
Zahra menghentikan langkahnya, dengan tanpa mengesampingkan dahulu troli, biar apa---biar ngalangin jalan orang-orang!
Ia menyenderkan punggungnya di tembok bercat putih bangsal Kenanga, seolah tulang-tulang dan persendian di tubuh Zahra lumpuh total, badannya mendadak lemas padahal sudah bertahun-tahun ia menghadapi pasien dengan kondisi terburuk sekalipun.
Diantara sayup-sayup adzan subuh, ia menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Kaki-kakinya kembali kuat menapaki sisa jarak dari koridor ruangan itu.
Matanya memandang lurus keramik putih lantai koridor yang cuma ada beberapa ekor semut hitam yang lagi angkut-angkut sumber makanan, entah baru selesai ibadah berjamaah atau balik dari pasar, tapi pikirannya kini disesaki oleh semua tentang Dewa, tentang kejadian akhir-akhir ini. Ia meloloskan nafas kasarnya lalu kembali berjalan meski pikirannya entah keluyuran kemana.
"Ra," panggil Mawar, Zahra tak langsung menyahut, mungkin setelah Mawar menaikan nada sapaannya barulah gadis ini menyahut.
"Kamu kenapa?"
Zahra menggeleng, "engga. Ngga apa-apa, efek ngantuk kayanya." Zahra nyengir mirip kambing nyemilin beling kaca.
Mawar melirik jam di tangannya, "gantian solat gih, Ra."
"Sok, yang mau duluan siapa dulu---biar bisa gantian?" tawar Nadine sambil membuka mulut sebesar gawang bola akibat menguap. Untung saja tanaman ngga sampe pada layu.
"Ya udah Zahra aja dulu ya," gadis itu mengambil tas mukenanya lalu melepas topi perawat dan berlalu ke mushola.
Usapan air wudhu pun tak dapat mengusir masalahnya saat ini dari kepala. Ia mematikan air kran dan diam sejenak di depannya.
Gue ngga mau bermain hati Wa,
Dalam setiap sujudnya Zahra hanya bisa berdo'a dan meminta yang terbaik.
Baru saja Zahra kembali, Nadine sudah memanggilnya lagi, seolah Zahra adalah perawat paling sibuk disini.
"Pasien ganteng manggil suster kesayangan tuh, baru pindah bangsal udah jadi perawat kesayangan ye Ra---" godanya nyinyir bin julid binti nyelekit.
Mawar turut mengulum bibirnya.
"Siapa?" tanya Zahra dahinya mengernyit.
"Pasien Angkasa," jawab Mawar.
"Saya maunya suster Zahra," tiru Rosa menirukan wajah papan skateboard wajah Angkasa, kemudian ia terkekeh. Zahra memijit pangkal hidungnya pusing.
"Samperin dulu Ra, siapa tau kondisi darurat." ucap Mawar.
"Darurat hati, jedag---jedug!" cibir Nadine memegang dada sambil tertawa kecil.
"Kalo darurat ngga akan sampe nungguin gue War, masih banyak perawat lain," dumel Zahra menggerutu, ia berkali-kali meloloskan nafasnya kasar kalo udara itu dapat dilihat secara fisik mungkin ia sudah babak belur dan lebam-lebam. Rupanya ada yang menyalahgunakan status pasiennya disini, apakah selanjutnya pasien begini akan bertambah? Kalau begitu cekik saja ia, gantung lehernya di pohon cabai.
Tanpa disadari ruangan Angkasa bersebrangan langsung dengan ruangan Dewa. Secara kebetulan Lendra membuka pintu ruangan hingga kini nampak Zahra berjalan menuju ruangan itu.
"Gue cari makan lah! Jam segini kantin rumah sakit udah buka belum ya?! Laper gue!" ucap Lendra, yang benar saja----ia sudah seperti daki yang nempelin Dewa, ngga dikasih makan ngga dikasih upah dipelintir sampe lemes terus dibuang. Baru kali ini anak CEO, pewaris tahta Aditama udah mirip gelandangan yang kelaperan.
"Loh Ndra, mau kemana?" tanya Zahra, mendengar suara Zahra kembali Dewa yang semula ingin tertidur kembali mengangkat kepalanya.
"Cari makan. Lo sendiri mau kemana?"
