
Beberapa tahun kemudian)
Readers : cepet banget thoor?
Author : Hihihi, biiarin.😁😁
Mama sudah kembali ke luar negeri dan memutuskan untuk tinggal di sana. Aku sendiri, aku akhirnya memiliki rumah sendiri setelah beberapa lama bekerja di perusahaan pak Jaya.
readers : Bagaimana dengan rumah yang itu, thor?
Author : Rumah itu akhirnya dijual oleh Kezia, mamanya Nat karena dia tak lagi berencana tingal di Indonesia, bosan katanya. Hehehe.
Readers : Kak Siti ke mana?
Author : Kak Siti pulang kampung.😋
**
Yapz, aku tinggal sendiri di rumah baru ku. Lokasinya di pinggiran kota, dekat dengan pantai dan perbukitan kecil. Aku tak lagi menjadi pegawai perusahaan Jaya. Kini aku membuka bisnis sendiri. Bisnis yang berjalan di bidang pariwisata. Mungkin semua yang kudapat terlihat instan. Tapi, cerita author saja yang terlalu singkat. Yang pasti, semua yang kudapat saat ini melalui berbagai proses yang menyakitkan.
Untuk merayakannya, aku bersama sahabat-sahabatku melakukan perjalanan pendakian di sebuah gunung. Awalnya mereka menolak, namun karena aku memaksa, akhirnya mereka sepakat untuk ikut.
Sepagi mungkin, kami sudah bersiap-siap. Ada aku, Jobes, Bidadari, Una dan Bagus, dan tak lupa, kekasihku Vinsen.
__ADS_1
Dengan menggunakan mobil milik Vinsen dan Jobes, kami pun melaju memulai perjalanan.
Tentu saja, aku semobil dengan kekasihku itu dan duduk di kurso depan bersamanya. Wajar jika yang lain merasa iri melihat kami.
Perjalanan cukup jauh. Sebab lokasinya bukan di perkotaan, melainkkan di daerah pedalaman. Dan berdasarkan penelusuran di google, tempat itu belum banyak yang mengunjunginya.
"Bakal jadi perjalanan panjang nih guys," ucap Bidadari.
"Iya nih, enakan yang sama doi." sindir Bagus.
"Makanya, buruan jadian sama Auna, Gus. Ntar di ambil orang, baru tau rasa kan. Hahaha." Aku menoleh ke belakang melihat Bagus.
"Ya ela Nat. Pada tau dari mana sih. Aku jadi malu deh." Bagus merasa heran.
Bagus menunduk malu.
"Iya guys, waktu tamat kuliah waktu itu, aku bermaksud ngelamar langsung sih, cuman...,"
"Kenapa Gus?" tanya Vinsen mulai penasaran menyambar obrolan kami.
"Orang dianya dekat sama cowok lain. Aku sih mikir, asal dia bahagia, ya udah lah." Bagus tersenyum pasrah.
"Yah ela bro. Belum tentu dianya mau sama tuh cowok kan. Buktinya sampai sekarang, dia belum ada yang punya." Vinsen menyempatkan melirik Bagus dari kaca spion mobil.
__ADS_1
Bagus terdiam sejenak lalu mulai menganggukkan kepala.
"Aku ngerti sekarang."
(Beberapa lama kemudian)
Hari sudah sore. Kami berhenti di gerbang memuju pendakian.
"Guys, kayaknya kita gak bisa langsung mendaki sekarang deh. Soalnya udah mullai gelap. Ntar terjadi sesuatu, bahaya." Vinsen mulai mengeluarkan karpet kecil untuk berkumpul sebentar.
Anak-anak yang lain keluar dari mobil berkumpul di tempat yang di siapkan oleh Vinsen.
"Gini deh. Kita diriin tenda di sini dulu. Besok pagi baru lanjut mendaki. Setuju kan?"
"Oke guys, setuju."
Aku dan yang lain mulai mengeluarkan barang-barang. Kami mulai mendirikam tenda masing-masing. Dikarena tempat itu tidak cukup luas, jadi, aku, Auna dan Bidadari satu tenda, Vinsen bersama Bagus dan Jobes.
Sama seperti para pendaki lainnya, kami mulai menyalakan api dan memasak mie instan. Hanya untuk menu malam itu.
**
MAAF, YA
__ADS_1
author cuma up sedikit.🤗🤗🤗