
Acara malam itu berakhir hingga subuh. Ketika satu per satu dari mereka yang hadir mulai pamit pulang. Begitu pula dengan keempat sahabatku itu. Mereka memutuskan untuk pulang karena ada pekerjaan yang harus dilakukan paginya.
Aku dan mama kembali masuk ke dalam rumah. Masuk ke dalam kamar masing-masing. Sedangkan kak Siti membereskan semuanya lalu kembali ke kamarnya untuk istirahat.
~~
Aku masih terjaga. Berbaring di kasur menatap ponselku. Melihat-lihat beberapa foto ulang tahun yang baru saja terjadi.
Aku terbawa dalam lamunan. Membayangkan banyak hal tentang kejadian malam ini.
Kebahagiaanku benar-benar dalam malam itu. Membekas hingga detik ini.
"HOAM!" aku meletakkan ponselku di atas meja lalu berbaring.
Aku merasa sedikit mengantuk lalu tanpa kusadari, aku terlelap dalam tidurku.
**
(Panca)
Dia masih terbaring di atas kasur, menatap ke layar ponselnya. Entahlah apa yang tengah dia perhatikan dan pikirkan.
*
(Esok paginya)
Aku melihat mama yang duduk di sofa sambil menonton tv. Aku menghampirinya begitu selesai mandi dan bersih-bersih.
"Pagi mama." Aku memeluk mama dari belakang.
Mama menoleh lalu tersenyum. Aku duduk di samping mama, bersandar di bahu mama.
"Ma, datang kok gak bilang-bilang sih ma." Aku melongok melihat ke mama.
"Kalau mama bilang, bukan surprise dong namanya."
Aku hanya tersenyum melihat mama. Benar juga kata mama. Mama mengelus rambutku dengan lembut.
"Oh ya, mama gak ke kantor?" aku bangkit.
"Gak sayang. Mama ambil cuti."
Aku merasa lega mendengarnya.
"Kak Siti mana ma?" Aku celingak celinguk mencari kak Siti.
"Ke pasar katanya. Kamu udah sarapan?"
"Belum ma."
Aku berjalan ke dapur. Menyediakan sereal lalu kembali ke sofa untuk menyantapnya.
"Oh ya, kamu benaran gk kuliah lagi waktu itu?"
"Gak ma. Kena DO dari kampus. Lagian aku sebenarnya memang mau berhenti aja sih ma."
"Loh, kenapa? Hobi travellingmu yang nyuruh berhenti?"
"Hahaha, mama. Aku sekarang udah kerja ma. Yah, kerja sambil jalan-jalan."
"Kerja dimana? Emang ada yang mau nerima karyawan kayak kamu? Hahaha."
"Ada dong ma. Perusahaan papanya teman aku ma."
"Jadi apa?"
"Jadi tour guide. Hehehe."
"Yah udah gak pa pa. Dibanding gak ada kegiatan. Padahal mama mau ajak kamu ke luar negeri dan tinggal di sana. Gak jadi deh."
__ADS_1
"Ah, bosan kali ma. Waktu kecil juga udah di sana. Aku maunya jalan-jalan di daerah kecil aja ma."
"Yah udah gak pa pa. Lanjutin aja. Eh, itu makannya kok tumpah-tumpah. Kayak anak kecil deh."
"Hhehehe. Iya ma. Ntar aku bersihin. Lagian, lapar banget nih."
~~
Jobes tiba di rumahku. Aku segera berpamitan lalu pergi bersama Jobes.
Tak beberapa lama, kami tiba di kantor.
(Di ruang kerja)
Aku mendapati mejaku bertumbuk beberapa berkas. Aku duduk di kursi ku. Kupandangi berkas-berkas itu dari bawah sampai atas, puncak tumpukan.
Aku menggeser berkas lain, agar lebih mudah diselesaikan tahap per tahap. Aku sama sekali tak mengeluh dengan pekerjaan itu.
Ketika aku menggesernya, selembar kertas jatuh di bawah meja. Aku berusaha meraihnya, namun tiba-tiba Jobes memanggilku hingga ku batalkan nitaku untuk mengambik kertas itu.
"Ada apa Bes?" tanyaku berjalan bersama Jobes menuju ruangan Pak Jaya.
"Papa mau bicara sesuatu sama kamu. Mungkin mau menjodohkan kita, hehehe." Jibes cengengesan.
Aku menjitak bahunya. Mendengar perkataan lelaki itu, aku mulai merasa cemas akan sesuatu.
PLOK PLOK PLOK.
Hentakan sepatuku terdengar dengar jelas. Seolah mendominasi kebisingan kantor itu. Aku mengetuk pintu ruang Pak Jaya lalu masuk.
"Selamat pagi Pak." Aku menunduk.
"Selamat pagi. Silakan duduk." Pak Jaya duduk di kursinya.
Aku pun demikian. Sedangkan Jobes masih berdiri di belakangku.
"Ada apa ya bapak memanggil saya?" tanyaku.
Setelah selesai, aku dan Jobes kembali ke ruangn kerja.