"Pasien sebelah manggil. Kalo jam segini kantin, cafe pada belum buka Ndra. Kalo emang laper makan punya Zahra aja, nanti Zahra ambilin. Tapi sebelumnya gue mau kesini dulu ya---"
Lendra terkekeh renyah, "emang perawat the best lo Ra!" tawanya lagi.
"Ntar gue ganti traktir lo deh Ra," balasnya lagi. Zahra tertawa renyah dan membuka pintu di depannya.
"Assalamu'alaikum, pagi---subuh deh!" Zahra melebarkan senyumannya.
Angkasa yang sejak tadi menunggu Zahra akhirnya menoleh, wajahnya memang sangar dan datar, tapi kehangatan bisa terlihat lagi darinya saat kedatangan Zahra.
"Ada perlu apa?"
Hentakan kaki kesal ia jejakkan di lantai, untung saja pondasi bangunan gedung kuat, "bener-bener ngeselin!"
"Ada apa Ra?" Mawar sampai terusik dengan langkah kasar Zahra.
"Kalo bukan pasien udah gue tendang sampe Jupiter! Dia pikir dia siapa!" Zahra mengatur nafasnya yang memburu, ia merengek mewek, menenggelamkan wajah di dalam lipatan tangan, ingin sekali ia melempar Angkasa dari jendela kamarnya langsung ke bawah gedung.
"Nanti pasien Angkasa kalian aja lah yang urus! Gue ogah---" ujarnya frustasi.
"Dia minta apa emangnya?"
"Mata gue! Mata gue harus ter nodai sama pemandangan menggoda iman! Dia minta tiap hari yang nyekain badan dia itu gue, please dong! Gue ini masih calon manten, jadi cuma bisa ngences liat begituan, menyiksa lahir dan bathin!" aku Zahra.
__ADS_1
"Haaa! OMG---OMG, Ra...ya mau lah! Kan mayan tuh bisa liat yang kotak-kotak!" seru Nadine.
Mawar melipat bibirnya, "gue mendingan ngurusin oma Sopi," jawab Zahra.
"Udah dikasih penjelasan semua perawat juga pake SOP yang sama kalo ngurus pasien?" tanya Rosa.
"Udah, katanya berapa biaya tambahan biar gue jadi perawat pribadinya?"
Tak tau saja pemuda itu, perawat cantik ini adalah anak salah satu konglomerat di Indonesia, adik dari 2 orang perwira militer. So, uang bukanlah masalah bagi Zahra, toh cebok saja ia pake duit.
Zahra baru ingat jika ia akan membagi bekalnya untuk Lendra, kasihan anak CEO satu itu, jika sampai Zahra terlambat bisa-bisa ia juga jadi pasien. Zahra mengambil tas di lokernya, "gue mau kasih ini buat temen gue di ruang VIP, jadi pasien yang baru datang semalem itu kerabat--" jelas Zahra malas sebenarnya menyebutkan calon kakak ipar. Takut kalau sewaktu-waktu Dewa membuat ulah, ia juga yang kena efeknya.
"Oh, oke."
"Eh Ra!" panggil Nadine.
"Gue denger, gue juga liat sih---pasien Sadewa itu lebih ganteng dari Angkasa! Boleh dong di kenalin!" pinta Nadine, alisnya naik turun dengan cepat macam harga bbm.
"Huuu!" Rosa mendorong kepala Nadine, membuat Zahra menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan teman perawatnya.
Pintu ruangan Dewa dibuka Zahra, "sorry ganggu," rupanya Dewa tak tidur, ia malah sedang mengobrol santai dengan Lendra yang berbaring di atas sofa.
Dewa menaikkan alisnya sebelah, "lo malak adek ipar gue Ndra?!"
"Bukan! Enak aja, mana ada gue berani malak ***calon istri Ganesha***!" Lendra menekankan kata calon.
"Engga itu gue yang kasih, kasian--toh sayang kalo ngga dimakan," balas Zahra.
"Sayang kamu juga!" goda Lendra menautkan jari berbentuk love pada Zahra yang terkekeh, sejak dulu Lendra emang paling jago nyepik, sampe bikin cewek-cewek nempel. Dewa melemparkan bantal pada Lendra.
"Eh, abang main lempar-lempar aja!" tawa Lendra menggoda Dewa.
