My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 21~ Mimpi Buruk


__ADS_3

Ketika aku kembali terbaring kala malam, ada sebuah mimpi yang berulang. Penah muncul dalam tidurku ketika aku berada dalam sebuah angkutan.


Sepasang suami istri yang berdebat lalu kemudian menemukan seorang bayi perempuan di depan pintu rumahnya.


Sebenarnya apa yang tengah terjadi?


~~


Aku terbangun dengan sekujur tubuh yang berkeringat. Malam dingin begini, aku keringatan? Apa yang sedang terjadi sebenarnya. Semua terasa tidak jelas dan tidak masuk akal.


(Masih subuh)


"Hallo ma. Aku ganggu gak ma?"


"Eh, Nat? Ada apa sayang? Mama masih kerjain proposal kantor nak. Kenapa menghubungi mama subuh-subuh begini?"


"Ma, aku mau cerita sesuatu sama mama. Bla bla bla...."


Terdengar jelas suara Kezia dari bali telpon yang menunjukkan bahwa dia kaget dengan apa yang diceritakan oleh sang anak.


"Ma?"


"Mungkin perasaanmu aja kali Nat. Udab ah. Kamu tidur lagi. Mama masih punya banyak kerjaan. Bye."


"Ma mama, ma-" Mama langsung menutup telpon begitu saja.


"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang mencurigakan ya," gumamku.


~


Ketika aku keluar dari tenda, pemandangan langit cukup indah. Bintang-bintang seolah merapat di beberapa posisi. Bulan bersih keras menyendiri dan mengasingkan diri dari bintang-bintang.


Aku memandang ke langit dengan posisi berbaring. Meski terasa dingin, aku masih berada di luar tenda.


Menit-menit berikutnya, aku tertidur.


***


"Argggggghhhhhhhhhhhhh!!! TOLONG!!! TOLONG AKU!!!" Teriak seorang wanita dari dslam air.


"Nat, ulurkan tanganmu. Cepat." Seorang pria mengulurkan tangan, mencoba meraih tangan wanita itu.


Deg deg....


Wanita itu tak lagi muncul dan tak terlihat dari dalam air.


"NAT!!!!" Pria itu berteriak memanggil wanita itu.


Dengan tangisan yang luar biasa, dia menyelam untuk mencari wanita itu. Sayangnya dia tak menemukan tanda-tanda apapun. Dengan kekecewaan yang dalam, pria itu naik dari air lalu menangis meratapi kepergian wanita itu.


**


Aku tiba-tiba terbangun. Mataku membulat. Perlahan aku mulai sadar, bahwa yang terjadi itu hanyalah sebuah mimpi.


Matahari sudah berada di posisinya. Memancarkan sinarnya tepat di depan mata. Hembusan angin semakin hangat, deru ombak perlahan berangsur menepi di pasir-pasir.


Aku mengemasi barang-barangku lalu memeriksa jadwal penerbangan menuju Sumatera Barat.


***


(Di dalam rumah"


"Nat, kamu udah balik?" tanya kak Siti.


"Iya kak."


"Mau makan apa?"


"Ntaran aja deh kak. Masih capek banget nih."


Aku berjalan ke kamar. Menghempaskan tubuh ini tak berdaya. Aku memejamkan mata kembali mengingat-ingat tenatsng mimpi yang akhir-akhir ini hadir di setiap tidurku.


~~


(Usai mandi)


Aku melahap sepiring nasi goreng di meja makan. Ditemani oleh kak Siti yang asyik menatap ponselnya, santai.


"Kak..., aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya dengan tatapan tajam menatap kak Siti.


"Kenapa sih Nat? Serius amat. Ada apa?" Kak Siti meletakkan ponselnya lalu menatapku.

__ADS_1


"Kakak udah berapa lama kerja di sini?"


"Hmmmm. Udah lama banget Nat. Saking lamanya, Kakak ampe tau giman keluarga ini dulu hingga sekarang."


"Yang bener kak? Kalau begitu pasti kakak tau dong apa yang akan kutanyakan ini."


"Emangnya ada apa sih Nat?"


"Kakak, tau gak, cerita keluarga yang sering berantem tiap malam hanya karena istrinya tidak bisa kasi keturunan trus mereka menemukan bayi di depan rumah mereka.?


Deg


Deg


Deg


Kak Siti mulai gemetaran. Bahkan bingung apa yang harus dia katakan. Dia menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


"Kenapa kak?"


"Nggak, gak pa pa kok. Eh..., btw kakak ke kamar dulu ya."


Aku menarik lengan kak Siti.


"Jawab dulu kak."


"Aduh, kakak masih ada kerjaan lain Nat."


"Kak please..., jelasin ke aku semuanya. Aku mohon kak."


Kak Siti tidak menghiraukanku. Dia pun dengan tergesa-gesa berjalan ke kamar, meninggalkanku.


Aku mulai merasa curiga dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin mama dan kak Siti selalu berusaha mengabaikan pertanyaanku ini.


"Aku harus mencari tau, apa yang sebenarnya telah terjadi." batinku.


Aku kembali melahap nasi goreng dengan segera lalu kembali ke kamar.


