
(Di dalam mobil)
"Sayang, bukannya adek kamu melarikan diri? Kapan dia pulang ke rumah?" tanyaku mengarahkan pandangan ke arah Vinsen yang tengah menyetir.
"Oh iya, sayang. Dia baru balik sore tadi. Kami saja benar-benar tak menyangkah dia pulang."
"Jadi makan malam tadi sebagai syukuran karena kembalinya dia?" tanyaku lagi.
Vinsen hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
~
~
Setibanya di rumah. Aku keluar dari mobil bersama dengan kekasihku itu.
"Kamu gak mau nginap di sini?" tanyaku.
"Emang boleh?" tanyanya dengan tatapan menggoda.
"Ya, gak," jawabku usil.
"Tuh kan. Yah udah kamu istirahat ya." Vinsen mengecup keningku lalu pergi.
Aku berjalan ke dalam rumah. Kemudian segera menuju ke kamar.
CEKLEK!!!
Ketika aku berbalik, betapa kagetnya aku ketika kulihat seseorang sedang berbaring di kasurku sambil menatap ke arahku. Siapa lagi kalau bukan Han.
"Han, apa yang kamu lakukan di sini? Ba-bagaimana kau bisa masuk? Ba-ba-bagaimana kau bisa tau rumahku?" tanyaku mulai panik.
Han bangkit lalu mendekatiku. Aku spontan melangkah mundur ketika dia semakin dekat.
"Nat, aku kesini karena aku ingin menjelaskan sesuatu pada mu. Aku masih mencintaimu Nat." Han semakin mendekat.
"Han, tolong menjauhlah." Aku mendorong tubuhnya.
"Hmmmm. Kenapa? Kamu gak kangen ya sama aku. Yah.... Padahal aku kangen banget sama kamu Nat. Udah lama banget gak ketemu." Han menyentuh wajahku.
Saat itu, aku benar-benar melihat sisi lain dari Han yang sebelumnya belum pernah ku lihat. Tenyata benar apa kata Panca.
"Kenapa? Kok kamu terlihat takut sih. Gak usah takut, aku gak akan macam-macam kok. Aku cuma pengen bersama kamu malam ini aja." Han mulai menyentuh tengkukku.
"Han, jauhi aku. Tolong!!" aku mendorongnya dengan kuat hingga berhasil membuatnya menjauh.
Aku menghindarinya dan berusaha memintanya pergi. Namun dia keras kepala. Aku meraih sebuah gunting di atas meja lalu mengarahkannya pada Han.
"Hey hey, santai dong. Kamu tenang aja Nat. Aku bukan psikopat kok. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang jahat ke kamu." tiba-tiba Han merebut gunting dari tanganku lalu mencampakkanya di lantai.
"Aku ingin bicara baik-baik sama kamu. Ayok, duduk dulu." Han menarik tanganku lalu kami pun duduk di atas kasur.
__ADS_1
Aku masih berusaha untuk tenang dan berhenti berpikir mengenai hal buruk tentang Han.
"Nat, aku benar-benar masih cinta sama kamu. Maafin aku waktu itu. Wanita yang datang di kafe itu, bukan siapa-siapa. Percaya sama aku. Dia hanya masa laluku. Aku hanya mencintaimu Nat." Tiba-tiba sikapnya berubah menjadi lembut.
"Maaf Han. Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi ke kamu. Kita sudah tidak ada apa-apa lagi." Aku memberanikan diri untuk menatapnya.
"Tapi..., bagaimana dengan perasaanku ke kamu Nat? Aku benar-benar gak bisa ngerelain kamu, apalagi kamu bersama kakakku. Aku gak bisa Nat. Tolong kasi aku satu kesempatan lagi, ku mohon," ucapnya yang kemudian meraih tanganku.
"Aku tetap gak bisa Han. Tolong mengertilah. Lebih baik sekarang kamu pulang saja.'' Aku bangkit lalu membukakan pintu kamar agar Han keluar dari kamarku segera lalu pulang.
