
Setibanya di bandara di London)
Sebuah taxi berhenti di depan kami. Tentu saja kami berhenti lalu di hampiri oleh supir taxi.
"Permisi, mbak Nat?" tanya yang membuat aku dan Panca saling menatap heran, rupanya pria matang itu juga orang Indonesia.
"Ya, benar. Bapak yang diminta Bu Kezia untuk menjemput kami?" tanyaku.
"Ya, betul. mari saya bantu." Pria itu meraih koper lalu memasukkannya di bagasi.
Aku dan Panca segera masuk ke dalam taxi.
"Bapak orang mana, pak?" tanya Panca.
"Saya orang Jakarta mas. Nama saya Supri." jawab pria dewasa itu.
"Oh, iya pak Supri. Saya Panca Pak, ponakannya tante Kezia. Gak dekat sih Cuma, mama saya dan tante Kezia itu teman akrab banget udah kayak sodara, jadi yah jadi keluarga sekalian."
"Oh gitu ya mas. Saya kira tadi pacarnya mbak Nat."
"Ah, pak Supri," jawabku menyela.
"Bapak udah lama kerja di tempt mama?" tanyaku.
"Ya, mbak. Udah lama banget. Bahkan sejak pertama, nyonya sama tuan baru nikah.Termasuk sebelum mbak Nat, diasuh oleh nyonya dan tuan. Dulu itu ya mbak, tuan dan nyonya hampir berpisah karena nyonya tidak bisa memberikan keturunan pada tuan, dan.... hingga suatu hari ketika mereka berdebat besar, mereka menemukan seorang bayi yang diletakkan di depan pintu rumah tuan dan nyonya. Mereka pun merawat dan membesarkan mbak. Tidak menyangkah, mbak kini sudah dewasa. Cantik lagi." jelas Pak Supri sambil menoleh dari kaca spion.
Mendengar penjelasan Pak Supri, tentu saja aku menjadi bertanya-tanya dan merasa seolah hatiku hancur seketika.
__ADS_1
"Jadi, pak. Sebenarnya, saya ini bukan anak kandungnya Mama sama Almarhum papa?" tanyaku memastikan kembali.
Mendengar pertanyaanku, Pak Supri pun menjadi gagu untuk menjawab. Dia baru sadar bahwa tadi dia sudah kecoplosan mengatakan yang sebenarnya.
"Nat.... Kamu tenang dulu. Mending kamu tanya dulu ya sama tante. Tante pasti punya alasan kenapa tidak mengatakan langsung ke kamu." Panca menghelus pundakku berusaha menenangkan aku yang mulai merasa down dan berusaha menahan tangis.
Aku masih berusaha menahan gejolak kekecewaan hanya demi melihat mama tetap bahagia di hari pernikahannya nanti. Aku bermaskud tidak mengacaukan semuanya. Aku pun memutuskan untuk tetap tenang dan berusaha menahan berbagai pertanyaan dalam hatiku yang terus meronta-ronta ingin diungkapkan.
~
~
~
Kami tiba di sebuah tempat. Pak Supri keluar dari mobil lalu mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Aku dan Panca pun kluar dari taxi lalu memperhatikan sekelilng.
Seorang wanita keluar untuk menghampiri kami.Siapalagi kalau bukan wanita yang telah mengasuhku sejak bayi hingga saat ini.
Aku menyambutnya dengan senyuman dan pelukan. Pelukannya belum dilepas dariku. Melihat aku yang berusaha menahan gejolak di hari, Panca mencoba memberikan aku isyarat untuk tetap tenang.
~
~
Kami pun masuk ke dalam rumah mama. Di sana, kami disambut oleh beberapa orang dan tentu saja dengan pemandangan yang luar biasa megah. Disana aku bisa melihat betapa bahagianya sang mama. Aura bahagia terpancar di wajahnya melalui senyumnya yang hanga hyang membuatku teertahan untuk merusak segalanya. Kini aku kembali melihat aura kebahagiaan itu darinya setelah almarhum papa meninggalkan kami.
Mama pun menuntunku dan Panca ke kamar masing-masing. Tentu saja, sang mama tidak menyangkah anak sahabatnya bisa datang di hari bahagianya yang sebentar lagi akan tiba. Sayang sekali, sahabatnya itu tidak bisa datang. Sehingga terkesan bahwa Panca mewakilkan sang mamanya.
__ADS_1
~
~
(Malam hari di rumah mama)
"Gimana kerjanya di sana, sayang?" tanyanya menatapku.
Aku yang duduk di sofa bersama panca menyunggingkan senyum.
''Lancar kok ma. Semua baik-baik aja.''
''Mmmmm. Syukurlah. Mama sangat mengkwatirkan kamu sayang. Apalagi waktu mama tau kalau rumah yang baru kamu beli kebakaran. Kamu yang sabar ya sayang.'' Mama mengelus rambutku dengan lembut.
''Loh, mama tau dari mana, kalau rumahku kebakaran?'' tanyaku heran. Sepengetahuanku, aku tidak pernah menceritakannya pada mama.
Aku langsung melirik ke arah panca ketika mama juga meliriknya.
''Ya kali, masalah anaknya sendiri gak boleh diketahui mamanya. Lagian kamu sampai hati gak cerita ke tante. Yah udah aku wakilin.'' Panca cengengesan merasa paling benar.
Aku hanya menghembus napas kesal.
''lagian kamu kok gak mau cerita ke mama sih, sayang?"
''Gak pa pa sih ma. Aku cuma gak mau bikin mama kepikiran. Toh, aku bisa jalani semuanya kok.''
''Ya seenggaknya kamu cerita ke mama. Biar mama gak kwatirin kamu berlebihan.''
__ADS_1
''Ya ma. Aku baik-baik aja kok.''
**