
(Keesokan harinya)
Panca sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor Nat. Dengan pakaian yang sudah rapi, dia pun melangkah dengan pasti dengan semangat yang baru. Hanya satu yang dia pegang bahwa Nat masih hidup. Dia akan tetap menunggu sampai akhirnya dia menemukan keberadaan wanita tomboi itu.
~
~
Setibanya di kantor, Panca langsung disambut oleh Siska.
"Bagaimana mereka bisa tau, kalau aku...," batin Panca heran ketika Siska dengan segera mengantarkan Panca ke sebuah ruangan yang merupakan ruangan kosong yang tampaknya itu adalah ruangan yang baru disediakan saat itu juga.
"Kalau bapak butuh sesuatu atau menanyakan sesuatu silakan menguhubungi saya di ruangan sebelah, pak. Kalau begitu, saya permisi pak." Siska pun keluar dari ruangan itu.
Masih dengan ekspresi heran. Panca mengamati seisi ruangan dengan berbagai pemikiran-pemikiran yang melayang-layang dalam otaknya.
"Ada apa semua ini. Kok aneh banget ya. Aku baru sekali datang ke sini, tapi diperlakukan seperti sudah bertahun-tahun bekerja di sini. Sebenarnya, apa yang terjadi. Mereka sama sekali tidak heran dengan kehadiranku di sini. seolah mereka sudah paham tentang apa yang telah terjadi. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini."
Untuk menuntaskan segala penasarannya Panca, dia pun segera menghubungi Siska.
"Permisi pak, ada yang bisa saya bantu." Wanita yang bernama Siska itu tengah berdiri di hadapan Panca.
Dengan ragu-ragu, Panca pun bertanya.
__ADS_1
"Sebenarnya, apa yang terjdi di kantor ini? Kenapa kalian begitu saja menerima saya di tempat ini? Bagaimana semua ini berlaku? Bagaimana...," ucapan Panca terhenti ketika Siska menyambar.
"Mohon maaf pak. sebelumnya kami sudah diarahkan oleh Ibu Nat bahwa sebelum kepergiaan beliau, perusahaan sudah di ahli wariskan atas nama bapak, hanya saja, baru saat ini bapak baru bisa diberitahukan."
"Tunggu, jadi..., surat yang diberikan ke saya waktu itu, bukan dari Nat langsung, tapi dari kantor?" tanya Panca.
"Benar pak, hanya saja, waktu itu kami tak sempat memberikannya kepada bapak. Baguslah kalau surat itu sampai ke tangan bapak."
"Saya masih tidak mengerti dengan semua ini."
"Jadi..., sebenarnya Nat memang sudah meninggal?" tanya Panca lagi berusaha meyakinkan.
Siska hanya menunduk dengan ekspresi sedih.
"Oke.... Terima kasih atas penjelasannya. Kalian sudah tau kan, kalau saya juga memiliki tanggung jawab lain atas perusahaan saya sendiri?" tanya Panca dengan nada pasrah.
"Iya pak, semu sudah dijelaskan kepada kami. Saya akan membantu bapak untuk mengurus semuanya, jika bapak membutuhkan bantuan."
"Baiklah, terima kasih."
~
~
__ADS_1
~
(Taat dan Astrid, di tempat wisata yang mereka buat yang kini sudah jadi tempat paling indah)
"Sayang banget ya, tempat ini gak sempat dilihat oleh almarhum," ucap Taat yang sedang duduk di tepi kolam bersama Astrid.
"Iya. Aku pun sedih dengan itu. Meski demikian, ide cemerlang darinya berhasil membuat tempat ini berguna untuk warga setempat. Bu Nat memang wanita yang luar biasa dan baik. Sayangnya, saking baiknya, dia lebih dulu di panggil yang Kuasa."
Taat menghela napas panjang lalu menghembusnya.
"Rasanya ingin sekali melihatnya ada di sini. Melihat tawanya dan kadang kejutekannya. Semua itu hanya tinggal kenangan. Kepergiaannya hanya meninggalkan hati yang terluka dan rasa cinta yang terpendam."
Mendengar perkataan Taat, Astrid pun langsung tercengang lalu menepuk pundak Taat dengan keras.
"Aduh!" keluhnya.
"Siapa suruh kamu mendam perasaan buat Bu Nat. Aku cuma mau ngasih saran At. Kalau kamu memang mencintai seseorang, selama ada waktu maka sampaikanlah. Jawaban ya atau tidak adalah urusan belakangan. Seenggaknya kamu sudah mengutarakannya dan bisa tau jawabannya. Jika kamu gak mencoba apa-apa, maka kamu gak bakal tau apa-apa. Wanita itu mungkin belum menyukaimu, tapi keberanian seorang lelaki untuk mengutarakan perasaannya mampu membuat wanita itu jauh lebih tenang dan paham, apa maksud dari perasaan itu. Digantung itu gak enak coy. Jadi, jadi cowok itu harus lebih berani, berani ngomong, berani nanggung resiko dan berani bertanggung jawab. Jangan jadi pengecut," jelas Astrid yang berhasil membuat Taat sadar bahwa selama ini dia salah memendam rasa.
"Iya Strid. Makasih sarannya. Aku beruntung deh punya sobat kayak kamu. Gak pacaran tapi ngerti soal cinta. Hahaha," Ledek Taat laku bangkit berlari.
"Oh.... Kamu ledekin aku ya. Awas kamu!" ucap Astrid mengejar Taat sambil tertawa-tawa."
***
__ADS_1