
(Di rumah sakit)
"Kok bisa kebakaran sih Pan. Emang kamu ngapain?" tanya Indah.
Panca termenung sejenak memikirkan apa yang telah dia lakukan.
"Aku juga gak tau, kenapa bisa ada api. Seingatku, pulang dari bengkelnya Alex, aku langsung pulang ke rumah dan tidur di sofa ruang tamu. Waktu aku bangun, aku lihat api dimana-mana."
"Ini kok mencurigakan ya," ucap Indah mencoba ikut mencerna semuanya.
"Uhmmmm.... Aku jadi ingat sama kejadian yang pernah terjadi sama Nat. Waktu itu rumah yang baru dia beli juga mengalami kebakaran."
"Tunggu, apa kamu pernah punya masalah sama orang? Atau masalah bisnis sama klien kamu?" tanya Indah seolah menginterogasi lelaki malang itu.
"Aku tidak yakin karena itu. Aku rasa urusan bisnis tidak ada masalah kok."
"Kalau begitu, aku curiga kalau...,"
"Kalau apa, Ndah?" tanya Panca ingin tahu.
"Aku curiga kalau..., kalau ada orang di balik semua kejadian ini, dan bisa saja, orang itu adalah orang yang sama dengan kejadian yang terjadi pada sepupumu itu Pan."
Panca mulai memikirkan perkataan Indah. Berusaha mengaitkan setiap kejadian yang pernah terjadi sebelumnya.
"Tapi..., Apa hubungannya coba. Kalau memang orang dibalik kejadian ini punya masalah sama Nat, trus apa hubungannya samaku?" tanya Panca mulai bingung.
"Karena kamu sepupunya dan kalian dekat," jawab Indah dengan tegas.
"Lalu? Masalahnya dimana coba?" tanya Panca semakin bingung.
Malam kian larut, mereka terus dihantui pikiran-pikiran yang mengganggu. Berusaha mencari tahu, apa, mengapa, siapa, dan bagaimana semua kejadian ini bisa terjadi.
__ADS_1
**
TOK TOK TOK!!
Seorang pria mengetok pintu ruang inap Panca. Pintu segera dibuka oleh sipengetuk pintu.
"Pan, kamu gak pa pa?" tanya Alex sang sobat dari pasien bernama Panca.
"Hey, Alex. Aku gak pa pa bro. Cuma cedera dikitanlah. Thanks ya udah datang."
"Baguslah kalau kamu masih selamat,"
"Masih selamat kata mu? Jadi kamu maunya aku mati? Gitu?" tanya Panca merasa sedikit jengkel.
"Ya ela, gitu aja ngambek."
"Lagian kamu ngomongnya gitu sama sahabat sendiri."
"Aku juga gak tau, bro." Panca hanya mengangkat bahu kekarnya.
"Yang sabar bro. Untuk sementara, kamu tinggal di rumah aku juga gak pa pa bro. Aku malah jadi senang banget kalau kamu datang." Alex menepuk bahu sobatnya dengan senyum ramahnya.
"Thanks bro." Panca membalas tepukan bahu pada sahabatnya itu.
Beberapa lama kemudian, sang kekasih pun datang dengan membawa makanan di tangannya.
''Pagi sayang,'' ucap Indah mendekati ranjang sang kekasih.
''Pagi,'' balas Panca dibarengi dengan senyumnya.
''Hem!!!'' dehem Alex.
__ADS_1
''Sayang, ini Alex, sahabat aku. Bro, ini Indah, cewek aku.''
Indah adan Alex pun berkenalan. Kemudian Indah menyiapkan makanan untuk Panca.
''Kok kamu gak pernah cerita kalau kamu udah punya pacar sih, Pan?'' tanya Alex sambil memperhatikan Indah.
''Mana cantik lagi orangnya. Hehehehe.''
''Hahaha. Iya bro, maaf, kelupaan.'' Panca pun cengar-cengir.
Karena sudah selesai menyiapkan makanan, Panca pun segera makan.
~
~
~
''Oh ya, Pan..., trus gimana kelanjutan kejadian ini? Polisi sudah menyelidiki kebakaran itu?'' tanya Alex dengan tatapan mata yang serius.
''Sedang di selidiki sih, katanya. Laporan awal sih, kata petugas kepolisian, kebakaran itu disengaja. Mereka menemukan botol bensin di sekitar sana, tapi sampai saat ini belum ada laporan lanjutan.''
''Botol bensin? Kayaknya benar deh, kebakaran itu memang disengaja oleh orang lain. Tapi siapa dibalik semua ini.?'' ucap Alex.
''Entahlah. Biar polisi yang nyelidikin.''
''Iya bener,'' ucap Indah menanggapi.
''Pasti orangnya gak jauh deh, firasatku sih,'' ucap Alex bangkit dari duduknya lalu menopang dagunya sambil berpikir.
''Yang penting sekarang, kamu baik-baik saja Bro. Oh ya, aku gak bisa lama-lama nih, aku harus balik ke bengkel sekarang. Get well soon ya, bro. Ntar aku jengukin lagi.'' Alex pun memutuskan untung pulang.
__ADS_1
****