My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 38~ PUTUS


__ADS_3

(Keesokan harinya)


Aku bangkit dari ranjang lalu bergegas mandi. Setelahnya aku keluar dari kamar dengan tampilan sederhana, handuk masih meliliti rambutku. Aku berjalan mencari keberadaan sepupuku itu.


"Pan, Panca!" teriakku memanggilnya.


Aku berjalan ke dapur, membukakan kulkas dan mengambil air dari dalam kulkas kemudian menuangkannya ke dalam gelas, setelah itu ku teguk hingga habis.


Aku kembali menjelajahi ruangan sepupuku itu. Berusaha mencarinya, namun tak menemukannya.


Aku pun segera bersiap-siap untuk kembali ke kantor. Namun sepertinya aku harus kembali ke rumah untuk mengganti pakaian kerjaku.


Aku melajukan mobilku dengan segera menuju mobil. Sebelumnya aku sempat mengirimkan Panca sebuah pesan bahwa aku sudah kembali ke rumahku.


(Panca)


Dengan bantuan asisten pribadinya, Panca membawa mobilnya yang rusak ke bengkel terdekat.


"Kenapa tuh mobil bro?" tanya seorang montir yang ternyata adalah temannya Panca.


"Ini bro, semalam ditabrak sepupu aku." Seketika Panca terbayang dengan ciuman bertubi-tubinya dengan Nat. Panca membalas jabatan temannya itu ketika disadarkan dari lamunannya.


"Waduh, parah juga ya bro." Alex, temannya Panca pun mulai memeriksa mobil Panca.


"Bro, aku tinggal di sini ya, mobilnya. Nanti kalau sudah selesai, kabari aja ya Lex. Thanks bro." Panca menepuk pundak sobatnya.


Setelahnya dia pun bersama asisten pribadinya kembali ke kantor tempat mereka bekerja.


~

__ADS_1


~


Aku tiba di rumah. Kulihat seisi rumah berantakan. Aku terus menjelajah seisi ruangan rumah dengan heran akan apa yang tengah kulihat.


"Aku baru ingat kalau semalam rumah gak dikunci. Pasti ada maling yang masuk dan ...," kata-kataku terhenti ketika aku masuk ke dalam kamar yang juga sangat berantakan.


"Apa yang sudah dilakukan oleh Han di sini?" tanyaku.


Isi rumah itu benar-benar kacau. Kertas berserakan, kaca jendela pecah dan sebagainya. Aku benar-benar tidak menyangka sama sekali.


Karena ingin segera ke kantor, aku pun mengambil pakaianku semuanya lalu memasukkannya ke dalam koper dan mengambil beberapa benda penting seperti berkas-berkas lalu keluar dari rumah itu setelah menguncinya.


Aku meletakkan koper ke dalam bagasi mobil, setelahnya ku tancap gas mobil menuju kantor.


~


~


"Kamu kenapa sih sayang?" tanyanya.


"Ah, gak yang. Aku gak pa pa." Aku memejamkan mata lalu sempat menyentuh pelipisku.


"Kamu yakin? Semalam kamu nelpon, ada apa?" tanyanya serius.


"Yang...," Aku pun menceritakan semuanya pada Vinsen karena tak tahan lagi dengan kegilaan adiknya.


Vinsen terlihat tenang mendengarkanku. Ternyata dia tahu apa yang telah terjadi malam itu.


~

__ADS_1


~


(Malam itu)


Ketika Vinsen dan Nat pulang, diam-diam Han mengikuti mereka. Sebelum Nat naik ke kamarnya, Han sudah berada di sana melewati jendela kamar Nat.


Vinsen melajukan mobilnya seolah sudah kembali ke rumah. Karena sedari tadi dia sudah menyadari bahwa seseorang mengikuti mereka, dia pun berencana mengikuti pengikut itu.


Dia kembali ke rumah Nat dengan menaiki ojek yang mengarah ke rumah Nat.


Tiba di sana, Vinsen masuk secara diam-diam ke rumah Nat dan kebetulan rumah belum di kunci. Dia pun mendengarkan pembicaraan Nat dengan Han dari luar kamar.


Ketika mendengar bahwa mereka akan keluar dari kamar, Vinsen segera pergi dari tempat itu.


Dia tak menjawab telpon dari Nat karena ponselnya ketinggalan di kamar. Dia berusaha mengejar Nat yang di kejar oleh Han, namun ketika dia mulai dekat dengan mobil Nat yang menabrak mobil seseorang, Vinsen melewati mobil Nat. Ketika kembali lagi, Vinsen menemukan Nat berciuman dengan seorang pria di dalam mobil dan akhirnya dia pulang dengan kecewa.


Dan ternyata mobil yang disangka adalah mobil Han, ternyata di dalamnya adalah Vinsen yang mengendarai mobil itu.


**


Setelah mendengar ceritaku, Vinsen tak menggubrisnya bahkan tak memperlihatkan rasa empatinya terhadap apa yang telah kualami.


"Sayang, kamu kok diam aja sih?" tanyaku heran.


"Nat, aku gak mau nyusahin kamu karena ulah Han. Aku mau, hubungan kita sampai di sini aja ya. Aku gak mau merusak kehidupanmu karena Han." Vinsen bangkit lalu pergi.


Aku masih melihat ke arahnya meski terhalang oleh pintu ruangan.


Aku termenung sejenak. Aku tak merasakan kehilangan sama sekali. Justru, aku merasa bahwa kini aku aman karena tidak lagi berhubungan dengan mereka meski sebenarnya aku masih mencintai Vinsen.

__ADS_1


**


__ADS_2