
(Sore hari)
"Nat, jalan-jalan yok ke bawah," ajak Vinsen yang tengah berdiri di depan tenda.
"Ha? Sore-sore begini?" tanyaku.
"Iya, yok!" Vinsen mengulurkan tangannya.
Aku meraih tangannya lalu berjalan bersamanya. Kami mulai menuruni lereng gunung dengan perlahan.
Tak begitu jauh, kami tiba di suatu tempat yang cukup indah. Air yang mengalir di permukaan kecil penuh bebatuan besar dan bebatuan kecil. Airnya jernih dan mengalir ke bawah.
Kami duduk di atas sebuah batu besar sambil bermain air.
"Adem ya di sini," ucapku.
"Hm...."
(Di puncak)
"Lihat Nat, gak?" tanya Bidadari kepada Auna yang sedang sibuk menatap ponselnya.
"Gak tuh. Ke bawah kali, mandi," jawab Auna.
"Sama doi nya?" tanya Bidadari lagi.
"Kayaknya iya deh. Aku dengar suara mereka tadi."
"Hmmm. Oh ya Na, kamu dicariin tuh sama Bagus." Bidadari duduk di sampingnya.
"Ha? Kenapa?" tanya Auna kaget.
"Gak tau tuh. Dia lagi nungguin kamu di tendanya dia. Gih ke sana." Bidadari berbaring.
"Huh. Aku tinggal dulu ya." Auna pun bangkit lalu berjalan ke tenda Bagus.
"Woi!!!" Auna mendorong pelan punggung laki-laki yang tengah duduk di dalam tenda dengan membelakangi Auna.
"He, Auna. Ngapain?" tanya Bagus kaget.
"Kepala mu ngapain. Bukannya kamu nyariin aku ya?" tanya Auna heran.
"Ha? Gak kok." Bagus menatap Auna heran.
Tentu saja Auna menjadi kesal. Akhirnya dia memutuskan kembali ke tendanya.
"DAR!" teriaknya.
"Loh, kok Bidadari gak ada? Pada kemana anak-anak nih." Auna berbalik. Dia berjalan kembali ke tenda Bagus.
Ketika melihat Auna kembali, Bagus pun bangkit lalu berdiri di depan tendanya.
"Kenapa Na?" tanya Bagus ketika melihat Auna seakan ketakutan.
"Anak-anak pada ke mana ya? Kok jadi sepi gini. Tadi ada di tenda, trus pas balik udah gak ada." Auna mulai menghelus lehernya.
"Ah, masa sih. Oh ya, Jobes juga gak ada tuh. Pada ke mana yak?"
Auna dan Bagus mulai panik dan berusaha mencari-cari keberadaan yang lainnya.
(Di bawah)
"Nat, balik yuk." Vinsen bangkit lalu menarik tangan ku.
Karena hari mulai gelap, kami pun kembali ke tenda.
Di sana, Auna dan Bagus terlihat duduk bersama. Tapi, mengapa wajah mereka terlihat panik?
Kami mendekati mereka dengan penuh penasaran.
"Hey, ada apa?" tanya Vinsen yang ikut duduk.
"Eh, kalian. Dari mana aja sih?" Auna bangkit lalu berdiri di sampingku. Dia terlihat mengkwatirkan sesuatu.
"Kenapa sih, kok kayak panik gitu?" tanyaku memperhatikan keduanya.
"Kalian ketemu sama Bidadari dan Jobes gak?" tanya Bagus bangkit berdiri.
__ADS_1
"Gak tuh. Kenapa? Mereka gak ada di tenda?" tanya Vinsen.
Kami pun memeriksa tenda mereka. Sayangnya, tak satu pun dari mereka yang kami temukan.
"Paling mereka ke bawah tuh." Vinsen menyalakan api unggun.
"Iya kali. Udah tenang aja." Kami pun duduk melingkari api unggun itu.
(Beberapa lama kemudian)
"Hai guys, pada lapar gak?" tanya Jobes yang tiba-tiba datang dan di belakangnya berjalan Bidadari yang membawa sesuatu di dalam kantong plastik.
"Kita bakal makan enak nih," Bidadari mengangkat kantong plastik di tangannya.
