tidak tau."
"Baiklah. Terima kasih sudah mengantarkannya kepad saya."
~
Panca pun segera membuka amplop surat itu dan meraih selembar surat dari dalam amplop lalu segera membacanya.
```` Panca sepupuku dan temanku. Jika kau sudah membaca suratku ini, itu artinya kau sudah mengerti siapa yang membuat surat ini. Aku hanya ingin menyampaikan ke kamu, untuk mengambil ahli perusahaanku selama aku tidak ada. Berkas-berkasnya ada di di dalam apartment kamu, Pan. Semuanya sudh aku urus. Tolong jadilah ahli waris perusahaanku, karena aku yakin, kamu bisa mengatasi semua ini dan hanya kamu yang bisa menyelamatkannya. Jangan tanyakan aku di mana, atau apa maksud semua ini. Cukup lakukan permintaanku ini, Pan. Semoga kamu bersedia. ```
Usai membaca surat itu, Panca pun mulai bertanya-tanya.
"Apa ini semua benar, mungkin kah Nat ternyata masih hidup, tapi tidak mungkin. Jelas-jelas waktu itu, dia tk terselamatkan dalam kejadian itu? Kalau memang dia sudah menuliskan surat ini jauh sebelum dia meninggal, kenapa suat ini terlihat masih bersih, dan tintanya jugamasih baru. Atau ada orang lain dibalik ini semua. Tunggu, bukankah dalam surat itu...," Panca segera bersiap-siap untuk pulang ke apartment.
Dengan penuh penasaran, Panca melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju apartmen.
~
~
Panca berlari-lari ke arah kamar yang pernah Nat tinggali. Dengan segera dia menbukalaci serta lemari dari kamar itu untuk mencari berkas-berkas yang dikatakan dalam surat itu. Setelah memeriksa beberapa laci dan lemari, akhirnya dia berhasil menemukan berkas-berkas itu dan kemudian segera memeriksa. Benar saja, di dalam berkas itu, suadah ada surat ahli waris kekuasaan atas perusahaan Nat atas nama Panca.
Panca masih tak perncaya dengan apa yang tengah terjadi. Kondisi itu membuatnya kembali percaya bahwa Nat masih hidup dan tidak ingin seorang pun mengetahui bahwa dia masih hidup hinga saat ini.
Panca menghela naps panajng, menoca mencrna semua yang terjadi dan berusah menyimpulkan akan semua kejadian itu.
"Aku akin, kamu masih hidup Nat. Aku sangat yakin. Aku bakal mencari tau semua ini. Aku akan melakukan permintaanmu."
***
__ADS_1