My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 23~Bertemu Lagi Dengan Cecei


__ADS_3

"Hmmm." Jobes berusaha mengingat-ngingat siapa gadis yang berdiri di hadapannya itu.


"Kak Jobes yakin gak kenal sama aku?" tanya gadis itu.


"Cecei, kak." lanjutnya lagi.


"Ah, iya.... Cecei. Maaf saya lupa." Jobes mengulurkan tangannya menjabat tangan Cecei dengan canggung.


Tentu saja, gadis bernama Cecei itu membalasnya. Mereka sempat berbincang sebentar.


Dari kejauhan, aku memperhatikan mereka. Tak beberapa lama, Cecei melangkah pergi namun sempat melihat ke arah dengan senyum ramahnya. Aku melambai.


"Oh sorry, agak lama." Jobes membukakan pintu mobil untukku.


"Yah, santai," balasku.


~~

__ADS_1


(Di kantor)


Aku duduk di dalam ruangan yang sama dengan Jobes. Hampir setiap hari, kami selalu bersama kecuali akhir pekan. Because, aku hanya ingin menghabiskan waktu sendiri. Apapun ajakannya, aku berusaha menolak terkecuali untuk sebuah pekerjaan.


Sejujurnya, aku tidak begitu berorientasi pada uang meski aku tahu, uang itu penting dan everyone need it.


Bagiku, kesenangan dan kenyaman itu jauh lebih penting dari uang. Aku melakukan beberapa pekerjaan bukan karena uang, tapi karena aku menyenanginya dan aku nyaman dengan itu.


Siang usai makan siang, aku memulai pekerjaan utamaku. Jobes menemaniku untuk memandu para wisatawan yang bersal dari luar negeri. Bersa dengan sebuah bus wisata, tentunya.


"Oke rekan-rekan, let's go!" Aku mulai memberikan arahan dalam bahasa Inggris tentunya agar mereka satu persatu masuk ke dalam bus.


Sebenarnya aku sedikit ragu dengan itu. Maksudku adalah dengan perjalanan yang sedang kami lalui. Masalahnya adalah, bus tidak mungkin melalui jalan potong kan, sementara akh, lebih menguasai jalan potong dibandingkan jalan yang besar. Syukurlah Jobes datang menemaniku. Aku hampir kehabisan cara, sejujurnya.


Persinggahan pertama kami adalah di Jam Gadang. Sebuah Jam besar dan tinggi berwarna putih. Uniknya, untuk angka empat di jam tersebut adalah angka empat romawi, dan mungkin tidak banyak dari mereka yang menyadari itu.


Sebagai pemandu, aku memandu mereka. Memberikan bantuan untuk memotret mereka lalu menjelaskan beberapa hal tentang Jam Gadang tersebut.

__ADS_1


Yah..., meski tidak sesempurna yang diharapkan. Untungnya mereka bisa mengerti apa yang aku coba jelaskan. Mereka mengangguk ketika aku berbicara, apakah karena mereka memang mengerti atau tidak sama sekali, i don't know.


Aku pikir, wisatawan luar negeri adalah orang-orang yang dingin dan cuek, tapi lihatlah bagaimana mereka bahkan sempat menanyakan tentangku daan seolah mereka memberikan aku perhatian.


Actually, mereka bukan wisatawan yang berusia lansia atau sejenisnya. Mereka pemuda-pemudi yang sangat tertarik dengan daerah-daerah pedalaman dan. sejenisnya.


Sangat berbeda tentunya dengan kebanyakan orang yang tertarik dengan negara-negara besar yang maju.


Setelah beberapa lama melakukan perjalanan, para wisatawan meminta untuk menikmati makan siang di sebuah resto. Aku lupa namanya tapi, itu letaknya tidak begitu jauh dari Lapangan Kantin.


"Wowo, di sini makanannya sangat enak sekali (bahahsa Inggris)." Seorang pria bermata sipit memuji beberapa makanan yang tengah dia cicipi.


"Yah. Enak sekali." seorang wanita berambut pirang mengacungkan jempolnya.


Diikuti oleh yang lainnya, tentunya. Mereka terlihat ramah bahkan dengan beberapa pelayan yang menghidangkan makanan lainnya.


"Mari dinikmati makan siangnya." Aku tersenyum menatap mereka satu persatu yang tengah menikmati hidangan.

__ADS_1


**


__ADS_2