My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 49


__ADS_3

"Ini serius Nat. Sebenarnya aku udah tau semua tentang kamu."


"Maksudnya gimana coba?" tanyaku mengalihkan perhatian ke Panca.


"Yah.... Tentang kamu yang bukan anak kandung tante kezia dan almarhum om."


"Ha? Gimana gimana?" tanyaku heran.


"Mama sama papa sempat cerita ke aku...." Panca menghela napas dalam dalam lalu menghembusnya.


Aku memperhatikan Panca dengan teliti dengan penuh penasaran.


"Waktu itu, om dan tante sering bertengkar karena tante ingin pisah sama om. Bukan karena tante gak cinta lagi sama om, tapi karena kasihan setiap kali om membahas tentang anak sementara tante merasa bersalah gak bisa ngasih om anak. Malam itu, mereka bertengkar lagi. Tante ngotot pengen pisah. Hari itu hujan. Disela pertengkaran mereka, pintu rumah diketuk, ketika mereka keluar, mereka gak nemuin siapapun di sana. Kemudian yang mereka temukan hanya seorang bayi dalam sebuah keranjang. Mereka pun mengambil bayi itu. Akhirnya mereka merawatnya hingga saat ini. Itu kamu Nat." Panca berhenti.


Aku mengernyitkan keningku.


"Kehadiranmu menyatukan om dan tante kembali Nat. Setelah mendapatkanmu dalam keluarga mereka, om dan tante gak pernah bertengkar lagi. Mereka bahagia, setiap hari karena mu dan untukmu."


"Terus, kenapa mereka gak pernah cerita yang sebenarnya ke aku?" tanyaku berusaha memahami.


"Mereka sangat menyayangimu layaknya anak kandung. Mereka hanya gak mau, jika nanti kamu tau, trus kamu bakal ninggalin mereka Nat."


"Trus kenapa kamu bilang ini semua ke aku?"


"Aku cuma ingin kamu memahaminya perlahan Nat. Intinya, mereka sangat menyayangimu."


Aku menunduk merenungkan semuanya. Aku ingin marah, tapi apa yang dilakukan mama dan papa selama ini bukan hal yang salah.


"Jangan tinggalin mereka Nat. Jangan tinggalin tante." Panca menyentuh pundakku dengan tatapannya yang berusaha meyakinkanku.

__ADS_1


"Terus orang tua kandungku ke mana? Kenapa aku di kirimkan ke kekeluarga ini? Sebenarnya siapa mereka?" Aku menoleh Panca.


Panca hanya geleng-geleng.


~


~


~


(Malam hari di balkon)


"Ma...," ucapku menghampiri mama yang tengah duduk di balkon.


Mama menoleh,


"Hey sayang," balasnya.


"Mama ngapain di sini?" tanyaku.


"Mama pengen aja sih. Nikmati pemandangan langit."


Aku menatap ke arah langit. Benar, langit penuh dengan bintang. Indah, dan terang.


"Ayah mana ma?" tanyaku.


"Ayah keluar bentar. Katanya ada urusan."


Aku mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ma, aku boleh nanya sesuatu gak sama mama?" tanyaku mengalihkan perhatian ke mama.


"Yah, boleh dong sayang. Tanya aja."


"Sebenarnya..., orangtua kandungku siapa sih ma?" tanyaku mulai serius.


Mama menoleh kaget dengan pertanyaanku.


"Loh, kok kamu nanyanya gitu sih sayang? Yah orang tua kamu adalah mama sama almarhum papa dong." Mama menghelus rambutku.


"Aku udah tau semuanya ma. Aku..., aku hanya anak yang mama asuh. Bayi yang mama dan papa temukan di depan pintu rumah mama. Bayi yang dibuang-" Aku mulai meneteskan air mata.


"Nat?" Mama menyentuh kedua pipiku berusaha menghapus air mataku yang mulai berderai.


"Hey, Nat. Dengerin mama...," Mama menarikku ke pelukannya.


"Mama gak peduli sayang, kamu adalah anak mama. Mama sayang kamu layaknya anak kandung mama sendiri. Mama bahagia memilikimu nak."


Aku masih menangis dalam pelukan mama. Mulai mengelus pundakku agar aku tenang.


Aku melepas pelukan mama,


"Terus orangtua kandung aku siapa ma?"


"Mama dan papa gak tau sayang. Cuma.... Bersamaan dengan malam ketika mama dan papa menemukanmu, ada sebuah kasus bunuh diri. Dari cerita yang kami dengar, kejadian itu terjadi setelah seorang wanita melahirkan dan tidak selamat. Sedangkan suami wanita itu begitu sangat frustasi kehilangan istrinya dan akhirnya dia bunuh diri setelah membuang bayinya karena tak sanggup menghidupi anaknya seorang diri."


Aku hanya memejamkan mata menahan kepedihan di hatiku. Aku merasa, seolah tubuhku tak lagi bernyawa seketika.


Mama membelai rambutku hingga membuatku kembali menangis sesunggukan.

__ADS_1


**


__ADS_2