My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
GODAAN


__ADS_3

Sudah cukup lama mereka berada di kawasan Bogor itu, janji 2 minggu tapi kebablasan sampe 1 bulan. Pihak rumah sakit memang tak memaksa agar Zahra kembali secepatnya, namun jika telah sehat ia boleh kembali bekerja dengan catatan, Zahra tak akan ditempatkan di posisi perawat yang kontak langsung dengan para penderita mengingat kehamilan trimester awal yang sangat beresiko bila kembali terpapar.


"Aaa...sayang, aku sakit kayanya...rawat aku dong! Uhukk-uhukkk!" Dewa menggulung tubuhnya dengan selimut, rencananya hari ini mereka akan pulang ke Jakarta.


"Drama banget astaga..." tawa kecil Zahra tak menghiraukan drama ikan pari suaminya, ia lebih memilih memakai kembali piyama yang semalam Dewa tanggalkan dan lempar ke sembarang arah sampai nyangkut-nyangkut di kursi berias.


"Abang bukannya besok mesti datang ke kantor kan? Jadi hari ini harus pulang, aku juga kangen umi sama momy..." Zahra menyambar handuk miliknya.


"Ke kantor ngga akan nyampe seharian, paling cuma satu sampe 2 jam'an lah! Gimana kalo kita pindahan aja kesini sayang?" tanya Dewa dengan suara paraunya.


"Abangggg...aku ngga langsung kerja, masih harus nanya dulu sama pihak rumah sakit, sama dokter kandungan juga baiknya gimana..." balas Zahra dari balik pintu kamar mandi, kini terdengar suara gemericik air tanda jika Zahra mulai bersih-bersih.


Mungkin saat ini perutnya belum begitu nampak, usia kandungannya masih trimester pertama.


°°°°°°°


"Meni ngga kerasa udah pulang lagi, kapan atuh ibu kesini lagi?" tanya bi Wiwin, satu bulan bersama Zahra, ia cukup sedih juga harus berpisah dengan majikan karena biasanya ia dan sang suami hanya berdua saja untuk mengurus villa ini.


Zahra membalasnya tersenyum, "insya Allah secepatnya ya bi...makasih loh udah nemenin sama bantuin Zahra disini,"


"Hati-hati ibu, semoga selalu dikasih sehat, lancar, selamat, tidak kurang suatu apapun..." penjaga villa itu memeluk Zahra. Udara sejuk disini menemani masa penyembuhan Zahra, meskipun terkadang rasa tak enak di penciuman dan perasanya masih selalu terasa.


"Sehat-sehat neng, kalo bisa mah ngga usah kerja jadi suster lagi lah! Mamang mah meni ngeri liatnya yang kena virus teh!" pria berpeci itu menepuk-nepuk lembut punggung tangan dan lengan Zahra.


"Mamang sama bibi baik-baik disini ya, sehat-sehat...insyaAllah ada waktu nanti main kesini lagi," balas Zahra.


"Titip rumah ya bi--mang!" kini Dewa yang bergantian menyalami kedua penjaga villa.


"Hati-hati aden..."


Mobil merah Dewa perlahan menjauh dari gerbang villa, keduanya harus kembali ke ibukota yang telah menanti. Kepulangan mereka telah ditunggu keluarga di rumah.


"Kamu kalo mau tidur, tidur aja sayang..." ucap Dewa mengusap perut Zahra, kini bukan hanya ada aku dan kamu saja, tapi aku, kamu dan buah hati kita...


Sesaat kemudian Zahra benar-benar memejamkan matanya, Sadewa menatapnya lama ada hati yang begitu berat saat ini, tapi ia tak bisa untuk tak merestui keputusan istrinya itu.


Dan orang yang paling heboh pastilah momy Ica dan umi Salwa, umi sampe bela-belain datang ke rumah momy Ica cuma buat liat kondisi Zahra, pasalnya ia sudah sangat lama tak bertemu putri bungsunya itu.


"Ngga bisa minta cuti sampe lahiran gitu?"


"Udah deh, keluar ajalah!"


"Ngga kasian sama yang di perut?"


Bagi orang berprinsip seperti Zahra sangat kecil kemungkinan untuk mengikuti kemauan umi yang selalu memintanya keluar dari pekerjaannya. Profesinya bukanlah sekedar hobby, ataupun pekerjaan, tapi ada rasa dedikasi, prinsip dan loyalitas Zahra.


Zahra duduk di lengan kursi yang Dewa duduki, membuat Dewa refleks melingkarkan lengannya di pinggang Zahra dan membawanya ke pangkuan.


"Besok jadi ke kantor? Aku anter makan siang ya?!" ucapnya bertanya, Dewa menghentikan aktivitasnya membaca file dan menatap istrinya, "ngga usah lah, takut kamu capek. Lagian di luar tuh lagi ngga aman..." balas Dewa, tapi bumilnya itu merengut cemberut, ia bosan dan ingin bergerak.


Sadar akan respon kecewa Zahra, Dewa akhirnya luluh, "tapi sebentar aja, dianter sama supir ya..."


Zahra mengangguk cepat, "oke!"



