My Last Kiss

My Last Kiss
CHAPTER 31 ~ SEMAKIN CEMAS


__ADS_3

"AUNA!" Aku bangkit dari duduk lalu hendak berlari menghampiri Auna yang berjalan mendekat.


"Tunggu Nat!" cegat Jobes.


Langkahku pun terhenti ketika Jobes memberi aba-aba berhenti.


Aku melangkah mundur. Jobes pun melangkah perlahan.


"Perasaanku gak enak guys." Jobes mulai memelankan suaranya.


"Maksud kamu gimana?" tanyaku.


Anak-anak yang lain terlihat mulai cemas dan ketakutan, namun tidak dengan Vinsen. Dia pun melangkah maju, berdiri di samping Jobes.


Kami melihat ke asal sosok Auna. Dia hanya menunduk dan berdiri, diam di tempat.


"Ini benar-benar mencurigakan," bisik Vinsen.


"AU, JANGAN BECANDA DONG!" teriak Bidadari yang kemudian bangkit.


"Hush. Kamu apa-apaan sih Dar." Timpal Bagus.


Mata kami tertuju fokus pada arah sosok Auna.


"Na, buruan kesini. Dari mana aja kamu. Sini, cepat!" seru Bidadari mencoba melambai memanggil Auna.


Bukannya mendekat, sosok itu malah berbalik lalu berjalan semakin jauh.


"AUNA!" teriakku hendak berlari mengejar Auna.


"Nat! Itu bukan Auna. Percaya sama aku." Vinsen menahanku.

__ADS_1


"Ada yang aneh dengan semua ini." lanjut Vinsen.


Seketika Auna tak terlihat. Kami pun langsung melihat sekeliling, berusaha menemukan Auna. Tapi, aneh. Benar-benar aneh Dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


Kami masih berusaha mencari-cari Auna.


"Hey guys! Sorry kelamaan!" seru Auna yang tiba-tiba muncul. Napasnya masih tersengal karena berlari, sepertinya.


Kehadirannya yang tiba-tiba, tentu saja membuat kami tersentak kaget dan takut.


Plak plak!


"Ini kamu kan Na?" tanya Bidadari yang menepuk pipi Auna, berusaha memastikan bahwa Auna itu adalah Auna sahabat kami.


"Ish. Sakit tau! Ya ya lah. Ini aku. Emang siapa lagi?" seru Auna mengeluh kesakitan karena di tepuk oleh Bidadari lalu menyingkirkan tangan Bidadari dari pipinya.


Kami masih sangat cemas. Berusaha membuang pikiran buruk dan percaya bahwa itu adalah Auna.


"Yok!" Jawabku.


Kami pun berusaha melupakan kecemasan kami lalu dengan segera melanjutkan perjalanan.


(Dalam perjalanan)


"Kok, tiba-tiba Auna datang dengan tampang biasa aja ya?" gumam Bagus.


"Sebenarnya apa yang terjadi tadi?" batin Jobes.


"Jangan-jangan yang tadi itu, hantu, iiiiiii." pikir Bidadari.


"Benar-benar aneh," ucap Jobes dalam hatinya.

__ADS_1


Berbagai prasangka terlintas di pikiran kami masing-masing.


"Guys, apapun yang terjadi tadi, lupakan saja. Anggap saja tak ada yang terjadi. Oke ya." Vinsen menyemangati kami.


"Oke guys!" balas kami ramai-ramai.


~~


"HUFFT! AKHIRNYA SAMPAI JUGA GUYS!!" Teriak Jobes yang telah sampai di puncak.


"HUHHHH!" disusul oleh Bagus.


"YEY!"


"AU WO OH!"


Kami semua sudah berdiri di puncak gunung itu. Akhirnya pendakian yang melelahkan kini dibayar lunas dengan pemandangan yang menakjubkan.


Aku merebahkan tubuhku di tanah. Dengan napas lega yang meski masih tersengal. Kemudian di susul oleh yang lainnya yang ikut merebahkan tubuhnya di atas tanah. Rasanya terbayar sudah rasa capek kami saat itu.


Aku melihat ke arah Vinsen yang berbaring di sebelah kananku. Kemudian Vinsen menatapku balik lalu meraih tanganku. Kini tangannya menggenggam tanganku.


"Guys, sepertinya, kita, melupakan, sesuatu." Bagus melirik ke arah kami semua.


Sontak kami berusaha berpikir apa yang terlupakan.


Bagus bangkit, meraih tasnya lalu membukanya. Ketika kami melihat apa yang dikeluarkannya, kami pun baru tahu.


"BENDERA MERAH PUTIH!" teriak kami serentak.


Karena sudah tau, kami pun meraih bendera itu dari tas masing-masing lalu menancapkannya di pinggir puncak gunung itu. Kemudian kami saling menatap kagum dengan berkibarnya bendera Merah Putih.

__ADS_1


***


__ADS_2