Perlahan dia berjalan keluar, namun tiba-tiba dia menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Spontan aku menjauh darinya. Aku benar-benar takut ketik dia mulai mendekatiku dan menyentuhku. Dia semakin dekat hingga aku melangkah mundur. Sayangnya lagkahku terhenti karena kakiku sudah mengenai pinggir kasur hingga tak bisa mundur lagi. Han mendorong tubuhku dan akupun terhempas, Han pun berada di atasku lalu mengunci kedua pergelangan tanganku hingga aku tak bisa mendorongnya. Kakiku ditahan dengan kakinya. Tak hanya itu, Dia pun membungkam mulutku dengan bibirnya. Dia mulai ******* bibirku semakin kasar dan sesekali menggigit bibirku. Aku berusaha meronta melakukan perlawanan, namun usahaku nihil. Aku masih tetap tak menggubris ciumannya. Matanya tetap menatapku dengan tatapan licik.
Karena tak tahan, aku pun menggigit bibirnya hingga berdarah. Namun tetap saja, itu tak membuatnya lengah dan menyerah begitu saja. Dia mulai menjelajah bagian tubuhku yang lain. Ketika kurasa dia sedikit lengah, aku pun langung menendang selangkangannya hingga membuatnya kesakitan sambil memegangi selangkangannya. Aku pun berusaha melarikan diri dari rumah itu. Aku berlari sekencang mungkin lalu menancap gas mobil dari parkiran. Untungnya kunci mobil mudah kuraih dari balik pintu depan.
Di dalam mobil, aku berusaha menghubungi Vinsen, namun berulang kali menghubunginya, dia tetap tak menjawab. Kemudian kucoba menghubungi Jobes, sayang sekali tetap aja tak ada yang menjawab. Aku melajukan mobil dengan kencang. Tepat di persimpangan, ketika aku berusaha belok ke kanan, aku berpapasan dengan sebuah mobil dan tak sengaja menabraknya.
PRAK!!!!!!!!!!!!!!
Mobilku berhenti ketika menabrak depan mobil itu hingga merusaknya.
"Sial!!" Aku memukul setir dengan kesal lalu menoleh ke belakang, memastikan bahwa Han tak mengejarku lagi.
Aku kembali memperhatikan mobil yang kutabrak. Seseorang keluar dari mobil. Pria itu mengenakan topi sambil menatap ponselnya.
TOK TOK TOK!!
Kaca mobilku diketuk oleh orang itu. Dengan ragu aku membukanya. Ketika kulihat wajah pria itu, aku benar-bnar kaget campur lega. Untung saja aku dipertemukan dengan pria yang tepat dalam kondisi yang mengerikan ini.
Aku membuka pintu mobil lalu menarik tangan Panca agar dia masuk ke dalam mobil segera sebelum Han datang menyusul. Dengan wajah bertanya-tanya dan tanpa perlawanan, Panca pun masuk ke dalam mobil.
"Kenapa sih Nat? Kok kamu kelihatan panik dan ketakutan gitu sih?" tanyanya heran. Panca pun memperhatikan gerak gerikku yang benar-benar panik dan gelisah.
Lagi-lagi aku menoleh ke belakang. Mencemaskan jika Han datang dan mengenali keberadaanku.
Melihat gerak-gerikku, Panca pun ikut menoleh ke belakang berusaha mencari tahu siapa yang tengah kulihat sedari tadi.
"Kamu lihatin apa sih?" HEY!!" Panca mengibaskan tangannya di depan ku.
Ketika melihat mobil Han mulai melewati mobilku, aku pun segera mencium Panca dengan tiba-tiba agar Han tidak melihatku yang berada di dalam mobil.
Spontan Panca kaget dengan apa yang kulakukan. Aku berhenti mencium Panca ketika kurasa mobil Han hanya melewati mobilku. Tunggu, kenapa tiba-tiba mobilnya balik arah? Aku memperhatikan mobil Han yang mulai memelankan lajuannya. Pandangan Han mengarah ke mobilku.
