My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 30~ ISTIRAHAT KEDUA


__ADS_3

Kami melanjutkan perjalanan. Untuk mengalihkan rasa capek, kami pun mendaki sambil bernyanyi. Layaknya anak pramuka yang tengah melaksanakan PERSAMI.


"Guys, kalau ada yang kelelahan, bilang ya. Jangan terlalu di paksakan guys. Kasihan," ucap Vinsen.


Napas kami mulai tersengal. Langkah demi langkah masih bisa kami lalui. Meski semakin berat.


"Istirahat dulu yok." Aku bersandar di sebuah pohon yang tengah kami lewati.


"Baiklah. Mari kita istirahat dulu yok. Yang mau minum atau makan gak pa pa ya. Isi aja tenaganya. Karena pendakian masih cukup jauh guys." Vinsen ikut bersandar lalu duduk.


Teman-teman yang lain pun duduk lalu beristirahat. Kami meneguk air demi air yang kami bawa.


Lima belas menit beristirahat membuat kami merasakan kantuk.


Aku menyandarkan kepalaku di pohon karena tak tak tahan dengan rasa kantuk yang melanda.


Kami memutuskan istirahat sebentar lagi. Akhirnya yang juga berbaring di atas rerumputan. Tak satupun yang terjaga.


(Beberapa menit setelah itu)


Aku bangun lalu mengintip jam di ponselku lalu menatap ke langit. Hari mulai siang. Perjalanan harus dilanjutkan sebelum gelap lagi.


Aku membangunkan yang lain lalu mengajak mereka melanjutkan perjalanan. Namun, tiba-tiba Bidadari merasa mules dan ingin buang air dulu. Ditemani oleh Auna, mereka pun mencari tempat pembuangan di semak-semak.


"Tunggu, aku ambil tisu dulu," Bidadari merogoh tisu. dari tas nya.


Mereka pun kembali ke semak-semak yang tidak begitu jauh. Sedangkan kami menunggu di peristirahatan tadi.


(Bidadari)

__ADS_1


Ketika menemukan tempat yang nyaman, Bidadari pun mulai menurunkan celananya lalu jongkok. Sedangkan Auna menunggu di beberapa langkah dari Bidadari.


"Buruan dong Dar." Auna menepuk tangannya yang digigit nyamuk.


"Bentar dong. Dikit lagi nih, nang-gung," ucapnya menahan


(Dari tempat peristirahatan)


"Duh, lama banget sih anak-anak itu." Bagus berdiri melihat-lihat ke sekeliling.


"Paling bentar lagi kok, sabar ya," ucapku berusaha meyakinkan Bagus dan yang lainnya.


Kami pun menunggu Auna dan Bidadari.


"Huh, maaf guys lama. Mules banget nih." Bidadari menghelus perutnya.


"Kamu gak lupa cebok kan?" ledek Bagus.


"Eh, tunggu. Auna mana?" tanyaku ketika sadar Bidadari hanya sendiri.


"Loh, bukannya dia bilangnya duluan, ke aku," jawab Bidadari bingung.


"Guys? Kamu serius, dia bilang gitu ke kamu?" tanya Jobes menatap Bidadari.


"Iya, aku dengar dengan jelas kok." Bidadari celingak-celinguk.


"Lah, trus dia kemana coba? Dari tadi belum balik loh." Vinsen melihat ke tempat Bidadari datang tadi.


Aku mulai cemas. Pikiranku mulai kemana-mana. Aku mulai mengkwatirkan Auna.

__ADS_1


"Ini gimana guys. Kita cari atau kita tunggu dulu?" tanya Jobes.


"Saran aku sih, mending kita susul rame-rame dan jangan ada yang mencar," jawab Vinsen.


Aku memeriksa ponselku berharap ada signal di sana, sayangnya tidak ada sama sekali. Aku bermaksud menelpon Auna, sayang sekali itu tidak terjadi.


"Guys, gimana kalau sebagian yang nyusul dan sebagian nunggu di sini, siapa tau dia balik ke sini," ucapku.


Suasana semakin menegangkan, kekwatiran dan kecemasan mulai menguasaiku. Seolah ada rasa bersalah dari dalam hatiku karena telah mengajak mereka semua untuk datang ke tempat ini.


Kami tidak melakukan apapun. Kami hanya duduk menunggu. Berharapa Auna akan kembali dengan selamat tanpa kurang apapun.


Kami masih menunggu dan terdiam dengan seribu tanya dan kecemasan.


(Beberapa Jam kemudian)


"Guys," Jobes menepuk lenganku dan Bagus yang duduk di sebelahnya.


Kami pun sontak menoleh.


"Ada apa?" tanyaku.


Jobes menunjuk ke suatu arah sehingga membuat pandangan kami tertuju pada arah telunjuknya yang menunjuk.


"AUNA!" Aku bangkit dari duduk lalu hendak berlari menghampiri Auna yang berjalan mendekat.


"Tunggu Nat!" cegat Jobes.


Langkahku pun terhenti ketika Jobes memberi abah-abah berhenti.

__ADS_1


***


Kira-kira apa yang terjadi yah guys,??


__ADS_2