
(Di balkon)
"Mama sangat menyayangimu nak. Kehadiranmu membawa bahagia dalam hidup papa dan mama. Mama gak mau kehilangan kamu, Nat."
Aku menatap mata mama yang mulai berkaca-kaca. Aku pun kembali memeluk mama. Hangat peluknya dapat aku rasakan.
~
~
~
(Esok harinya)
Aku dan Panca telah bersiap-siap untuk berangkat karena hari ini juga, kami harus balik ke Indonesia.
Kami berdiri di halaman. Menunggu semua siap. Setelah pak Supri selesai menyusun barang di bagasi, aku dan Panca bermaksud berpamitan kepada mama dan Ayah. Andri sendiri akan segera menyusul setelahnya.
Aku memeluk mama. Air matanya tak lagi sanggup dibendung hingga dengan pasrah meneteskan air mata, membasahi pipinya.
"Aku balik ya ma." Aku melepas pelukan mama.
"Kapan-kapan main kesini lagi ya Nat." Mama menyeka air matanya.
"Pasti ma."
~
~
~
Pesawat mendarat di bandara. Aku dan Panca pun segera ke luar lalu mencari taxi.
Tak menunggu lama, akhirnya sebuah taxi berhenti di depan kami. Dengan segera, kami melaju ke arah apartment sepupuku itu.
"Gak kerasa ya, kita bentaran doang di Londonnya." ucap Panca di dalam Taxi.
"Iya."
"Padahal, aku masih pengen lama-lama di sana."
__ADS_1
"Uhm.... Bilang aja, kamu mau cari pacar di sana."
"Hahahaha. Gak juga sih Nat. Tapi, iya sih, dikit. Seperti kata pepatah, nyelam sambil tenggelam."
"Minum air, tolil."
"Nah, itu. Gak sempat. Hahahaha."
~
~
~
(Apartment Panca)
Aku segera masuk ke dalam kamar lalu segera menghempaskam tubuh di atas kasur.
Entahlah. Apakah aku merasa lega dengan semua kenyataan yang telah kuketahui, atau apalah. Pada lain sisi, aku merasa beruntung karena dipertemukan dengan keluarga yang merawatku seperti anak kandung sendiri. Orang seperti mereka sangat sulit ditemukan di dunia ini.
Aku tersenyum sendiri mengingat kebenaran yang telah terungkap. Berpikir bahwa, betapa beruntungnya aku jadi anak manusia.
"Hoi!!!" ucap Panca di depan pintu membuatku kaget
"Bukan ngalu tolil. Aku tuh lagi mikir sesuatu gitu." Aku bangkit duduk.
Panca duduk di sampingku.
"Mikirin apa?" tanyanya penasaran.
"Aku tuh mikir, betapa beruntungnya aku karena dirawat dan dibesarkan oleh keluarga yang baik dan sangat menyayangiku."
"Iya Nat.Tante dan almarhum om sangat baik, karena telah membesarkan gadis kecil imut, lucu, pinter, tapi sayangnya sedikit gak peka sama lingkungannya."
"Maksudnya?!" aku menatap lelaki itu dengan tajam.
Pandangan Panca mengarah ke bawah.
Aku pun mengarahkan pandanganku. Dengan segera, aku mengangkat kakiku yang telah menginjak kaki telanjangnya Panca dengan sneakerku yang tapaknya keras, hingga membuat kaki Panca memerah.
"Maaf, sepupuku yang ganteng tapi jomblo." Aku cengengesan.
__ADS_1
"Uhm," jawabnya sedikit kesal.
"Yah udah deh, sebagai permintaan maafku, ntar malam aku traktir deh."
"Oke."
"Giliran traktir doang, semangat nya luar biasa."
"Oh, harus dong."
"Nanti aku ajak Astrid dan Taat deh, makan bareng."
"Uhm.... Ide yang cemerlang lang lang."
~
~
~
(Malam hari)
Aku sudah bersiap keluar. Dengan mengenakan celana jeans panjang, baju kaos putih dan jaket jeans.
"Yok!" seruku ketika Panca keluar dari kamarnya.
"Let's go."
Kami pun mulai berangkat. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Kamu udah kabari mereka kan?" tanya Panca yang tengah memperhatikan arah jalan.
"Mereka siapa?" tanyaku polos.
"Yah elaaa. Tadi kamu bilangnya Astrid dan Taat ikut?" tanyanya lagi.
"Gak tuh."
"Serius Nat cantik."
"Oh iya. Aku baru ingat. Udah kok." Aku cengengesan melihat ekspresi sepupuku itu yang sempat kesal.
__ADS_1
**