My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 67


__ADS_3

Suatu malam di sebuah vila.


"Kerja yang bagus. Tapi.... Masih ada yang kurang." Seorang pria dengan jas hitam memandang lekat ke arah wanita yang duduk di hadapannya.


"Apa, apa lagi yang kurang?" tanyanya polos.


"Aku ingin bisnis nya hancur." tegas lelaki itu sambil mengisap rokoknya lalu menghembuskan asap rokoknya.


Wanita itu terdiam sejenak. Dalam hatinya, dia mulai ragu.


"Bagaimana mungkin aku sampai menghancurkan bisnis teman aku sendiri." batinnya.


"Bagaimana?" tanya pria itu melotot.


"Kalau kamu tidak bisa, kamu harus siap-siap menerima resikonya."


"Aku siap. Aku akan melakukannya." Tegas wanita itu.


"Bagus." Pria itu pun bertepuk tangan senang.


~


~


Seiring berjalan waktu, secaea diam-diam, Taat dan Nat sering bertemu untuk menyusun rencana.


Mereka mulai menyusun strategi untuk menjebak si pelaku atas semua kejadian yang menimpa mereka.


"Yang jelas, kita gak boleh ketahuan sama sekali," ucap Nat.


"Berarti kita harus menyamar dong, Nat." Angguk Taat.


"Betul. Kita bakal mengintai mereka. Aku yakin mereka gak akan berhenti sampai di sana aja. Pasti, mereka sedang menyusun rencana lain."


*


Secara diam-diam, Nat mengintai pergerakan beberapa orang yang tengah mengamat-amatin kantor.


"Sebenarnya, apa yang sedang mereka lakukan? Apa yang sedang mereka rencanain, coba." Batin wanita itu yang tengah bersembunyi di balik sebuah pohon.


Dia terus mengintai bersama pria bernama Taat itu.


"Nat," seru Taat.


Nat pun menoleh.


"Lihat, mereka," Taat menunjuk ke arah gedung.


Nat pun menoleh dan memperhatikan gerak-gerik orang-orang itu.


"Kita harus mencegah mereka At." Nat hendak bangkit namun ditahan oleh Taat.


"Tunggu Nat. Lihat siapa itu?" ucapnya.


Nat pun melihat ke arah mobil hitam yang tak jauh dari tempat mereka bersembunyi.


"Sepertinya aku mengenal mereka." Nat mulai mengamati.


"Tunggu, itu kan.... Andri dan Au-na," ucap Nat terputus-putus.


"Jadi..., selama ini.... Tapi kenaoa mereka melakukan semua ini?" batin Nat.


"Kamu kenal mereka?" tanya Taat.


"Gini. Kamu ambil bukti mereka, biar aku yang mengatasi orang-orang itu."


"Jangan Nat. Biar aku yang mengatasi mereka, kamu ambik bukti aja."


"Gak, ikutin aja kata-kataku. Oke."


Nat pun secara diam-diam mulai mendekat ke arah orang-orang itu. Sementara Taat mulai mengeluarkan ponselnya untuk merekam dan mengambil bukti.


Ketika sedang mengambil foto-foto bukti, ternyata flash kameranya menyala dan akhirnya Taat ketahuan. Dia pun dikejar oleh orang suruhan dari Andri. Tentu saja, dengan sigap Taat berlari untuk mengalihkan perhatian mereka dari Nat.


Ketika berada cukup jauh dari lokasi, Taat pun berhenti lalu dia dikelilingi oleh orang-orang itu.


Dengan napas yang tidak beraturan, Taat pun menghadapi serangan dari orang-orang itu.


Terjadinya baku hantam antara Taat dan puluhan orang suruhan Andri.


BUK!


PRAK!

__ADS_1


BUK BUK!


Pertarungan pun di mulai.


~


~


Satu persatu, Nat mengalahkan orang-orang itu, tentunya secara diam-diam. Kemudian dia berjalan lagi dari satu orang ke yang lainnya.


