
"Aku mungkin salah karena tidak mengutarakan cintaku ke kamu, tapi mungkin aku akan lebih salah, jika seandainya cinta itu kau bawa sampai mati. Aku bakal terus mencintai kamu Nat." Pria bernama Taat menghayalkan wanita yang dicintai itu.
Taat duduk di teras rumahnya, menghayal. Dia memandang ke arah langit yang cerah siang itu.
"Andai, aku bisa nego sama Tuhan, aku bakal minta dipertemukan denganmu di sana," batinnya.
Dari balik pintu, seorang wanita menghampirinya.
"Nak, kamu lagi ngelamunin apa? Dari tadi ibu lihatin kok galau aja." Wanita yang dipanggil ibu oleh Taat menghelus pundak anaknya itu.
"Eh..., ibu. Aku cuma ngelamunin teman aku."
"Nak Natasia ya?" tanya ibu.
Taat hanya tersentak heran, bagaimana ibunya bisa tahu.
"Kita boleh tetap mencintai siapapun yang telah pergi, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan ataupun rasa sesal. Ikhlaskan dan relakan, maka dia yang pergi pun akan lebih tenang di sana."
"Iya bu." Pria itu menghelus tangan ibunya.
"Jadi, kapan kamu akan kembali ke kota lagi?" tanya ibu.
"Akhir pekan bu."
"Yah sudah, ibu tinggal dulu ya. Ibu mau ke pasar dulu."
"Iya bu, hati-hati."
**
(Alex, temannya Panca, pemilik bengkel)
"Ton Ton!! Mobil yang ini masih belum kelar nih, kelarin dulu baru pacaran!" teriak Alex yang sibuk memeriksa mobil-mobil di bengkel.
Sebuah mobil berwarna merah masuk ke dalam halaman bengkel.
__ADS_1
TIN TIN!!
Alex segera menghampiri mobil tersebut dengan berlari-lari pelan.
"Selamat sore, apa yang bisa dibantu?" tanya Alex mendongak ke arah jendela mobil.
"Bang, tolong modivakasi mobil saya dong bang. Ganti warna sama motifnya." Seorang pria keluar dari mobil itu.
"Uhm.... Bisa, abang maunya warna dan motifnya gimana?" tanya Alex.
"Ya.... Terserah deh bang. Yang penting keren dan beda dari ini. Bikin baru deh bang."
"Oke, bisa," balas Alex.
"Berapa lama tuh bang?" tanya pemilik mobil.
"Seminggu deh bang."
"Yah udah bang. Nanti kalau sudah selesai, tolong kabari aja ya, bang." Pria itu menyerahkan kantu nama kepada Alex.
~
~
~
"Hey bro, baru nongol aja nih." Alex menjabat sahabatnya itu.
"Mobil kenapa bro?" tanya lagi.
"Gak kenapa-kenapa bro, cuma pengen singgah aja."
"Kayaknya kamu lagi galau deh," ucap Allex serius.
"Uhm.... Gak sih."
__ADS_1
"Trus kenapa muka ditekuk gitu. Gak biasanya bro."
"Tau deh bro."
"Uhm.... Oke oke. Ngerti aku mah."
Panca melihat-lihat ke sebuah mobil berwarna merah.
"Mobil siapa nih bro?" tanyanya.
"Itu, pelanggan. Minta di modif."
"Owh."
"Kenapa? Kamu suka sama mobilnya?" tanya Alex.
"Bagus sih bro. Tapi gak deh."
Panca pun kembali duduk di dekat sebuah mobil yang tengah diperiksa oleh sahabatnya itu.
"Lex, kamu percaya gak sih kalau sepupu aku tuh udah meninggal?" tanya Panca ragu-ragu.
Tentu saja, pertanyaan itu membuat Alex mengalihkan perhatian penuh kepada Panca.
"Maksudnya gimana bro. Aneh deh." Diapun duduk di samping sahabatnya itu.
"Aku yakin kalau Nat itu masih hidup. Selama ini aku merasa bahwa seolah dia ngasih aku tanda kalau dia masih hidup."
"Udah deh bro. Ikhlasin aja." Alex menepuk pundak sobatnya itu.
"Aku tau bro. Gimana rasanya kehilangan orang yang dicintai. Aku pernah diposisi kamu sekarang. Kita hanya bisa mengikhlaskan semuanya bro." lanjut Alex.
"Oke gini deh, kalau kamu butuh bantuan, kamu boleh ngabarin aku," ucap Alex lagi.
"Uhm.... Oke bro, thanks."
__ADS_1
Mereka pun berjabat tangan ala mereka.
**