My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 41


__ADS_3

"Taat?" tanyaku.


"Waduh, aku minta maaf banget nih Taat."


"Iya mbak, gak pa pa."


Taat pun berdiri sambil menopang motornya lalu mendirikan motor itu.


"Mbak Cintia mau ke mana, bukannya udah balik dari tadi?" tanyanya.


"Iya. Saya balik ke kantor lagi karena ponsel saya ketinggalan."


"Oh."


"Kamu sendiri, kenapa motor didorong aja?"


"Iya nih mbak. Biasa, mogok."


"Emang kamu tinggal dimana?"


"Aduh mbak. Jauh banget dari sini mbak. Kurang lebih enam jam perjalanan mbak. Saya dari desa soalnya. Ini juga mau balik susah mbak."


"Kamu gak ada tempat nginap gitu di sini?"


"Ada sih mbak, tuh hotel-hotel. Sayangnya, saya gak bisa mbak."


"Uhm.... Saya ngerti."


Aku pun mengajak Taat masuk ke dalam mobil. Motornya di parkirkan di dekat situ. Aku pun melajukan mobil ke arah apartmen Panca.


~


TOK TOK TOK!!


Panca membuka pintu.


"Loh, Nat? Ini siapa?" tanyanya heran melihat Taat.


"Hallo mas. Nama saya Taat." Taat menjabat tangan Panca yang masih melongo.


"Panca." ucap Panca singkat.


Aku masuk ke dalam.


"Yok masuk." ajak Panca kepada Taat.


"Woi, kamu nemu dimana tuhh cowok?" bisik Panca.


"Dia pelamar kerja di kantor. Dia ada sedikit masalah, jadi aku bawa kesini. Kasihan rumahnya jauh." bisikku sambil menonton tv yang sedari vtadi sudah hidup.


Taat duduk di sofa sambil melihat-lihat seisi rumah.


"Oh ya, ini Panca, sepupu aku. Ini sih rumah dia. Aku cuma numpang doang." Aku mengangkat kaki di sofa.

__ADS_1


"Bro, kalau mau minum, buat sendiri aja ya, dapurnya sebelah sana." Panca menunjuk ke arah dapur dan Taat pun menoleh ke arah dapur.


"Wah boleh tuh. Saya mau air mineral aja deh." Taat berdiri lalu berjalan ke dapur mengambil air lalu meneguknya.


~


"Bro, di sini cuma ada dua kamar. Satunya kamar aku, satu lagi untuk Nat. Kamu gak pa pa kan, tidur di sofa?" tanya Panca yang pindah duduk di sebelahku sehingga aku terpaksa menurunkan kakiku.


"Ah ya. Gak pa pa kok mas. Terima kasih banyak loh mas," jawab Taat manggut-manggut.


"Iya bro, sami-sami."


"Nat, kamu kalau mau makan, makan aja ya. Tuh ada lauk di tudung. Ajak tuh teman kamu. Aku ke kamar dulu, masih banyak kerjaan." Panca pun menaiki tangga.


"Yok makan." Aku berdiri lalu berjalan ke dapur.


Taat pun mengekorku ke dapur.


"Di sini, kalau mau makan, tinggal ambil. Mau minum juga gitu ya. Gak usah malu-malu." Aku duduk di meja makan, menikmati makananku dengan sebelah kaki diangkat, itu sudah menjadi kebiasaanku.


Taat pun melakukan hal yang sama. Dia menyantap makanannya tanpa malu-malu.


~


~


~


Aku keluar dari kamar membawa sehelai selimut dan bantal menuju sofa.


"Terima kasih ya mbak Cintia."


"Mmm," jawabku singkat lalu meninggalkan Taat.


*


*


(Esok hari)


Aku sudah siap di meja makan. Mengunyah makananku sambil sibuk memeriksa berkas-berkas di laptopku.


Pagi itu Panca sudah berangkat lebih dulu. Sedangkan Taat sudah tidak ada di rumah itu. Aku mengerti bahwa dia sudah pergi tanpa sempat pamit karena dia tidak enak untuk membangunkanku ataupun Panca sepagi itu.


Setelah selesai sarapan, aku membereskan semuanya lalu bersiap-siap ke kantor.


~


~


Tok tok tok!


Siska masuk ke dalam ruanganku dengan beberapa berkas di tangannya.

__ADS_1


"Buk, ini ada berkas lain yang harus di tanda tangani."


Aku pun menandatangani berkas itu lalu membiarkan Siska keluar dari ruanganku.


DRTTTTTT....


DRTTTTTT....


Aku meraih ponselku menjawab panggilan. Ketikak kulihat ternyata mama yang menelpon.


"Hallo ma. Mama apa kabar?" tanyaku.


"Hallo sayang. Mama baik-baik saja. Kamu apa kabar?"


"Baik ma."


"Oh ya sayang, mama ada kabar baik nih untuk kamu."


"Kabar baik apa ma?"


"Mama mau mengundangmu ke hari bahagia mama."


"Ha? Maksud mama?"


"Iya sayang. Mama akan menikah di sini."


"WHAT? Mama becanda ah."


"Idih. Mama serius sayang."


"Uhm.... Kapan ma?"


"Seminggu lagi sayang. Tapi mama mau, kamu datang dua hari sebelum hari H nya ya."


"Ma, jangan gitu dong."


"Mama mohon dong sayang. Urusan kerjaan nanti aja dong. Ini kan sekali seumur hidup sayang. Yah? Plissssss."


"Uhm. Iya iya. Aku bakalan datang."


"Gitu dong."


~


~


"Permisi bu. Ini daftar pelamar kerja bu." Siska meletakkan beberapa lembar kertas di hadapanku.


Aku pun memeriksanya dan menemukan nama Taat di sana.


"Segera lakukan wawancara kepada lima pelamar ini. Setelah itu, segera konfirmasi kepada saya."


"Baik bu. Saya permisi." Siska melangkah pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2