Beberapa orang telah di kalahkan dan mereka kumpulin di semak-semak agar Andri dan yang lain tidak sadar kalau tengah terjadi sesuatu.


Seorang pria dengan tubuh besar dan kekar tiba-tiba berdiri di belakang Nat.


"HEY!" teriaknya.


Dengan kaget, Nat berbalik lalu dia pun langsung menghantam kepala pria itu hingga terjatuh tak berdaya.


Sayangnya, beberapa orang pun menyusul lagi untuk menyerangnya.


BUK!!!


Sebuah pukulan mendarat di punggung wanita tomboy itu.


Dia pun terjatuh dan terkapar di atas tanah. Untungnya, Taat segera datang untuk membantunya.


**


Pertarungan belum juga selesai. Perlahan kesadaran Nat mulai terkumpul. Ketika matanya sudah terbukan lebar, dia menemukan pemandangan yang sangat mengagetkan. Dia berada dalam sebuah mobik dengan mulut yang bungkam menggunakan kain. Kaki dan tangannya juga diikat dengan tali.


"MMMMMMM!!!" teriaknya.


Dia menyadari bahwa dia tengah berada dalam bagasi mobil sehingga semua gelap dan sempit.


"Apa kita lepasin aja dia?" ucap seorang wanita.


"Oh tidak. Kamu sengaja memberikan laporan palsu kalau dia sudah mati. Trus kamu bilang untuk lepasin dia? Hahahaahah." Pria itu membelai wajah wanita itu.


"Jangan pikir, aku tidak mengetahui semua rencanamu, Auna ku sayang," ucap lelaki itu.


"Kamu jangan macam-macam dong!" bentak wanita yang disebut Auna sembari mendorong tangan pria itu yang sempat menyentuh wajahnya.


"Hahahah, kasar sekali." Pria itu kembali meraba wajah wanita itu lalu lanjut ke arah lehernya dan tengkuknya.


"Andri, kamu ngapain sih?" bentak wanita itu lagi.


Tak hanya sampai di situ, pria itu dengan kasar dan terpaksa melapas celana wanita itu lalu memaksanya untuk memenuhi hasratnya.


Lelaki itu pun melakukan hasratnya dengan cara paksa kepada wanita itu di dalam mobil.


Dengan isakan tangis, wanita itu pun pasrah dengan keadaan.


PRAKKKKKK!!!


Kaca mobil itu hancur berkeping-keping.


Andri pun segera tersentak kaget lalu memperbaiki pakaiannya. Dengan segera dia berlari namun belum sempat, dia sudah dihadang oleh Taat tepat di depan pintu mobil.


BUKKKKK!!


Pukulan bertubi-tubi pun mendarat di wajah lelaki itu dengan dada yang polos. Pukulan selanjutnya dilayangkan Taat ke arah perut dan rusuk lelaki mesum itu.


Sementara Nat yang sudah berhasil keluar karena bantuan Taat, berusaha dengan segera membantu Auna keluar dari mobik setelah pakaian wanita itu selesai dikenakannya.


"Nat," wanita itu pun segera memeluk Nat dengan erat sambil menangis penuh ketakutan.


"Auna, kamu gak pa pa kan?" tanya Nat sambil mengusap air mata Auna.


Dia terus menangis dan menangis, menangisi kejadian yabg telah terjadi bercampur rasa bersalah atas perlakuannya pada sahabatnya itu.


Tak menunggu waktu lama, sebuah mobil polisi datang untuk menangkap Andri dan orang-orangnya.


~


Taat, Nat dan Auna pun pulang ke rumah Nat yang baru.


"Nat..., aku minta maaf, selama ini aku sudah jahat sampai-sampai aku tega mengorbankan nyamamu demi balas dendamku ke kamu. Aku nyesal banget Nat." wanita bernama Auna pun memeluk Nat dengan erat.


