My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 60


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Kondisi itu menjadikan Panca terbiasa. Meski dalam hatinya masih tersirat sebuah harapan bahwa wanita itu masih hidup dan berada di sekitar sana.


Malam itu, dia tengah sibuk memandang ponselnya. Dia sedang sibuk whatsapp-an dengan wanita bernama Indah yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.


Hari semakin larut namun Panca belum menujukkan tanda-tanda ingin segera tidur.


Dia tengah asyik tertawa dengan chat-annya. Sesekali dia tersenyum tersipu.


"Yah kalau gitu, kamu istirahat sana. Udah larut juga kan."


"Iya, kamu juga. Selamat malam," balas Indah.


Akhirnya, lelaki yang tengah kasmaran itu pun memutuskan untuk tidur.


~


~


Tanpa di sadari, tiga orang pria berseragam jas hitam dengan masker hitam tengah mengintai apartmen Panca. Mereka terlihat mengamat-amati bagian apartmen.


Gerak gerik mereka cukup mencurigakan. Usai mengamati, mereka masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam kemudian berlalu pergi.


**


(Keesokan harinya)


Panca memutuskan untuk berkunjung ke butik Indah. Setibanya di sana, dia langsung menemukan Indah yang tengah sibuk menyusun barang-barang.


"Hay, selamat pagi," sapa Panca dengan senyum manisnya.


"Ehh, Panca. Selamat pagi," balas Indah kaget dengan kehadiran Panca.

__ADS_1


"Sibuk kayak nya nih,"


"Aaah.... Lumayan sih,"


"Yah udah, aku bantuin ya," ucap Panca lalu membantu Indah mengangkat barang-barang itu.


~


~


"Permisi mbak," ucap seorang pelanggan kepada Indah.


"Yah, mbak mau cari apa?" tanya Indah.


"Saya mau cari outfit yang...," ucap wanita itu putus.


"Hey, ndah. Ini udah selesai semua-" ucap Panca tercengang.


"Nat?" ucap Panca seolah mengenalinya.


Wanita pun menoleh ke arah Panca,


"Ha?" ucapnya bingung.


"Ah, maaf mbak. Saya pikir teman saya. Maaf ya mbak ya." Panca menghela napas kecewa.


**


(Di sebuah restoran)


Sambil menikmati makan siang, Indah pun membuka bicara.

__ADS_1


"Pan, Nat itu siapa?" tanyanya dengan penasaran.


"Oh, itu.... Bukan siapa-siapa sih. Udah lupain aja." Panca mengelak.


"Uhm.... Kalau bukan siapa-siapa, trus kok kelihatannya kamu kecewa banget tadi."


Panca terdiam sejenak. Dengan ragu-ragu, diapun mulai menceritakan yang sebenarnya.


"Nat itu sepupu jauh aku. Tapi kita lebih ke teman. Akrab banget. Yah.... Udah kayak sodara. Tiga tahun lalu, dia mengalami kecelakaan dan meninggal." Panca menghela napas.


"Aku masih gak percaya kalau dia udah meninggal, menurutku.... Dia masih hidup. Tapi.... Aku juga ragu dengan keyakinanku sendiri tentang dia." Panca mnlenghembus napas pelan.


"Kenapa kamu mikir kalau dia masih hidup?" tanya Indah.


"Yah.... Selama ini aku kayak dikasi tanda-tanda kalau dia masih hidup. Seolah sebuah kematian sudah diatur gitu." Panca pun menceritakan semuanya dengan detail termasuk pemberian ahli waris kepadanya.


"Uhm.... Kok aku curiga ya. Aku merasa bahwa keyakinanmu benar. Ku pikir dia masih hidup. Tapi.... Kita gak boleh berharap lebih. Bisa saja, semua ini memang sudah diatur lebih awal oleh dia. Sebagai persiapan."


"Iya sih. Yang pasti, aku bakal cari tau semua ini."


"Iya, aku bakal bantuin kamu. Kamu tenang aja."


"Thanks, Ndah udah mau bantuin."


"Iya, sama-sama. Intinya, kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan kabari aku. Aku pasti bantu sebisaku," ucap wanita itu menghelus tangan Panca.


"Iya Ndah." Panca tersenyum menatap wanita cantik yang duduk di hadapannya itu.


Usai makan siang dan selesai berbincang-bincang, mereka pun memtlutuskan untuk pulang.


***

__ADS_1


__ADS_2