**


Tingkah laku mama dan kak Siti membuatku tidak tenang jika tidak memikirkan hal ini. Tanpa sepengetahuan kak Siti, aku masuk ke kamar mama.


Pintu kubuka pelan agar kak Siti tidak menyadari aksiku.


Aku berusaha mencari sesuatu yang janggal di kamar mama. Kuperiksa lemari, laci, rak-rak buku, kasur, bantal dan..., sepertinya aku menemukan sesuatu.


"Sebuah surat dan foto? Siapa mereka? Kenapa ini ada di dalam kamar mama sama papa?"


Berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku. Aku pun mengambil surst serts foto tersebut lalu menyembunyikannya dalam saku celanaku.


Krekkkkkk.


Pintu dibuka. Betapa terkejutnya aku melihat kak Siti berada di kamar mama.


Deg deg....


Jantungku berdetak makin kencang dan cepat. Aku mulai takut jika kak Siti akan menemukan keberadaanku dalam kamar mama.


Tok tok tok.


Dari luar terdengar pintu di ketok. Kak Siti bergegas keluar untuk memeriksa siapa yang mengetuk pintu.


Aku mendengus ketika merasa lega akan kepergian kak Siti dari kamar mama. Dengan segera, aku keluar dari kamar itu menuju kamarku.


Aku mengeluarkan surat dan foto itu. Di balik foto itu, terdapat sebuah alamat yang sepertinya tidak asing bagiku.


"Puro II,"


Tok tok tok!!!


"Nat, ada yang cariin kamu."


"Siapa kak?" Aku keluar dari kamar usai menyelipkan foto dan surat itu di bawah bantal.


~


"Jobes?"


"Hai Nat?"


Aku menjadi kebingungan dan keheranan dengan kehadiran Jobes di sana. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sudah pulang?

__ADS_1


Akhirnya aku mengajaknya masuk lalu duduk di ruang tv.


~~


"Gimana kuliahnya?" tanyaku sambil menyantap cemilan bersamanya.


"Yah..., begini lah. Bentar lagi aku nyusun Nat."


"Wow. Hebat kamu." Mataku membulat kegirangan tak menyangkah juga dengan pencapaian Jobes. "Hebat kamu."


"Hehehe. Kamu?"


"Kayaknya aku lebih senang jalan-jalan bebas kemana saja deh. Paling gak suka sama yang rutinitas."


"Kamu udah ada kerja belum?"


Aku mengernyitkan kening.


"Hehehe.... Belum sih." Sambil cengar-cengir.


Jobes terlihat mulai serius. Dia menghadap ke arahku.


"Kalau gitu, kamu kerja di tempap papa aku aja. Kebetulan perusahaan papa fokus sama yang pariwisata-pariwisata gitu. Kamu kan suka jalan-jalan, bisa dong sambil kerja."


Aku melirik Jobes dengan satu alis yang naik.


"Kamu serius dengan tawaran itu?" tanyaku mamastikan.


"Yakin dong Nat. Kamu bisa jalan-jalan juga dong."


"Hey, tapi kan aku bisa dikatakan latar pendidikanku aja putus di tengah jalan. Hahahaha. Ada- ada aja. Jobes.... Jobes...."


"Hey, kamu sadar kan sedang bicara dengan siapa?"


"Yah tau lah. Sama sahabat aku sendiri."


"Itu tau. Hehehe. Nat aku serius tau. Aku udah ngomong sama papa waktu itu. Maka nya aku ke sini buat bilangin ke kamu. Kamu mau gak?"


"Kalau kamu bisa menerima kerja di tempat papa, kita bisa sering ketemu Nat. Mungkin dengan begitu, bisa numbuhin rasamu ke aku," Batin Jobes sambil senyum-senyum sendiri.


"Aku pikirin dulu deh."


"Jangan kelamaan mikirnya. Kasihan aku yang nunggu terus."


Aku menjitak kepala Jobes gemes.


**


Ting!


Aku meraih ponselku. Sebuah pesan masuk.


"Nat, kenapa gak bilang ke aku kalau kamu balik ke rumah?"


"Maaf, gak sempat. Lagian, aku buru-buru."


"Kalau kamu bilang, aku bisa antarin kamu."


Aku meletakkan ponselku. Kemudian aku mencoba menyalakan laptopku.


Aku mencoba mencari tahu tentang perusahaan papanya Jobes.


"Kalo aku bisa kerja di sini, seluruh daerah terpencil yang menjadi tujuan destinasiku dulu, bisa kudatangi. Lumayanlah. Jalan-jalan tapi bisa dapat." ucapku dalam hati.


"Jobes, sahabatku yang paling ganteng..., oke aku terima tawaranmu." Aku mengirim pesan ke nomor Jobes.


~~


Ketika menerima pesan dari pujaan hatinya, Jobes bersorak kegirangan.


"Yes!" Jobes tersenyum puas.


Dia berbaring di kasurnya sambil membayangkan hari-hari yang akan dilakuinya bersama pujaan hatinya.


~~


Nat kembali berbaring di atas kasurnya sambil membayangkan tempat-tempat indah yang akan didatanginya dalam waktu dekat ini.


Betapa senangnya dia. Tiba-tiba wajah Jobes terlintas dalam lamunanya. Dia pun segera menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghapus lamunan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2