My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 54


__ADS_3

''Kenapa?''


''Lahan kering dan kosong. Itu alasan lainnya. Sayang jika dibiarkan begitu saja.''


''Hm.... Ya ya ya. Dermawan, sangat dermawan.''


(Usai makan siang)


Aku kembali ke kantor, sedangkan Andri juga kembali ke tempatnya.


**


Aku memutuskan untuk mendatangi tempat pembuatan proyek. Katakan saja, di daerah pelosok Mawar. Aku mengemudikan mobil usai mengemasi beberapa pakaian dalam tas ransel, karena perjalanan akan cukup lama. Aku bermaksud melakukan perjalanan lain.


Aku menikmati pemandangan desa yang sangat indah, sejuk dan hijau. Tempat seperti inilah yang aku sukai. Suasana yang tenang, nyaman dan membuat pikiran segar setiap saat.


Aku melintasi jalanan aspal yang mulus dan panjang. Kendaraan lain melaju dengan beragam kecepatan. Mobil, motor, sepeda dan jenis kendaraan lain. Tak hanya itu, deretan kios kecil dan pedagang kaki lima, dan kedai-kedai kecil di pinggir jalan.


Meski demikian, semakin ke sana, semakin terasa sepi dan rasanya hawa semakin panas. Aku menyalakan AC dalam mobil.


Sekeliling terlihat gersang dan kering. Bebatuan kecil memenuhi sekitar jalanan, belum lagi debu dan asap kendaraan besar seperti truk, membuat lingkungan tercemar dan udara tidak lagi segar. Tandus dan, apa kata yang lebih pantas dengan itu?


Beberapa lama kemudian, aku melewati jalanan kering itu. Aku kembali melintasi jalanan yang pinggirnya dipenuhi dengan pohon.


Ketika berada di persimpangan jalan, aku melihat beberapa warga yang sedang bersawah. Lahannya hijau dipenuhi sawah dan tentu saja, di sebagian petak sawah, seekor hewan berbadan besar tengah berdiri di sana, kerbau , itulah namanya.


Aku berhenti sejenak usai melewati beberapa menit dari persimpangan. Aku keluar dari mobil lalu memandangi lahan hijau nan subur itu.


~


~


~

__ADS_1


Aku menghentikan mobil di depan sebuah tempat yang tengah mengalami perombakan. Lokasi tujuan.


Melihat kedatanganku, Astrid pun menghampiriku.


"Bu, kok ibu ke sini?" tanya heran.


"Iya, saya ingin melihat langsung pembuatan tempat wisata ini."


"Baiklah kalau begitu bu. Mari saya tunjukkan jalannya."


Aku pun mengikuti Astrid.


"Disini gak ada satupun perumahan ya."


"Sepertinya gak ada bu. Sebab daerah ini jauh dari pusat kota dan sangat jauh untuk menempuhnya bu."


Kami melanjutkan perjalanan.


~


"Kenapa kalian pada kaget sih dengan kedatangan saya? Kalian melakukan kesalahan ya?" tanya curiga.


"Ah, gak bu. Heran aja sih, perjalanan ke sini kan cukup panjang, bu."


"Kalian belum mengenal saya saja dengan baik."


Astrid dan Taat saling memandang tak mengerti maksud perkataanku.


"Sudah lah, lanjutkan pekerjaan kalian. Oh ya, pekerja lain ke mana?" tanyaku ketika kulihat hanya mereka berdua yang ada di tempat itu.


"Maaf, bu. Sedari awal memang cuma ada kami berdua yang bekerja di sini bu." Taat berdiri di sebelah saya dengan tatapan heran.


"Jadi, tidak ada pekerja lain sama sekali?" tanyaku memastikan.

__ADS_1


Astrid dan Taat hanya menggeleng-gelengkan kepala.


**


Aku duduk di dalam tenda. Memandangi sekeliling. Pemandangannya yang indah, sejuk dan tenang membuat suasana hatiku pun menjadi tenang.


Aku mengintip jam tanganku. Hari sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Aku pun segera mengajak dua orang kepercayaanku itu untuk istirahat makan siang.


"Hey, kalian, sini! Istirahat dulu, ayok!!!" sorakku sambil melambai memanggil mereka.


Mendengar sorakkanku, mereka pun menoleh lalu bergegas menghampiriku.


Memang tidak mewah. Layaknya beberapa orang yabg tengah melakukan piknik. Aku mengeluarkan beberapa nasi dan lauk pauk yang sempat ku beli sebelum berangkat ke sini.


Kami pun menikmati makan siang bersama.


"Oh ya, pembuatan rumah pohon itu bakal cepat selesai kan?" tanyaku menunjuk ke arah sebuah pohon.


"Dalam waktu dekat ini lah bu. Sebentar bu." Taat merogoh sesuatu dari kantong celana jeansnya.


"Ini bu, desain rumah pohonnya," ucapnya sembari memperlihatkan sebuah desain.


"Wow, bagus. Tapi saya mau warnanya di ganti ya. Pakai waena yang bisa menyatu dengan alam aja. Kalau yang ini terlaly mencolok."


"Oke bu. Siap."


(Beberapa lama kemudian)


Usai makan siang, Taat dan Astrid kembali melakukan pekerjaannya. Taat mulai memaku-maku beberapa kayu dan yang lain, sedangkan Astrid membantu mengecat.


"Kalian kerjakan saja dulu, saya akan coba hubungi kantor untuk mengutus beberapa orang supaya membantu kalian menyelesaikan semua ini." Aku berbalik lalu mengambil tasku.


Aku masuk ke dalam mobil, kemudian melajukan mobil dengan segera.

__ADS_1


***


__ADS_2