
BRUK!!!
Aku menghempaskan tubuhku di kasur. Menghela napas dalam-dalam lalu menghembusnya.
Beberapa lama kemudian, aku beres-beres, mandi lalu makan.
Aku duduk di sofa ruang televisi. Aku menyalakan Tv. Kemudian, ponselku berdering.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Itu artinya, beberapa pesan telah masuk. Aku mengintipnya. Kulihat Bidadari mengirim beberapa foto di grup chat. Aku mengusapkan tanganku yang baru saja memegang cemilan lalu meraih ponselku.
Aku membuka file foto yang dikirimkan oleh Bidadari. Seketika aku menjadi senyum-senyum sendiri melihat foto-foto yang diambil ketika pendakian kemaren.
~
~
~
~
Esok paginya, aku berkunjung ke hotel milikku. Dengan pakaian yang santai, aku pun berjalan melewati teras lalu berjalan menuju ruanganku.
"Selamat pagi, bu," sapa para pekerja di sana.
"Selamat pagi," jawabku mengangguk lalu tersenyum.
PLOK PLOK PLOK!!
KREKKKKK!!
Aku pun tiba di ruanganku. Kuletakkan tas ransel kecilku dan melepas jaket jeansku di atas meja.
Aku meraih mouse komputer lalu memeriksa cctv seluruh ruangan di hotel.
Telpon berdering, aku pun meraihnya lalu menjawab panggilan.
"Bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan ibu," ucap seorang wanita di balik telepon.
"Baik, silakan mengarahkannya ke ruangan saya." Aku menutup panggilan lalu menaruh kembali telepon itu.
Aku menonaktifkan komputer di mejaku lalu membereskan meja yang tadi nya penuh.
CEKLEK!!
Pintu ruangan di buka. Aku segera menoleh ke arah pintu.
"Selamat pagi, Ibu Natasia Nouban." Seorang Pria dewasa dengan tongkat di tangannya mendekat menjabat tanganku.
"Hallo Pak Jaya. Senang sekali bertemu dengan anda lagi. Ayo pak, silakan duduk." Aku kembali duduk.
"Tidak menyangkah kau sukses sejauh ini. Luar biasa!" ucapnya sambil mengisap rokoknya.
"Hahaha, Pak Jaya sepertinya lupa bercermin. Bapak selalu merendah agar ditinggikan. Perusahaan makin maju ya pak. Beberapa cabang di dimana-mana dan investasi di mana-mana juga. Saya, yah..., masih begini pak." Aku menatap Pak Jaya kagum.
"Aduh, Nat. Jangan berlebihanlah. Saya sendiri bingung siapa yang akan mengurus perusahaan besar itu. Lihatlah, usia saya saja sudah tidak lama lagi. Uhuk uhuk!" Pak Jaya mulai batuk-batuk.
__ADS_1
"Loh, bukankah bapak memiliki tiga putra yang bisa membantu bapak untuk mengurusnya pak?" tanyaku.
"Benar, sayangnya hanya dua orang yang bersedia. Jobes dan Vinsen bersedia membantu, sedangkan satu lagi..., entahlah dimana dia. Sudah lama dia tidak kembali."
"Saya, turut prihatin pak. "
Pak Jaya melihat-lihat ruangan serta berbagai postes di ruanganku lalu perlahan bangkit.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, saya pergi dulu. Tidak ingin mengganggu mu." Pak Jaya tersenyum ramah.
"Ah, iya pak. Terima kasih sudah datang pak. Sampai jumpa lagi." Aku mengantar sampai depan pintu ruanganku.
Ketika aku kembali, kulihat sebuah kertas di lantai. Aku pun mengambilnya lalu melihatnya,
"Sepertinya ini milik pak Jaya," aku keluar dari ruangan bermaksud menyusul pak Jaya untuk mengembalikan foto itu.
Aku kembali memperhatikan foto itu. Disana ada Pak Jaya, istrinya, Vinsen, Jobes dan....
"Ha? Kok bisa? Bagaimana mungkin?" tanyaku pada diri sendiri di dalam ruangan itu. Aku benar-benar tak menyangkah kalau putra pak Jaya adalah Han.
"Jadi selama ini..., tidak tidak. Ini tidak mungkin."