"Balas dendam kenapa?" tanya Nat heran.


"Aku sempat terbawa dendam karena masa lalu, Jobes lebih memilih kamu dari pada aku." Wanita menunduk malu dengan perbuatannya.


Nat mendengus, lalu memeluknya.

__ADS_1


"Yah sudah. Aku udah maafin kok. Yang penting sekarang adalah kamu baik-baik aja."


"Tapi Nat..., sekarang aku merasa kotor." Auna kembali menangis.


"Maksud kamu?" tanya Nat kaget.


"Andri harus bertanggubg jawab atas semua ini." tangis wanita itu kembali meledak.


**


(Dua tahun kemudian)


Nat tak lagi merahasiakan keberadaannya. Orang tuanya pun sangat bahagia bercampur tak percaya dengan keberadaannya. Sementara Panca, begitu bahagia dengan kenyataan yang selama ini dia harapkan.


Karena rasa penyesalan dari Andri, akhirnya dia dibebaskan lalu menerima Auna dalam kehiduoannya, alias menikahi Auna untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dan mereka akhirnya memiliki seorang bayi laki-laki yang mungil dalam keluarga kecil mereka.


Panca akhirnya menikah dengan Indah dan tinggal di rumah baru.


Kezia dan Jhon tetap berada di luar negeri dengan seorang bayi perempuan dalam keluarga mereka.


~


~


Di sebuah jembatan gantung. Aku berjalan menelusuri jembatan itu sembari memandang ke arah bawah jembatan yang sangat indah. Tak lupa menyempatkan untuk berfoto di sana.


Sedang asyik berfoto, aku melihat seseorang yang berdiri di belakangku, dalam kamera. Aku pun menoleh.


Tak dapat ku percaya, lelaki itu sedang berbuat apa di sana.


Aku menghampirinya.


"Taat?" ucapku memastikan bahwa itu adalah dia.


"Hay, Nat?" ucapnya kaget dengan keberadaanku.


Aku tersenyum melihatnya. Bagaimana tidak, penampilannya sangat jauh berbeda.


"Kamu beda banget." Aku memperhatikannya.


Kini Taat lebih santai, dengan rambut botaknya, pakaian santai yang dia kenakan dan ku akui, dia lebih menarik dengan penampikan itu.


"Kamu juga beda banget Nat. Aku baru lihat kamu dengan menampilan santai gini loh."


Kami duduk di jempabatan itu.


"Kamu ngapain di sini?" tanyanya.


"Jalan-jalan, hahaha," ucapku.


"Anak travelling juga ya?" tanyanya.


"Yah, my hoby." Aku menatapnya.


"Sama dong. Aku juga hobi jalan-jalan sebenarnya."


"Wow, kok bisa samaan ya."


Kami saling memandang. Taat berdiri di depanku dan menatapku lekat.


Deg!!!


Jantungku berdebar.


"Nat..., aku.... Aku suka sama kamu. Dari awal kita ketemu sampai sekarang.... Dan.... Semoga untuk selamanya."


Aku tersentak mendengarnya. Dengan gagu, aku memalingkan wajahku, tersipu malam.


"Jadi...." Taat meraih tanganku.


"Yah?" tanyaku pura-pura polos.


"Mau gak jadi..., pendamping hidupku?" tanyanya membuatku membukatkan mata menatapnya.


Aku terdiam sejenak.


"Yah, aku mau." Aku melempar senyum.


Taat menyentuh wajahku, lalu perlahan mendekatkan wajahnya kenm wajahku. Jantungku semakin berdebar semakin kencang.


Aku mulai merasakan hembusan napasnya dan sentuhan bibir lembutnya yang mendarat di bibirku. Bibir kami pun saling beradu.


That's MY LAST KISS

__ADS_1


~~~~~~TAMAT~~~~~~


***


__ADS_2