
(Keesokan harinya)
Cahaya matahari menembus ke dalam tenda hingga membuat mataku silau. Aku membangunkan Vinsen yang masih tertidur di sampingku. Tangannya masih menimpa perutku. Aku pun mengangkat tangannya lalu meletakkannya di bawah.
Aku membuka tenda lalu keluar. Ku regangkan otot-ototku sambil melihat pemandangan yang sangat cantik.
Setelah lama meregangkan ototo-otot, aku kembali membangunkan Vinsen.
"Sayang, bangun dong. Ke sumurnya bareng yuk." Aku mengambil handuk di belakang tenda.
"Mmm." Vinsen mulai bergerak-gerak.
"Buruan!" bujukku.
Dia pun bergegas bangkit lalu berdiri di depan tenda.
"Aku ambil handuk dulu ya yang." Dia pun melangkah menuju tendanya.
~
"Yuk!" Aku mulai berjalan di depan Vinsen yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Kami pun sampai di pancuran. Aku meletakkan handuk di atas bebatuan. Demikian yang dilakukan oleh Vinsen.
Byurrrr!!!
Air menciprat ke wajahku ketika Vinsen iseng melemparkan batu ke air. Aku menatapnya dengan tatapan mengancam. Dia tak mempedulikan ku.
Agar impas, aku pun memercikkan air ke wajahnya. Tentu saja dia menghindar lalu berlari. Aku menggayung air lalu mengejarnya. Kusiramkan air di gayung ke arahnya hingga pakaiannya basah.
"Kamu ya," ucapnya mulai berbalik mengejarku. Aku pun berusaha menghindar dari kejarannya, namun dia berhasil menangkapku.
BYURRRRRRRRR!!!
Kami pun tercebur ke air ketika kakiku terpeleset karena batunya licin, refleks aku menarik Vinsen lalu kami pun jatuh bersama.
Akhirnya kami main siram-siraman, hingga kepala kami basah. Setelah itu, kami pun mandi tanpa melepas pakaian tentunya. Nanti setelah selesai, kami akan secara bergantian mengganti pakaian di sebuah pondok yang memang sudah disediakan di sana untuk mengganti pakaian.
~
Pagi itu aku dan yang lain berkumpul di tempat biasanya untuk menikmati sarapan.
Kami saling manatap ketika kami sadar bahwa Bagus dan Auna tidak ada bersama kami, seolah memberi sinyal kemana perginya dua orang itu.
Serentak kami kembali menikmati sarapan kami. Dalam pikirku, mereka mengambil celah untuk berbicara berdua.
~
(Di tempat lain)
"Na, aku sebenarnya udah lama banget sayang sama kamu," tutur Bagus menatap Auna yang berdiri di depannya.
__ADS_1
Auna sontak mengernyitkan alisnya. Dia juga tak menyangkah bahwa Bagus menyukainya.
"Aku memang terlalu penyecut karena hanya bisa memendamnya selama ini. Aku tak ingin merusak persahabatan kita. Jujur, aku sudah menyukaimu sejak kita SMA, Na."
"Gus," Auna mengangkat bicara namun kata-katanya terhenti ketika Bagus melanjutkan bicara.
"Yah, mungkin kau tak serasa denganku. Aku menyukaimu, kamu menyukai Jobes, sayangnya..., Jobes menyukai Nat. Aku sendiri bingung bagaimana takdir akan mengatur semua ini. Aku minta maaf, Na. Aku baru bisa sampaikan ini sama kamu."
Auna menatap Bagus. Dia terpaku pada penyataan Bagus tentang Jobes yang menyukai Nat. Ternyata mereka senasib dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Aku tau, ini menyakitkan, tapi..., maaf Gus. Aku tidak bisa menerima perasaanmu ke aku. Aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Aku juga sudah memutuskan untuk melupakan perasaanku kepada Jobes. Aku tidak ingin merusak semua yang sudah terasa nyaman antara kita semua."
"Tapi, Na...," ucap Bagus yang terhenti ketika Auna meraih tangannya.
"Balik yok. Yang lain udah pada nyariin kayaknya." Auna menarik tangan Bagus lalu mereka akhirnya kembali ke perkemahan.
Meski rasanya sesak, Bagus berusaha keras untuk bersikap biasa saja. Mungkin lebih baik menjadi sahabat selamanya dan saling menjaga sebagai sahabat, batinnya.