*Kena lo Wa*,
"Ini ngga di acak kok Len, baru Zahra comot dikit, Zahra juga ngga punya penyakit rabies, cacar mon yet, apalagi demam cewek kegatelan," ujar Zahra membuat Lendra tertawa.
"Kenapa lo ngga makan?" tanya Dewa datar terkesan mencecar Zahra.
"Lo abang-abangan sewot aja Wa, adik lo aja ngga segini sewot calon bininya perhatian sama gue, ya kan Ra?" Lendra meraih kotak makan ke atas meja dan ia duduk disana, membuka penutup kotak.
"Waww! Ini lo masak sendiri atau beli Ra?!" tanya Lendra meraih sendok dan garpu milik Zahra, masalah makanan ia bukan tipe manusia manja yang pilih-pilih apalagi kalo gratis terus makannya disuapin cewek cantik. Dewa memanjangkan lehernya mengintip kotak makan Zahra yang kini isinya tengah dimakan dengan lahap oleh Lendra.
__ADS_1
"Itu bikin, umi suka larang Zahra buat jajan di luar," jawab Zahra.
Lendra menyendok makanan buatan Zahra, "top!" ia mengacungi jempolnya sambil mengunyah.
"Kalo gue tikung lo dari Ganesha, dia terima ngga ya?! Ijin ah!" kelakar Lendra. Nih orang emang cakep, tapi kelakuannya itu loh jiplakan Armilo. Zahra kembali terkekeh renyah.
*Plukkk*!
Kini kunci mobil yang melayang tepat ke arah kepala Lendra, hingga pemuda itu mengaduh, "sat! Abang galak kaya gorilla yang lagi hor ny tapi ngga ada betina buat lampiasin!"
"Wa ih! Udah ditolongin Lendra juga, emang dasar nih cowok dari jaman masih bayi merah udah nyebelin! Inget gue waktu rambut gue ditarik-tarik tuh orang!" desis Zahra.
"Kaya yang lo ngga bar-bar aja, kerah kemeja seragam gue lo tarik sampe gue kecekek!" jawab Dewa. Sayangnya Dewa tak bisa turun, sekujur badannya terasa remuk redam, belum lagi tulang kaki yang retak karena terhantam benda begitu keras.
"Abis ini lo anter Zahra balik, Ndra." Perintah si abang-abangan.
"Oh ngga usah, abis ini gue mau ke rumah dinas abang Ray. Mau ikut tidur disana," balas Zahra, sampai detik ini, sejak kejadian dini hari tadi, Zahra tak mau menatap Dewa lebih dari 5 detik, gadis ini terlihat salah tingkah.
"Oh oke! Anterin kemanapun dia mau Ndra, ke neraka sekalipun!" jawab Dewa mendesis melihat Zahra yang duduk samping-sampingan dengan Lendra.
Lendra tertawa sampai tersedak dan terbatuk, "uhukkk! Uhuukk!"
"Sokor!" cibir Dewa.
"Tapi abis anter Zahra gue balik Wa, biar nanti gue suruh Axel kesini temenin lo, mami sama papi bisa curiga kalo gue kelamaan ngilang," balas Lendra diangguki Dewa.
"Om Ji sama tante Ica gimana?" tanya Zahra.
"Mereka taunya gue liburan di apartement Lendra," jawab Dewa.
"Jadi! Lo jangan sekali-kali bocor sama momy---daddy," Dewa memberikannya peringatan.
Alis Zahra menukik, "kok gitu? Lo kan anaknya? Ngga boleh gitu dong, tante Ica pasti khawatir sama lo, Wa. Dia ibu lo, masa ngga tau keadaan anaknya kaya gini,"
Untuk kali ini ia tak setuju dengan Dewa.
"Justru karena itu, gue ngga mau bikin daddy sama momy khawatir. Biar aja mereka taunya gue lagi boros-borosin duit!" jawab Dewa semudah itu membuat imagenya semakin buruk. Zahra mengerutkan dahinya tak mengerti dengan jalan pikiran Dewa.
"Kalo sampe bocor itu berarti gue minta tanggung jawabnya sama lo!" mata Dewa menyipit pada Zahra.
"Kok gue? Kan disini ngga cuma ada gue, ada Lendra juga, ada orang lain satu rumah sakit!"
.
.
.
__ADS_1