
"Hm.... Taat, sebenarnya saya ingin kamu...." tiba-tiba perkataan ku terhenti ketika Taat menatapku dalam. Rasanya mulutku bungkam tiba-tiba.
Perlahan tangan Taat mendekati wajahku, tentu saja membuat jantungku berdebar tak menentu. Seolah sesuatu akan terjadi.
DEG!!
DEG!!
DEG!!
"Ada daun di rambut ibu," ucap Taat menunjukkan sehelai daun.
Pikiranku hampir saja menjalar ke berbagai hal. Aku pun menjadi salah tingkah setelah tahu kenyataan sebenarnya.
(Readers: pasti si Nat berpikir kalau mas Taat bakal nyium dia. Hadeuhhh, ngarep!!!)
Aku menghembus napas lega. Aku mengalihkan pandanganku dari Taat ke arah langit yang kian gelap.
"At, masuk yuk. Udah malam banget nih." Aku bangkit dari dudukku.
"Eh, tunggu. Tadi ibu mau bilang apa?" tanyanya menarik tanganku.
Aku pun melihat ke arah tangannya yang menahan tanganku.
"A.... Aku cuma mau bilang.... Kalau aku ingin.... Eh, jangan panggil aku ibu. Itu aja sih." Aku segera masuk ke dalam tenda.
Sementara Taat, dia masih duduk di tempat tadi sambil memandang ke langit.
"Aku pikir, dia bakal bilang kalau dia suka sama aku. Hahahaha," gumamnya sembari tertawa malu dengan angannya.
(Netizen: yah elah mas, mas lah yang harus utarakan perasaan mas sama Nat, gimana sih....)
**
Pukul delapan pagi, Panca sudah tiba di tempat itu. Beberapa lama setelahnya, beberapa pekerja juga tiba di sana untuk melakukan pekerjaannya.
Aku sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan bersama sepupu jauhku itu.
__ADS_1
"At, kita pergi dulu ya." Aku mengangkat tasku lalu berjalan masuk ke dalam mobil.
"Iya, bu. Hati-hati."
~
~
"Kita mau ke mana Nat?" tanya Panca yang tengah menyetir.
"Kita keliling-keliling desa aja Pan. Aku tau, kamu pasti sangat lelah bekerja sepanjang hari."
"Uhm.... Ok."
Mobil pun melaju. Aku menikmati pemandangan alam yang indah di daerah itu.
"Oh ya, Pan. Sama Astrid, sampai situ doang?" tanyaku.
"Uhm.... Dia tuh pacaran sama teman kerjanya itu."
"Taat maksud kamu?" tanyaku.
"Iya, Taat. Itu pacar dia. Aku pikir kamu udah tau kali."
"Seriusan, aku gak tau sama sekali. Tapi, Taat bilang, dia malah gak punya pacar."
"Uhm.... Gak tau deh. Yang jelas, Astrid bilangnya gitu ke aku. Yah udah, aku gak mau ganggu hubungan oranglah. Sejomblo-jomblonya aku, seenggaknya punya akhlak juga. Hahahahaha."
Aku kembali memikirkan perkataan Panca. Bukankah, Taat sendiri yang bilang kalau dia tidak memiliki pacar, gumamku. Eh, tunggu. Bagaimana bisa aku kepikiran tentang dia, batinku lagi.
"Kenapa Nat?" tanya Panca membuyarkan hayalanku.
"Gak. Gak pa pa."
"Kamu cemburu ya sama Astrid?" tanya Panca merayuku.
"Ya nggak lah."
__ADS_1
"Tapi kok kayak syok gitu deh. Yang bener, kamu gak suka sama Taat?"
"Yah gak lah."
"Uhm.... Baguslah. Itu artinya, aku masih ada kesempatan. Hehehe."
"Ha? Kesempatan apa?"
"Kesempatan bersaing sama kamu, siapa yang paling lama ngejomblonya. Hahahaha."
"Hahahaha. Ya ya ya," ledekku.
~
~
Dikarenakan perjalanan yang sudah cukup jauh, tak terasa Nat pun tertidur di dalam mobil. Sementara Panca, dia masih tetap fokus menyetir.
"Bentar. Ini mau ke mana sih. Aku setirin terus tapi gak tau tujuannya ke mana." Panca melirik ke arah wanita yang sedang tertidur itu berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Yah ampun, malah tidur. Berhenti sini dulu aja kali ya. Ntar aku lanjut takutnya nyasar." Panca pun menepikan mobil di depan sebuah warung nasi di pinggir jalan.
Panca meregang-regangkan ototnya lalu membuka pintu mobil agar angin segar bisa masuk ke dalam. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil sambil memejamkan matanya.
~
~
(Andri)
Dalam sebuah panggilan telpon, pria bernama Andri tengah berbicara dengan seseorang.
"Kalau tidak bisa menghancurkan bisnisnya, maka hancurkan hidupnya. Saya tidak mau tau. Rencana itu harus segera dilaksanakan."
TUT TUT TUT....
**;
__ADS_1