~
~
Usai sarapan, kami bersiap-siap untuk pulang. Semua barang sudah di kemasi. Bagus memimpin memimpin perjalanan kemudian ada Bidadari di belakangnya, Aku, Vinsen, Auna dan terakhir Jobes.
Kami mulai menuruni lereng yang curam dan saling menopang agar tidak runtuh dan jatuh.
Beberapa lama kemudian langit mulai mendung. Sepertinya akan turun hujan lebat. Kami pun mempercepat langkah. Namun, seberapa cepat pun, akhirnya hujan turun juga. Semakin deras.
Beberapa jam kami telah menunggu hujan redah. Kami pun lanjut berjalan meski masih rinai. Kami tak peduli. Kami terus melanjutkan perjalanan sambil tetap memperhatikan satu sama yang lain.
~
~
~
Akhirnya kami tiba di pintu keluar. Kami pun memutuskan untuk istirahat dulu. Masing-masing mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.
Lagi-lagi kami memeriksa apakah semua lengkap atau tidak. Syukurlah kalau lengkap.
"Guys, aku buang air kecil dulu ya." Auna meletakkan tasnya lalu pergi.
"Cepat balik ya, Na," ucapku
Beberapa lama kemudian, Jobes juga ikut permisi untuk buang air. Kami masih tetap meunggu.
~
(Auna)
Usai buang air, dia pun hendak kembali. Ketika berbalik, dia berpapasan dengan Jobes yang juga baru balik.
__ADS_1
"Jobes?" ucapnya.
"Na,"
Jobes pun menghampiri Auna dan berjalan bersamanya.
Seketika langkah Auna terhenti. Dia menahan tangan Jobes sehingga Jobes berhenti. Mereka bertatapan.
"Bes, aku mau bicara bentar sama kamu."
Suasana menjadi sangat canggung. Jantung Auna mulai berdegub kencang hingga membuat dahinya berkeringat.
"Yah, Na?" ucap Jobes yang menunggu kata-kata Auna.
"Kamu benaran suka sama Nat?" tanya Auna spontan.
"A hahaha. Kok?"
"Jawab Bes. Kamu suka sama Nat?" tanyanya lagi dengan tatapan serius.
"Uhm. Na..., yah. Aku menyukainya. Tapi itu dulu Na. Dia kan sekarang sama sodara aku." Jobes tersenyum, meski sebenarnya di hati perih.
"Trus, kamu gak pernah merasa suka padaku?" tanya Auna gugup.
Jobes terdiam sejenak. Dia menatap Auna.
"Na, maaf. Sejujurnya aku sadar bahwa kau memperhatikanku sedari SMA dulu. Tapi aku tidak bisa balas Na. Aku menyukai Nat waktu itu. Aku sengaja mengabaikan perhatianmu agar kamu tidak berharap lebih dariku Na." Jobes menyunggingkan senyum.
Auna tertunduk, pasrah. Dia sudah bisa menebak kalau cintanya akan bertepuk sebelah tangan dan takkan pernah terbalaskan oleh Jobes.
"Aku yakin, kau masih menyukai Nat hingga saat ini. Itu pasti alasanmu menolak perasaanku." Auna kembali mendongak menatap Jobes.
Dan, benar saja. Tanpa meminta pria itu untuk jujur, dia pun mengatakannya.
"Yah. Kamu benar, Na. Bahkan sampai detik ini aku masih mencintai Nat dan gak bakal berhenti mencintainya. Andai saja lelaki yang dia sukai bukanlah kakakku, aku pasti akan menggagalkan hubungan mereka. Sampai kapanpun, aku akan tetap mencintainya dan..., dia akan menjadi milikku. Aku minta maaf Na." Jobes pun berjalan meninggalkan Auna.
Auna masih terpaku dengan perkataan Jobes yang benar-benar menyayat hatinya. Dia mendengus pasrah lalu berjalan menyusul.
Sementara aku berdiri di sana tak sengaja mendengarkan perbincangan mereka.
"Mengapa semua ini menjadi sangat rumit dan berantai," Aku berbalik lalu kembali.
Setelah semua sudah berkumpul, kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami. Seketika suasana menjadi canggung. Jobes, Auna dan Bagus hanya terdiam membisu. Sedangkan aku, aku masih mengingat-ngingat pembicaraan Auna dengan Jobes.
~
~
Kami pun sampai di tempat parkiran mobil dan segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.
**
__ADS_1