My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 42


__ADS_3

(Setelah penyeleksian pekerja baru, Astrid dan Taat)


"Sis, tolong sampaikan pada Taat dan Astrid untuk segera menemui saya," ucapku kepada Siska.


"Baik bu." Siska pun keluar dari ruangan ku.


(Beberapa lama kemudian)


TOK TOK TOK!!


"Silakan masuk!" ucapku yang masih memandang ke arah jendela.


"Permisi bu." Taat masuk ke dalam ruanganku diikuti oleh Astrid.


"Yah, silakan duduk." Aku berbalik.


Melihat aku yang duduk di sana sebagai pemilik perusahaan tentu saja membuat Taat tidak menyangkah akan hal itu. Dia masih melongo seperti orang tolol dan masih terpaku melihatku.


"Mohon maaf bu, soal kejadian kemaren. Saya benar-benar tidak tau kalau mbak Cintia adalah Ibu."


"Perkenalkan. Nama saya Natasia Nouban. Soal kemaren itu, lupakan saja. Saya juga tidak menganggapnya serius."


"Wah, ibu memang dermawan sekali. Terima kasih bu."


"Oke. Kita bahas tentang proyek langsung ya. Saya mau kamu dan Astid, kalian yang bertanggung jawab yang bergerak dibidang ini untuk segera turun lapangan. Desainnya sudah di serahkan oleh Siska. Tolong koordinasi saja dengan dia."


"Baik bu. Siap laksanakan." Jawab Taat dan Astrid bersamaan.


"Oke, silakan keluar."


"Baik, terima kasih bu. Permisi."


Dengan terburu-buru, aku merapikan mejaku lalu mengemasi barang-barang usai beberapa menit Taat dan Astrid keluar.

__ADS_1


Aku berjalan di koridor melewati pekerja lain.


~


(Taat dan Astrid)


"Taat, kalau boleh tau, emang kamu buat salah apa sama ibu, kok minta maaf soal kemaren?" tanya Astrid pada Taat yang tengah duduk di kursi ruangan mereka sambil memperhatikan desain proyek.


Taat pun menceritakan kejadian beberapa hari lalu.


~


~


(Dalam perjalanan pulang)


DRTTTT.... DRTTTTT.... DRRRTTTT....


Aku meraih ponselku yang sedari tadi berdering lalu menjawab telpon dari mama.


"Hallo sayang. Kamu jadi kan datang besok? Mama akan minta tolong sama kawan mama buat jemputin kamu ya."


"Ya ma." ucapku lemas.


"Yah sudah. Kalau sudah sampai, kamu kabari mama ya sayang."


"Ya ma. Mama tenang aja. Aku pasti kabari kok."


(Panggilan berakhir)


~


~

__ADS_1


Aku keluar dari mobil ketika mobil kuparkir di garasi apartment Panca.


Panca membuka pintu, "Hai, udah pulang aja? Tumben cepat."


"Uhm, iya." Aku duduk di sofa. Disusul oleh Panca yang sedang memegangi gelas kopinya.


Bekul sempat dia menyeruput kopinya, aku langsung menyambarnya dari tangannya.


"Hm.... Kebiasaan deh Nat. Itu kopi aku loh." Panca memasang wajah kesal.


"Uhmmmm. Iya. Ntar aku buatin lagi ya." Aku menghabiskan kopi dalam gelas itu.


"Benaran ya, buatin," ucapnya percaya.


"Mmm." Karena cuma ngerjain dia aku pun langsung berlari ke kamar.


"Buat aja sendiri!!!" Aku menutup pintu kamar.


Panca hanya menghela napas kesal karena ulahku. Tentu saja itu sudah biasa dia terima dariku.


**


(Malam hari di meja makan)


"Nat, teman kamu kemana? Kok gak balik?" tanya Panca sambil mengunyah nasinya.


"Mmm, gak tau tuh. Dia kayaknya udah punya penginapan deh. Soalnya dia kan udah diterima kerja di kantor. Udah dapat gaji permbukaannya nya."


"Ah, masa sih? Seriusan? Kok bisa keterima? Jangan jangan.... Kamu suka ya sama dia, cieeeee...." Panca berusaha menggodaku dengan tuduhan palsunya itu.


"Apaan sih. Aku gak mungkin nerima dia kalau dia gak ada keahlian. Tadi ada Taat sama Astrid juga kok."


"Uhm, iyain aja deh. Biar kamu senang."

__ADS_1


**


__ADS_2