Aku meletakkan foto itu di meja dan duduk di kursi dengan perasaan syok. Bagaimana tidak, jika aku melanjutkan hubunganku dengan Vinsen yang ternyata kakak kandung Han, semua akan kacau.
"Bagaimana mungkin semuanya kebetulan begini? Atas semua yang sudah aku dan Han lalui, bagaimana bisa aku..., tidak tidak. Aku tidak mau. Tidak akan pernah terjadi." Aku mengacak-acak rambutku frustasi.
"Aku dan Han pernah melakukan sesuatu yang gak pantas, bagaimana bisa aku dan dia menjadi ipar. Aku yakin, Han tidak akan pernah membiarkan aku hidup dengan tenang. Aku tidak bisa dengan semua ini."
~
Beberapa lama kemudian, ponselku berdering. Aku mengintipnya. Disana, Vinsen sedang menelponku.
Ting!!
Vinsen mengirimkan pesan.
"Sayang, kamu sibuk ya? Yah udah, aku cuma mau bilang kalau nanti malam kita dinner di rumah papa ya. I love you."
~
~
~
"Tidak akan jadi masalah, selama Han tidak di rumah Pak Jaya. Bukankah dia ada di Jakarta." Aku masih bercermin. Bersiap-siap di jemput oleh Vinsen, karena kami akan dinner di rumah mereka.
Tin tin tin!!!
Aku bergegas keluar begitu mendengar suara klakson mobil Vinsen.
Aku membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil.
"You look so beatifull in night," ucap Vinsen memperhatikanku dari ujung kaki sampai kepala.
~
~
__ADS_1
Kami pun tiba di rumah pak Jaya. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke rumah itu. Aku melangkah dengan ragu. Namun, Vinsen meraih tanganku lalu mengajakku masuk.
(Di meja makan)
Disana sudah tersedia berbagai macam menu makanan. Orang-orang mulai berkumpul.
"Hello Natasia Nouban?" sapa Pak Jaya heran bahwasannya sebelumnya dia tak pernah tau tentang kedekatanku dengan putranya, Vinsen.
"Papa tidak menyangkah bahwa calon menantu papa adalah Natasia Nouban, sang dermawan." Pak jaya menjabat tanganku.
Kemudian seorang wanita bule datang menghampiriku.
"Hallo tante."
"Nat, ini mama." Vinsen merangkul sang mama.
Aku pun menjabat tangan mamanya Vinsen.
"Wah, so beautiful. Kamu sangat cantik sekali." ucapnya dengan logat-logat kebuleannya.
"Pantesan Han bentukannya kayak bule, darah mamanya ngalir lebih banyak ke dia," batinku sembari aku duduk.
Orang-orang semua duduk di kursi. Namun entah mengapa makan malam belum di mulai.
TAK TAK TAK!!!
Bunyi sepatu seseorang menuruni tangga. Langkahnya mulai mendekat lalu duduk di kursi depan, di hadapanku.
DEG!
Aku benar-benar tak menyangka Han ada di sana. Bukankah dia melarikan diri?
Aku menatapnya dengan mata membulat tak percaya.
"Nat, ini adik aku Han," ucap Vinsen.
Han mengulurkan tangan berpura-pura baru kenal. Dengan ragu, aku menjabat tangannya.
Aku segera mengalihkan pandanganku ketika kusadari Han terus menatapku dengan tatapan seolah memiliki rencana picik padaku.
~
~
Makan malam pun berakhir. Aku menunggu Vinsen di ruang tengah sambil melihat-lihat foto keluarganya yang terpampang di dinding dan meja.
"Lama gak jumpa."
Aku tersentak kaget ketika Han berbisik padaku.
"Kau sombong sekali. Kau lupa semua tentang kita?" ucapnya.
Aku mencoba menghindarinya. Tiba-tiba dia menyentuh pinggangku.
"Han, apa yang kau lakukan? Lepaskan." Aku menghempaskan tangan Han dengan kasar.
"Waauw. Kau suka bermain kasar rupanya," bisiknya lagi.
__ADS_1
"Hey, kalian terlihat akrab." Vinsen tiba-tiba datang. Untung saja dia tidak melihat apa yang telah terjadi. Kami pun berangkat ke arah rumahku.
***