My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 29 ~ MENDAKI


__ADS_3

(Ketika pagi tiba)


Aku bangun lalu bangkit. Aku keluar dari tenda lalu berdiri memandangi sekitar. Matahari pagi itu sudah duluan berada di tempatnya.


"Hoam!!" Aku meregangkan ototku.


Beberapa lama kemudian, Bidadari dan Auna juga keluar dari tenda, berdiri di sampingku.


"Guys, bangun yok." Bidadari mengguncang tenda para cowok.


Satu persatu keluar dari sarangnnya lalu duduk di depan tenda.


"Untung saja, semalam tidak turun hujan.... Wah, indah banget yah." Bagus meregangkan otot-otonya lalu berdiri memandangi sekeliling.


"Buruan deh, yang lain kemasin barangnya, aku dan para ladies yang lain bakal masak dulu."


Aku menyalakan api. Sengaja bergerak cepat supaya mendakinya bisa disegerakan. Lantaran aku sudah tidak sabar.


"YOK YOK!!" teriak Jobes.


Mereka pun mengemasi tenda dan barang-barang lain. Sedangkan aku, Bidadari dan Auna mulai memasak air lalu membuat minuman.


Pagi itu kami menyantap sarapan kami. Ada roti dan susu yang sudah disediakan.


Setelah selesai istirahat, kami bersiap-siap untuk memulai pendakian.

__ADS_1


"Ready guys?" tanyaku.


"READY!" Sorak mereka serentak.


Jobes dan Bagus berjalan paling depan, Bidadari dan Auna di tengah, sedangkan aku dan Vinsen di bagian belakang.


Kami menyusuri setiap jalanan yang berbecek dan semak-semak. Nampak sekali, tempat itu belum banyak yang datangi.


Ada pohon-pohon besar, rumput yang tinggi sepinggang, dan tanaman-tanaman lain. Sepertinya di sana ada laadang penduduk. Hanya saja jarang di datangi, jadinya seperti hutan belantara.


Setelah lima belas perjalanan, Bidadari meminta untuk istirahat dulu. Dikarenakan dia mulai ngos-ngosan dan merasa kelaparan.


"Yah ela, baru segini aja, kamu udah KO. Gimana nanti di ranjang," ledek Bagus.


Merasa kasihan, kami pun beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Di sekitar sana, terdapat air yang mengalir dari atas ke bawah, tapi bukan air terjun. Alirannya rendah. Seperti sungai kecil.


Ketika melihat itu, kami pun segera mendekat ke air itu, membasuh tangan lalu duduk di sana. Sejuk, adem. Itu yang kami rasakan.


Beberapa lama kemudian, kami pun kembali melanjutkan pendakian.


"YOK BISA YOK!" teriak Vinsen menyemangati yang lain.


(Dalam perjalanan)


"Guys, berhenti bentar," ucap Jobes pelan.

__ADS_1


Mendengar perkataannya, kami pun segera berhenti, mematung lalu menoleh ke arah Jobes yang berdiri paling depan.


"Ada apa?" bisikku pelan.


"Ssssttttt...." Jobes meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.


Kami hanya diam menuruti arahannya. Jobes pun menunjuk ke depan. Kami segera mengarahkan pandangan ke depan.


Nyaris saja, Bidadari berteriak dan Auna berlari, namun kami berhasil mengehentikan mereka. Bagus menahan tangan Auna yang hendak berlari sedangkan aku membekap mulut Bidadari agar tidak berteriak.


Tepat empat langkah di depan kami, ada seekor ular berukuran besar dan panjang, berwarna hijau corak. Entahlah apa nama ular itu. Ukurannya hampir sama dengan ukuran paha Bidadari yang cukup besar.


Spontan aku dan yang lain merasa takut dan kwatir namun Jobes tetap meminta kami untuk tetap berdiri mematung supaya sang ular tidak terusik lalu melakukan penyerangan terhadap kami.


Lima belas lamanya kami berdiri mematung menunggu sang ular lewat, akhirnya kami kembali bernapas lega ketika ular itu pergi berlalu.


"Nyaris saja." Jobes mengaba-abakan untuk melanjutkan perjalanan.


Mengerti maksud Jobes, kami pun melanjutkan perjalanan lami.


**


Jangan lupa tinggalkan jejak.


🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2