Aku, Bagus, Vinsen dan Auna masih menatap mereka heran tapi juga lega karena mereka kembali juga akhirnya.
(Author : Oh ya guys, perkemahan mereka bukan di puncak gunung berapi ya, bahaya itu apa lagi nyalahin api. Bisa-bisa gunungnya meledak. DUARRRRR!!! Perkemahan mereka di puncak gunung yang bisa untuk berkemah gitu, pada paham kan? Kan? Kan?)
"Apaan tuh?" tanya Vinsen.
"Kita habis memburu nih." jawab Jobes.
"Buru rusa?" tanya Auna.
"Iya kagak. Mana ada rusa di sini, kocak." Jobes duduk di samping Vinsen diikuti oleh Bidadari yang perlahan mengeluarkan isi dari kantong plastik hitam yang dia bawa.
"Tadah!!!" serunya. Beberapa ekor ikan di ketakkannya di atas tanah.
"Wih, dapat dari mana nih?" tanya ku mendekat.
"Tuh, di tombak Jobes, di pinggir aer," jawab Bidadari memonyongkan mulutnya menunjuk Jobes.
"Wow, hebat lu bro." Bagus menepuk punggung Jobes.
Kami pun membakar ikan-ikan itu dan memasak nasi dalam periuk. Sambil menunggu, yang lain bergantian mandi ke bawah untuk bersiap-siap makan malam.
Makan malam pun tiba. Kami duduk di atas karpet layaknya orang-orang yang tengah piknik. Makanan serta minuman tertata di hadapan kami.
Tanpa menunggu lama, kami pun menyantap makan malam. Tak lupa di temani guraun dari Bagus dan Bidadari yang biasanya bergelut membuat kami tertawa geli. Untungnya tak ada yang keselek atau tersendak.
"Nyam!" ucap Bidadari menjilati jari-jarinya.
"Gitu amat lu tong," ledek Bagus.
(Makan malam berakhir)
Kami masih duduk bersama di karpet.
"Waktunya bermain game!" seru Bidadari yang mengeluarkan sebuah botol B*r.
"Pasti pada tau kan, gimana permainannya?" tanya Bidadari menatap kami satu-satu.
"Ngerti-ngerti!" balas kami serentak.
"Permainannya adalah TOD, Truth or Drink! Paham ya?" tanyanya lagi.
Kami pun mengangguk paham dan setuju. Sebelum permainan di mulai, Bidadari menuangkan isi b*r ke dalam gelas kami masing-masing. Jadi, siapa pun yang tidak mau menjawab dengan jujur pertanyaan, maka harus minum.
"Oke kita mulai!" seru nya yang kemudian memutar botol lainnya.
Botol berputar-putar melewati kami. Sayangnya, putaran pertama tak berhasil menunjuk siapa pun.
Bidadari memutar botol lagi.
KLOK KLOK KLOK KLOK KLO-K!!!
Mulut botol menunjuk kepada Vinsen.
"Uhmmm, apa sih yang paling kamu suka dari Nat? Sampai kamu jadian sama dia?" tanya Bagus mengambil ahli bertanya.
"Ish, kamu. Asal nyambar aja." Bidadari menepuk pundak Bagus dengan kesal.
"Uhm.... Banyak sih. Cuma aku merasa nyaman aja sama dia." jawab Vinsen dengan kalem kemudian menatapku dengan senyuman mautnya yang menggoda sehingga aku pun menjadi tersipu.
"Aaaaaaaa. So sweeet!" ucap Bidadari.
Kami hanya menertawakan tingkah sahabat kami yang satu ini.
__ADS_1
"Oke, karena kamu yang ketunjuk tadi, so..., kamu yang mutar lagi." Bidadari menyerahkan botol ke hadapan Vinsen.
Vinsen pun memutar botolnya.
KLOK KLOK KLOKK!
Botol menunjuk ke arah Bidadari. Tentu saja membuat Bidadari bertingkah genit.
"Ow, kenapa sampai sekarang kamu masih jom-blo?" tanya Vinsen sambil tertawa.
Tentu saja pertanyaan itu membuat wajah Bidadari berubah kesal.
"Idih, gak ada pertanyaan lain apa Kang?" tanya Bidadari manyun.
