My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 34~ KEBENARAN YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

Semua menjadi diam dengan seribu bahasa. Kami benar-benar sudah keliru karena berpikir bahwa Auna menyukai Bagus, sama seperti Bagus menyukainya.


Betapa dalam terluka hati Bagus mengetahui kebenaran bahwa wanita yang dia cintai ternyata mencintai pria lain.


~


~


Setelah mengetahui kebenarannya, tiba-tiba Bagus bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan kami.


Mata tertuju pada Bagus yang berjalan dengan langkah yang cepat.


Aku menyusulnya, berusaha mengejarnya dan membujuknya. Sayangnya, Bagus tak mempedulikan panggilanku. Dia terus berjalan.


Yang lain masih duduk terpaku. Jobes yang sudah mengetahui kenyataannya, hanya diam dan ragu untuk berbicara. Karena dia sendiri tidak tau apa yang harus dia katakan untuk semua ini.


Auna merasa bingung. Ada apa, mengapa Bagus tiba-tiba pergi?


Bidadari dan Vinsen yang mengerti apa yang tengah dirasakan Bagus pun hanya bisa bersikap seolah tak ada sesuatu yang terjadi dan semua baik-baik saja.


Permainan tetap berlanjut. Botol mulai diputar lagi. Meski suasana awal menegangkan, namun yang lain berusaha membuyarkan ketegangan yang ada.


(Bagus dan Aku)


Bagus berdiri menghadap ke bawah. Aku bisa mendengar dengusan napasnya yang merasa kecewa. Aku bisa merasakan bahwa saat ini dia benar-benar sakit.


Aku mencoba mendekatinya dan menepuk pundaknya. Dia tidak menoleh.


"Ternyata begini ya rasanya kalau cinta tak terbalas," ucapnya.


"Aku kira dia juga serasa sama aku. Aku aja kali yang mengharapkan lebih. Gak tau diri banget." Bagus memukul pohon yang ada di sampingnya.


Aku mengelus pundaknya, berusaha membuatnya tenang.


"Gus, aku gak tau harus bilang apa ke kamu atas semua ini. Aku cuma mau saranin aja. Seenggaknya kamu utarakan juga perasaan kamu ke dia. Biar dia tau dan semua menjadi jelas. Yah..., itu bisa membuat kamu sedikit lega."


Bagus masih terdiam menatap ke bawah.


"Aku pikir, dia sama sekali tak pernah menaruh rasa ke aku. Mungkin lebih baik aku ikhlaskan saja. Membiarkan cintanya berlabuh dihati orang lain." Dia menghela napas dalam-dalam lalu menghembusnya dengar kasar.

__ADS_1


Akhirnya dia menoleh ke arahku, aku mengangguk lalu dia tersenyum meski masih terpaksa.


Ketika dia merasa tenang, kami pun kembali ke perkemahan.


~


Setibanya di sana, anak-anak yang lain sudah tidur karena memang hari mulai larut.


Malam itu, cahaya bulan membuat tempat itu cukup terang.


Bagus ke kembali ke tendanya. Sedangkan aku, aku juga masuk ke dalam tenda. Aku berusaha tidur namun, mataku belum ingin terpejam.


Aku membuka pintu tenda lalu mengaitkannya di sisi tonggaknya hingga layar tenda terbuka dan aku bisa menatap langit dengan bebas.


Aku berbaring dengan tangan yang menjadi bantalku. Kaki kiriku menekuk dan pandanganku masih terarah ke langit. Dengan berbagai pikiran di otakku.


Aku sempat mengingat-ingat momen-momen saat bersama dengan sahabat-sahabatku dan mencoba mengingat tentang Auna yang diam-diam menyukai Jobes.


Kemudian aku teringat akan sesuatu.


~


~


~


Jobes adalah siswa pindahan dari sekolah lain. Dia pindah ke sekolah kami ketika dua minggu pembelajaran awal masuk SMA (kelas sepuluh) di mulai.


Dia pindah karena orangtuanya pindah ke perusahaan cabang di daerah itu. Kebetulan mamanya juga pindah dinas di sana.


Aku, Bidadari dan Bagus sekelas waktu itu. Setelah beberapa lama, karena Jobes duduk di samping Bagus, sejak saat itu kami menjadi akrab dan menjadi sahabat hingga saat ini.


Ketika kami pergi hangout bersama, Jobes dan Auna selalu berboncengan, satu motor. Sedangkan aku bersama Bidadari dan Bagus selalu sendiri.


Suatu ketika Auna berboncengan dengan Bagus, ketika Jobes tidak bisa ikut bersama kami. Saat itulah, Bagus jatuh cinta kepada Auna secara diam-diam.


Saat tidak ada Jobes, Auna terlihat sedikit murung. Berbeda jika Jobes ikut, Auna menjadi sangat ceria dan bersemangat. Dia selalu ingin duduk di dekat Jobes, sayangnya Jobes tak menggubris situasi itu.


Auna berusaha mencuri perhatian Jobes sayangnya, Jobes hanya menganggap semua itu biasa. Baginya Auna adalah sahabat yang baik dan menyenangkan.

__ADS_1


Akhirnya masa SMA berakhir. Waktu itu aku dan yang lainnya bingung harus memilih kuliah di kampus mana dan jurusan mana. Tak ada yang menduga, ternyata kami kembali dipertemukan di kampus dan kelas yang sama.


Beberapa bulan berlalu, ketika kami pergi ke pantai, berfoto untuk mengikuti kompetisi. Saat itu, Jobes merangkulku. Auna berdiri sebelah Jobes dan tangannya menggenggam tangan Jobes. Aku sempat melihatnya ketika melihat ke bawah dengan tidak sengaja.


**


(Kembali ke masa sekarang)


Dari masa-masa itu, aku baru sadar. Bagaimana Auna secara diam-diam menyukai sahabatku itu.


Aku sempat membayangkan, jika saat itu aku merespon perasaan Jobes, mungkin momen saat ini tak kan pernah terjadi antara kami. Persahabatan kami menjadi hancur dan kacau.


"Hey!" Tiba-tiba Vinsen menyenggol kakiku. Aku pun kaget dan lamunanku buyar seketika.


"Hey, beb." Aku masih berbaring.


"Kenapa belum tidur?" tanya Vinsen yang ikut berbaring.


"Belum ngantuk." Aku menurunkan tanganku.


"Oh ya, Bagus gimana?" tanyanya yang memandang ke langit.


"Udah balik ke tenda. Kayaknya dia udah baik-baik aja kok." Aku tersenyum melirik Vinsen.


"Baguslah kalau begitu." Vinsen menatapku. Tubuhnya miring, menghadap ke arahku.


Tanpa ragu-ragu, dia mengecup pipiku.


CUP!


Vinsen lanjut mengecup bibirku. Sadar bahwa tenda terbuka, Vinsen segera menurunkan resleting tenda hingga tertutup.


Kini, Vinsen berada di atasku. Mulai menyentuh wajahku dan mendaratkan kecupannya di bibirku.


"Hey, kamu mau ngapain?" tanyaku mencoba membuatnya sadar bahwa saat ini, kami sedang ada di hutan.


"Aku ingin menerkammu. Hahaha. Yah gak lah sayang. Aku ingin tidur bersamamu saja malam ini." Jobes kembali berbaring di sampingku.


"Yah sudah kalau begitu, mari kita tidur. Sudah malam" Aku menarik selimut lalu tidur.

__ADS_1


Vinsen meletakkan tangannya di atasku hingga perutmu terasa keberatan. Beberapa lama kemudian, kami tertidur.


***


__ADS_2