
Dengan penuh berharap, Panca mendatangi bengkel Alex.
''Hey Lex.'' Panca dan Alex pun saling berjabat tangan.
''Giman Lex, dia datang lagi gak?'' tanya Panca.
''Gak deh Pan. Ini aja, mobil yang kemaren belum juga di ambil. Aku curiganya, itu memang mobil dia. Tapi yang ngantarin itu supir dia, soalnya waktu itu dia bilangnya gitu waktu mau ambil mobil.''
''Tunggu, bengkel kamu punya CCTV kan?'' tanya Panca ketika tidak sengaja menoleh ke pojokan atas.
''Oh, iya. Betul betul. Betul juga.'' Alex dan Panca segera berjalan menuju ruangan Alex.
Tanpa menunggu banyak waktu, Alex segera memeriksa rekaman CCTV. Panca mulai deg-degan dengan apa yang akan menjadi kenyataan yang mau tidak mau harus dia terima dengan lapang dada.
DEG....
DEG....
DEG....
Video rekaman pun diputar. Mereka menyaksikan dengan seksama. Setelah berulang kali memutar video rekaman itu, mereka belum juga menemukan jawaban dari setiap pertanyaan itu.
''Sepertinya aku berhenti ngarepin aja deh Lex. Percuma deh kayaknya. Ini semua pertanda bahwa aku harus ngerelain dia pergi dan tenang di sana.'' Panca menghembus napas dengan kasar.
__ADS_1
''Maaf bro. Mungkin mirip doang. Aku juga gak nyangkah semua ini hanya akan sia-sia." Alex pun hanya menepuk pundak sahabatnya itu.
Bagaimana tidak, wanita yang mereka lihat di rekaman itu sama sekali bukan Nat. Dia memang bertingkah mencurigakan tapi itu bukan dia. Panca benar-benar hanya bisa pasrah. Meski dalam hati ada sedikit rasa kecewa.
~
~
~
"HUFT!" Panca menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Dengan tangan yang menopang kepalanya.
Matanya mulai sayu, dia terlihat kelelahan. Tanpa sadar, diapun tertidur di sofa ruang tamu.
Sementara itu, di luar apartmen, beberapa pria mengintai apartmen Panca, seperti beberapa hari lalu. Usai mengamati, mereka mulai melakukan beberapa pergerakan. Dengan gerak-gerik yang teliti, beberapa dari mereka mulai mendekati apartmen Panca sambil mulai menyiram-nyiramkan sesuatu di sekeliling gedung apartmen. Seseorang menyalakan korek lalu melempar ke arah geadung dan....
Api menyalah dengan kobaran yang besar dan menjalar ke sekeliling gedung membakar sisi gedung itu. Sementara orang-orang itu segera prgi meninggalkan apartmen Panca yang sedang terbakar dengan kobaran api.
"Mampus!!!" seru seorang pria di dalam sebuah mobil yang masih berada di sekitar apartmen itu sambil tersenyum menang.
"Ayo pergi!" pinta nya para seorang supir.
Mereka pun segera enyah dari tempat itu dengan perasaan bangga dan senang.
__ADS_1
"Siapa pun yang merenggut bahagiaku, aku bakal musnain dari muka bumi ini. HAHAHAHA!" teriak seorang wanita yang berada dalam mobil yang sama dengan pria itu sambil tertawa lega.
~
Panca yang masih tertidur tiba-tiba saja bangun begitu merasa ada aura panas di tubuhnya. Begitu dia membuka matanya, betapa kaget dan syoknya dia melihat kobaran api di sekitarnya. Dengan penuh kebingungan, dia pun segera berusaha mencari jalan keluar dari ruangan itu. Dia berlari sekencang mungkin untuk menghindari runtuhnya atap gedung agar tidak menimpanya. Sayangnya, ketika dia berhasil melewati pintu keluar, sebuah kayu menghadangnya dan mengenai kaki kanannya yang tak sempat lolos karena terhalang benda lain yang berjatuhan.
"AWWWW!" teriaknya menyadari rasa sakit pada kaki kanannya.
"TOLONG! TOLONG! TOLONG!!!!!!!! teriaknya sembari menghindar dari kobaran api.
Suara berisik dan ricuh pun mulai terdengar dari orang-orang yang berdatangan. Ditambah lagi suara dari bell mobil pemadam kebakaran dan ambulan.
Untungnya, dia masih bisa menyelamatkan diri karena warga sekitar mulai berdatangan untuk membantu, ditambah lagi tim pemadam kebakaran segera datang di TKP. Dengan segera, Panca di bawa ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa kakinya.
Kobaran api perlahan mulai memadam karena siraman air dari tim pemadam. Sayangnya gedung itu terbakar hingga polos. Tak satupun barang bisa diselamatkan dari kebakaran itu. Tapi itu tidak begitu penting. Untungnya segala berkas dan surat-surat, Panca simpan di kantor, sehingga sedikit lebih melegakan.
Dengan tubuh yang tengah terbaring di rumah sakit, Panca hanya merenungkan semua kejadian yang telah terjadi. Baginya yang terpenting adalah, nyawanya. Meski kakinya mengalami cedera yang cukup serius sehingga membuatnya kesulitan berjalan dengan kaki kanannya yang membutuhkan beberapa lama untuk dipulihkan.
"Panca!!!!" seorang wanita datang menghampiri lelaki itu di dalam ruang inap.
"Indah?" serunya kaget dengan kehadiran wanita itu di sana.
"Kamu gak pa pa kan?" tanya Indah yang sangat mencemaskan kekasihnya itu sambil memeriksa tubuh lelaki itu.
__ADS_1
"Aku gak pa pa, Ndah. Kok kamu bisa tau aku ada di sini?" tanya Panca heran.
"Syukurlah. Tadi aku tiba-tiba pengen ke rumah kamu, gak tau kenapa. Trus sampai di apartmen kamu, aku kaget lihat kobaran api yang membakar apartmen kamu. Aku cemas banget dong Pan. Aku susulin ke sini karena petugas di sana bilangnya kamu di bawa ke rumah sakit. Untunglah kamu gak kenapa-kenapa." Indah pun bernapas lebih tenang karena lega melihat Panca baik-baik saja walaupun Panca mengalami cedera pada kakinya.