Dengan segera aku menarik Panca lalu melayangkan ciuman ke bibirnya sehingga mampu menutupi wajahku untuk dikenali oleh Han. Lagi-lagi Panca syok dengan reaksiku. Nafas ku benar-benar tersengal.
Jantungku benar-benar berpacu. Mencemaskan Han mengenaliku dan menangkapku lagi. Posisi itu masih bertahan hingga beberapa menit setelah Han berlalu.
Aku melepaskan ciumanku pada Panca yang masih bungkam dengan mata yang membulat tak menyangkah hal itu akan terjadi. Aku menghempaskan tubuhku ke kursi mobil sembari bernapas lega. Aku merasa sedikit aman.
"Sepertinya dia sudah pergi. Aman." Aku kembali melirik ke belakang melalui spion mobil.
"Nat?" Panca mulai berbicara terbata-bata.
__ADS_1
Ketika menyadari perbuatanku, aku pun menjadi malu pada Panca dan merasa benar-benar bersalah. Tapi, aku tidak bisa apa-apa sehingga berbuat seperti itu.
Aku mengusap bibirku yang masih basah. Aku menyadari sedari tadi Panca menatapku. Kemudian aku berbalik ke arahnya.
"Pan, maaf ya. Aku gak maksud. Aku hanya sedang berusaha menghindari kejaran seseorang."
"Siapa itu?"
"Bukan siapa-siapa."
Panca pun berbalik ke arahku lalu menatapku lekat.
"Kalau begitu aku gak akan memaafkanmu karena telah mengambil ciuman pertamaku." Panca memalingkan wajahnya sepertinya dia merasa kesal.
"Dia Han. Mantan aku dan sekaligus adiknya Vinsen, pacar aku."
"Ha? Sekeluarga kamu pacarin?'' ucapnya kaget sembari berbalik ke arahku.
''Awalnya aku sendiri gak tau kalau mereka adalah saudara. Dia ngejar aku karena dia ingin memaksaku balik sama dia. Aku menolak....'' Aku pun menceritakan semua pada Panca.
~
~
~
~
Aku dan Panca tiba di sebuah apartment milik Panca. Aku memintanya untuk mengajakku bersamanya karena aku takut Han akan kembali ke rumah. Aku pun tinggal bersamanya di sana.
Ketika kami sedang makan malam bersama di meja makan.
''Kok kamu balik ke sini lagi?'' tanyaku sambil mengunyah makananku.
''Suka-suka aku dong. Masalah buat kamu?!'' jawabnya sok jutek.
''Aku serius nanya!'' ucapku yang tiba-tiba berhenti mengunyah makananku karena merasa kesal dengan jawabannya.
''Aku sih, sebenarnya udah lama banget di sini. Cuma ada kerjaan lain di luar kota, jadi bolak balik. Ini juga baru balik.''
''Trus kenapa kamu gak pernah ngabarin aku? Lupa sama sepupu sendiri apa??'' tanyaku benar-benar kesal padanya, namun sepertinya dia tidak peduli dengan kekesalanku. Dia terus menyantap makanannya dengan lahap.
"Aku gak mau gangguin kamu aja. Nanti kalau aku ngabarin kamu, yang ada pacar kamu marah lagi. Yah udah, mending aku biiarin aja." Panca bangkit berdiri lalu berjalan menuju westafel, mencuci piring bekasnya lalu membasuh tangannya.
Panca pun berjalan ke kamarnya dengan cuek.
"PAN! KAMU KENAPA SIH. KOK CUEKIN AKU!" teriakku yang masih mengunyah makananku.
"Kenapa tuh anak. Beda benget deh. Apa dia masih kesal sama aku karena udah nyium dia?" tanyaku pada diri sendiri.
****
__ADS_1