
Pagi hari yang cerah, aku sudah bersiap-siap di meja makan dengan sarapan lezat yang kusantap.
Kemudian aku megakhiri sarapan pagi itu ketika mendengar suara klakson mobil dari depan rumah.
Dengan segera, aku mengambil tasku lalu berjalan menyusul ke depan rumah.
Jobes sudah mennunggu di dalam mobil. Kedatanganku membawa kami meninggalkan rumah lalu melaju ke arah kantor pak Jaya.
Setelah beberapa menit kemudian, kami pun tiba di tempat tujuan.
~~
"Selamat pagi pak!" sapaku ketika berpapasan dengan beberapa karyawan.
Ketika tiba di ruangan, aku duduk di meja kerja. Di sana sudah terdapat beberapa berkas serta petunjuk kerja yang harus aku kerjakan.
"Hai!" Jobes meletakkan segelas kopi susu di atas mejaku.
Aku tentunya mengambilnya lalu menyeruputnya pelan.
"Kamu kenapa sih? Kok dari tadi senyum-senyum aja?"
"Uhm.... Ada deh. Oh ya, ntar siang makan siang bareng ya." Jobes berjalan pergi meninggalkanku di ruangan itu.
*
(Panca)
__ADS_1
Dia terlihat mondar-mandir di ruang kamarnya. Dia masih terbayang apa yang telah terjadi beberapa minggu lalu.
"Apakah aku harus menceritakan semuanya pada Nat tentang baj*ngan itu? Atau aku simpan kebusukan ke*arat itu dari Nat? AKH!" Panca mengacak rambutnya.
Mendengar teriakan sang anak, mamanya Panca mencari tahu apa yang tengah terjadi pada anaknya iitu.
Sang mama membuka pintu kamar panca yang ternyata tidak ditutup begitu rapat.
"Ada apa Pan?" tanya sang mama mendekati Panca yang sedang duduk di atas kasurnya.
Mamanya Panca menghelus lembut bahu sang anak lalu memperhatikan putranya itu dengan penuh selidik dan penasaran.
"Ma.... Apa Panca harus ceritain ke Nat tentang Han? Actually, aku kwatir sama dia ma." Panca menatap sang mama berharap akan mendapatkan jawaban yang dia sendiri inginkan.
Mamanya hanya tersenyum lalu kembali menatap putra tunggalnya itu.
Panca menghela napas lalu tersenyum kecil ke arah mamanya.
~~
"Gimana kerjanya, it's fun?" tanya Jobes yang tengah duduk di kursi depan tempat dudukku.
Kami sedang berada di sebuah resto dekat dengan kantor kami kerja. Tak menunggu lama, makanan di hidangkan kemudian kami menyantapnya.
"Eh, dalam pikiran aku, kerja sebagai pemandu wisata itu gak bakal berurusan dengan berkas-berkas ribet tau gak. Nyatanya semua itu tetap bakal dijalani. Aku pikir hanya kerja outdoor doang. Gilak emang. Hahaha."
Jobes tertawa mendengar perkataanku. Mungkin dia merasa sedikit aneh atau apalah. Yang pasti pada akhirnya kami tertawa bersama dengan semua kekonyolan dan kepolosanku.
__ADS_1
"Gimana, udah kenyang belom?" tanya Jobes sembari mengusap mulutnya dengan tisu.
"Kenyang banget dong." Aku mengehlus perutku yang penuh dengan makanan.
"Makanan di sini enak banget tau." lanjutku.
Sesekali aku bertanya-tanya. Mengapa pria satu ini tetap ada di saat apapun aku dalam kondisi ini. Satu-satunya sahabat aku yang sampai detik ini tetap hadir buat aku. Inikah yang namanya real best friend?
Setelah selesai menikmati makan siang, aku dan Jobes akhirnya keluar dari resto menuju parkiran.
BRUK!!!
Jobes bertabrakan dengan seorang gadis. Bagaimana tidak, sedari tadi dia sibuk menatap ponselnya.
"Waduh, maaf mas." ucap gadis itu sambil memungut barang-barangnya yang berserakan di bawah.
Aku masih memperhatikan mereka dengan beberapa pemikiran-pemikiran.
Jobes berusaha menemukan ponselnya yang terjatuh. Tiba-tiba gadis itu tertegun menatap Jobes.
"Sepertinya aku kenal cewek itu," ucapku berusaha mengingat-ingat.
"Kak Jobes?" gadis itu menunjuk Jobes.
Mendengar itu, Jobes mengalihkan perhatiaannya pada gadis itu.
"Hmmm," Jobes masih berusaha mengingat siapa gadis itu.
__ADS_1
**;