Ketika aku berdiri tepat di depan meja kerjaku, aku kembali mengingat akan selembar kertas di bawah meja. Aku meraihnya lalu bermaksud membuangnya di tempat sampah. Namun niatku buyar seketika begitu kulihat sebuah nama yang tak asing bagiku.
'Hai Nat. Apa kabar? Lama tak jumpa. Siang nanti, aku tunggu di kafe depan ya. Jangan lupa.'
(Vinsen)
Begitu isi tulisan dalam kertas itu. Aku menjadi bertanya-tanya, mengapa Vinsen ingin bertemu denganku.
Aku duduk di kursiku, melanjutkan pekerjaanku.
(Beberapa lama kemudian)
Kepalaku terasa pegal. Aku meregang-regangkan tubuhku lalu menyandarkan kepala pada punggung kursi yang empuk.
~
Jam makan siang telah tiba. Aku membereskan berkas-berkas lalu merapikannya di sudut meja agar tidak berantakan dan berhamburan di tiup angin.
"Bes, aku duluan ya."
"Oke oke." Jobes masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
Aku bisa melihat bahwa sebenarnya dia ingin menghentikanku tadi, sayangnya langkahku terlalu terburu-buru hingga dia merasa segan untuk mencegatku.
Aku berjalan menyeberangi jalan menuju sebuah kafe depan kantor.
Aku melihat sekitar kafe, berusaha menemukan keberadaan Vinsen.
"NAT!" teriak seseorang.
__ADS_1
Aku langsung menoleh lalu menyusul orang itu, yah Vinsen. Dia duduk di pojokan.
Begitu sampai di meja itu, aku segera duduk.
"Hai!"
"Hai," jawabku melempar senyum.
"Mau langsung pesan makanan?" tanyanya.
"Iya, boleh."
Seorang pelayan datang ketika Vinsen melambai.
Tak beberapa lama, pesanan mendarat di meja kami.
"Lama gak jumpa ya," ucapnya.
"Yah," singkatku sambil menyedot jus jeruk di depanku.
"Semuanya baik-baik aja kan?" tanyanya yang juga sedang menyedot es teh manisnya.
"Semua baik-baik aja kok. Oh ya, kok kamu bisa tau kalau aku kerja di sana?" aku menunjuk ke seberang, ke arah kantor.
"Tentu saja. Yang punya perusahaan itu papa ku." Vinsen tersenyum.
"Apa? Ini seriusan?" tanyaku kaget tak percaya.
"Jangan bilang, kamu yang merekomendasikan aku kerja di sana dan Jobes itu adalah saudara kandung mu?" Aku berhenti menyantap makananku. Aku memelototi Vinsen yang terlihat santai badai.
"Uhm. Iya. Jobes itu adek aku. Dan aku tidak menyangka bahwa kalian kawan sekampus. Aku..., aku barus tau ketika aku melihat foto-foto kalian di kamar Jobes. Dari situ aku tau semuanya. Dan..., Jobes cerita tentang kamu ke aku."
"Tunggu! Jadi maksud semua ini apa?" Aku menyeruput jus jerukku.
Vinsen menyudahi makannya, mengusap mulutnya dengan tisu lalu menatapku dengan serius.
"Nat, aku mau semua nya jelas. Maksudku aku mau ngejelasin semua sama kamu tentang waktu itu. Kamu hanya salah paham."
"Waktu itu, yang mana ya?" Aku mengernyitkan alisku.
"Waktu aku berdua sama seorang wanita yang tengah mengandung. Kamu ingat kan?"
"Sebenarnya, dia bukan istriku."
"Maksudnya?"
"Dia adalah wanita yang dihamili oleh adikku."
"Jobes?" Aku semakin heran.
"Bukan, bukan. Adik ku satu lagi. Dia menghamili wanita itu, tapi dia tidak mau bertanggung jawab atas anak itu. Wanita itu meminta tolong padaku untuk berpura-pura menjadi suaminya, karena dia tidak mau jika orang tuanya tau. Aku, aku hanya membantunya saja. Tapi hubungan kami tidak ada sama sekali. Dan, wanita itu juga adek kelas aku waktu itu. Jadi, aku hanya membantunya."
Aku seketika merasa bersalah atas kesalahpahaman itu.
"Lalu bagaimana dengan saudaramu itu? Kenapa dia tidak mau bertanggung jawab?"
"Entahlah Nat. Dia melarikan diri dan sampai saat ini kami sekeluarga tidak tau dimana dia berada selama ini."
"Wanita itu bagaimana?"
"Dia tinggal di rumah kami. Sebagai permintaan maaf keluarga, jadi dia boleh tinggal di rumah dan diperlakukan sebagai menantu di keluarga Jaya."
"Dan..., alasan di mana aku tiba-tiba meninggalkan mu waktu itu, yah karena ini. Aku harus mengurus semuanya ini.... Maafin aku ya Nat. Aku baru bisa cerita ini sama kamu." Vinsen maraih tanganku.
Aku tersenyum turut prihatin dengan kondisinya.
"Aku juga minta maaf, udah salah paham."
Setelah itu, aku dan Vinsen kembali dekat.
__ADS_1
***