
(Panggilan berakhir)
Aku mencoba menelpon mama, hanya berdering namun tak mendapat jawaban. Sebenarnya apa yang tengah terjadi. Mengapa akhir-akhir ini, mama agak aneh, batinku, aku mulai kwatir.
Aku mencoba mengirimkan pesan ke nomor mama.
'Ma, mama apa kabar, semuanya baik-baik saja kan? Mama kapan balik? Ini udah lama banget loh ma.'
Ting!
(Pesan berhasil terkirim)
Aku berharap mama segera membaca pesanku lalu membalasnya, namun..., sama sekali tidak. Hanya terkirim namun aku tak mendapat balasan.
Aku berjalan ke dapur menemukan sesuatu untuk di makan pagi itu. Seperti biasa, Kak Siti cuti setiap akhir pekan. Dia juga memiliki hak untuk berkumpul dengan keluarga di rumah. Jadi, aku harus mandiri, setiap akhir pekan, kecuali mama ada di rumah.
Aku membuka kulkas lalu mendapatkan susu lalu menemukan roti di lemari.
"Tumben si tengik gak ngabarin. Biasa juga paling gak pernah absen chat tiap hari." Aku kembali memeriksa ponselku.
Memang biasanya Jobes mengirimkan pesan ke nomorku, tapi kali ini, sepertinya dia sendiri sudah bosan. Hahaha.
Nyam nyam nyam. Aku menyantap roti panggang bersama dengan segelas susu hangat.
__ADS_1
~
Tok tok tok!!!
Aku tersentak kaget ketika mendengar ketukan pintu. Lantas aku menaruh roti yang tengah aku santap di atas piring bersama dengan ponsel yang sedari tadi berada dalam gengaman tanganku.
Aku berjalan keluar untuk memeriksa siapa yang datang.
Entahlah, rasa apa ini. Antara bahagia, kesal dsb. Aku tidak tahu.
Aku melihat si cowok posesif berdiri di hadapanku,, menggendong tas ransel hitamnya. Wajahnya terlihat tidak biasa. Seolah ingin menelan orang hidup-hidup.
Kami saling memandang. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Aku hanya berpikir bahwa mengapa anak ini kemari tanpa mengabari. Apa yang akan dia lakukan di sini?
Panca langsung masuk ke dalam rumah begitu menemukan jalan untuk masuk. Dia langsung menghantam sofa yang tengah kosong dan rapi. Kehadirannya mengacak sofa itu.
"Ambilin aku minum dong. Haus banget nih."
Aku segera berjalan ke dapur mengambilkan jus jeruk lalu memberikannya pada Panca.
Dia meraih gelas jus dari tanganku lalu menatap ke arah layar lebar di hadapannya.
Aku hanya geleng-geleng melihatnya. Aku kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapanku. Aku kembali meraih ponselku sambil mengunyah roti panggangku.
__ADS_1
SET!
"Enak nih kayaknya." Panca melahap roti selaiku ketika roti itu baru saja akan masuk ke mulutku.
Aku mendengus kesal. Dia sama sekali tak mempedulikan perasaanku saat itu. Dia terus berulah, berulah dan berulah.
Aku kembali ke kamar. Ku rasa, aku tak perlu mengajarinya harus berbuat apa. Dia tahu apa yang harus dilakukannya.
Aku mengunci pintu kamarku dari dalam. Aku duduk di atas sofa. Masih sibuk memperhatikan ponselku.
TING!
Aku segera memeriksa pesan yang masuk dari nomor mama.
'Mama baik-baik saja sayang. Mama masih lama nih baliknya.'
Aku menghembus napas panjang. Mama selalu mengatakan akan kembali, tapi..., lihatlah! Dia bahkan sudah hampir setahun lebih di sana, belum juga balik-balik. Apakah semuanya baik-baik saja?
Aku hanya berharap mama baik-baik saja di sana. Mungkin saja, mama hanya beralasan tidak kembali, supaya aku menyusulnya ke sana.
**
Jangan lupa tinggalkan Jejak,😍😍
__ADS_1