"Hahaha, tinggal minun kali bos," sambar Bagus meledek Bidadari.
"Gak ah, aku akan jawab. Jadi, aku tuh pernah hampir jadian sama salah satu mahasiswa yang sekampus dengan kita, dia anak kimia. Uhm..., karena aku merasa gak cocok aja sama dia, yah udah aku tolak aja." tuturnya yang kemudian mengibaskan rambutnya ke arah Bagus yang duduk di sampingnya.
"Ah, masa sih?" tanya Bagus iseng.
"Next," Bidadari memutar botol.
Kini putarannya menunjuk ke arah Auna.
"Na, kamu udah punya pacar belum?" tanya Bidadari.
Auna terdiam sejenak, lalu meneguk b*ir di dalam gelasnya. Dengan begitu, dia tak perlu lagi menjawab. Padahal, Bagus sempat deg-degan mendengar jawaban Auna. Sayangnya dia justru memilih diam.
Botol di putar oleh Auna dan menunjuk Jobes. Auna menatap Jobes sambil berpikir, pertanyaan apa yang cocok untuk lelaki itu.
"Bes, diantara cewek-cewek di sini, ada gak sih yang kamu taksir?" tanya Auna.
Spontan, tatapan Jobes mengarah ke arah ku. Pandangan kami bertemu. Aku hanya melempar senyum padanya.
Setelah lama menunggu, sepertinya Jobes memilih bungkam. Dia pun mengangkat gelasnya lalu meneguk b*irnya.
Putaran selanjutnya, kembali menunjuk Jobes. Dengan segera, Vinsen mengajukan pertanyaan.
"Apa kamu benar-benar sudah merelakan Nat untuk kakakmu ini?" tanya Vinsen menatap sang adik.
Lagi-lagi Jobes memilih untuk meneguk isi gelasnya hingga tak bersisa. Bidadari pun kembali mengisi gelasnya.
"Kakak, tau dari mana kalau aku suka Nat?" bisik Jobes yang duduk di sebelah Vinsen.
Mendengar pertanyaan sang adik, Vinsen hanya diam membiarkan Jobes penasaran.
Putaran selanjutnya di putar oleh Jobes dan botol menunjuk Auna.
"Oke, aku balas pertanyaan kamu deh. Di antara pria di sini, ada gak yang kamu taksir?" tanya Jobes.
Pertanyaan tersebut tentu membuat Bagus uring-uringan berharap bahwa jawabannya adalah sesuai dengan apa yang di pikirkan.
Kali ini, Auna terlihat ingin berbicara. Dengan ragu, Auna pun menjawab,
"Ya, ada." Auna tersenyum menatap kepada si penanya.
"Woh..., siapa sih Na?" tanya Bidadari mulai penasaran.
Suasana menjadi hening. Harapan Bagus kian besar akan jawaban Auna.
Auna melihat ke arah Bagus lalu tersenyum. Spontan Bagus merasa seolah memiliki harapan besar untuk cintanya pada gadis pujaannya itu.
"Kamu Bes." Auna mengalihkan pandangannya ke pada Jobes. Tentu saja, semua tersentak kaget tak percaya.
"Ha? Aku?" tanya Jobes memastikan bahwa yang didengarnya tidak keliru.
"Iya, Bes. Kamu. Aku udah suka sama kamu sejak kita SMA. Sayangnya, kamu justru gak peduli sama semua perhatian aku." jelasnya dengan terpaksa.
Bagus merasa sangat kecewa. Ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Rasa sakit mulai terasa di hatinya Jobes. Seolah ingin berteriak mengatakan bahwa dia mencintai Auna.
Jobes yang mendengar perjelasan Auna tentu saja tidak menyangkah ternyata selama ini Auna menyukainya dan semua perhatiannya teralihkan kepadaku.
Semua menjadi diam dengan seribu bahasa. Kami benar-benar sudah keliru karena berpikir bahwa Auna menyukai Bagus, sama seperti Bagus menyukainya.
Betapa dalam terluka hati Bagus mengetahui kebenaran bahwa wanita yang dia cintai ternyata mencintai pria lain.
***
__ADS_1
Sakit sekali epribadi😫😫😫