Mungkin akan seperti inilah kesehariannya jika pensiun dari rumah sakit, cuma pake dress rumahan terus masak bareng momy buat Dewa dan urusin rumah.



"Ngga usah, biar momy aja. Nanti kamu capek..." ujar momy melarang Zahra membantu.



"Ngga apa-apa mii, aku cuma hamil bukan lagi sakit stroke."



Momy Ica diam dan menimbang-nimbang ucapan benar mantunya, dan kemudian keduanya tertawa, "iya sii tau, tapi sekarang momy aga riskan kalo liat kamu kerja-kerja berat, takut si utun kenapa-napa...cucu pertama momy loh itu, Ra!" betapa excitednya Ica, lucu saja padahal ia selalu merasa masih muda, tapi ternyata sebentar lagi udah mau punya cucu.

__ADS_1



"Maskernya double, abis anterin makanan langsung mandi ya nak, jangan lama-lama di luar."



"Pak Dadan! Nanti tungguin aja sampe keluar," pesan Ica pada supirnya.



"Siap bu!"



Zahra sudah siap dengan pakaian casual rapi nan sopannya, paper bag berisi makan siang untuk Dewa, dirinya, Ganesha dan daddy siap. Masa iya cuma buat Dewa doang!



"Dadah momy, assalamu'alaikum!" Zahra masuk ke dalam mobil dan melesat menuju kantor.



"Wa'alaikumsalam,"



Tak ada perbedaan yang berarti, hanya memang jalanan sedikit lengang dari biasanya karena pembatasan aktivitas, terlihat dari jarangnya pedagang kaki lima, pasar yang jam operasinya dibatasi dan beberapa gedung pertokoan masih banyak yang tutup. Benar-benar berdampak untuk kehidupan ekonomi negara.



"Jadi sepi ya pak," imbuh Zahra membuka suara.



"Iya neng, kalo segini mah udah aga rame neng...cobak yang kemaren-kemaren tuh waduhhh berasa bukan Jakarta! Sepiiii....ibu Ica saja usahanya jadi via online, paling di kantornya cuma ada beberapa karyawan itupun gantian masuknya," curhat si bapak.




Memikirkan jumlah angka keuntungan dan kerugian membuat otaknya mumet, hingga tak sadar mereka telah sampai di salah satu gedung pencakar langit kota Jakarta, kantor utama JILO corp.



Sepi, karyawan yang masuk dapat ia hitung dengan jari. Bahkan langkah sepatu flatshoes'nya dapat terdengar olehnya sendiri.



Mbak Maya sang resepsionis tersenyum ramah sudah mengenal dirinya, memang tak banyak yang mengenal Zahra disini, hanya beberapa karyawan saja karena Zahra yang memang jarang datang ke kantor, saat menikah pun hanya undangan terbatas saja, sisanya hanya menerima hampers tanpa tau istri presdir yang mana, "bu, mau ketemu pak Sadewa?" tanya Maya.



"Hay mbak May, gimana kabarnya sehat?" Zahra berhenti sejenak di depan meja resepsionis.



"Alhamdulillah bu, ibu gimana sekarang? Maya denger ibu kena virus?" tanya nya balik.



"Alhamdulillah udah sembuh mbak May, suami, mertua sama ipar aku ada kan mbak?" tanya Zahra.



"Ada bu, tapi kayanya masih meeting sama klien..kata pak Dewa ibu bisa nunggu sama bang Miki di ruangan pak Dewa,"



"Oh oke deh mbak, makasih ya!" Zahra sedikit berjalan cepat menuju lift, rupanya di dalam lift ada 2 orang karyawan turun,

__ADS_1



"*Iya, semoga aja project kali ini goal lagi lah! Jaman gini mesti gercep ambil project biar bisnis tetep jalan, karyawan sejahtera*..."



Zahra menggelengkan kepalanya, kalau ada yang bilang jadi CEO dan presdir itu gampang dan enak, maka ia akan menyuapkan sambel level 100 satu cobek beserta lalapan ke dalam mulutnya dalam sekali hap! Mereka tak tau bagaimana perjuangan mertua, suami, ipar, dan kerabatnya untuk membuat bisnis tetap berjalan.



Zahra masuk ke dalam lift, hingga di pertengahan sempat berhenti karena ada karyawan yang ingin masuk juga.



Zahra bergeser agak ke dalam sehingga 3 karyawan itu kini berada di depannya.



"Pasti goal lah, klien kali ini yang gue denger mantan terindah pak Sadewa...eh ngga tau masih demen-demenan deh," kikiknya gemas.



"So pasti masih ada hati lah, biasanya kalo mantan kan musuh-musuhan, nah ini mantan disamperin, berarti kan ada sesuatu. Siapa juga sih yang bisa nolak pesona pak Dewa, mantan aja balik lagi..."



"Ah masa?! Yang tadi datang bawa 2 asisten ganteng-ganteng? Yang kita kira artis itu?!"



"Iya, yang lo salah ngira dia artis!" mereka tertawa lepas, tapi sungguh hal itu tidak lucu di mata Zahra, alisnya justru menukik tajam dan mengernyit mendengarkan obrolan ketiganya.



"Maaf, tapi bukannya pak Dewa udah nikah ya?" Zahra memanjangkan lehernya membuat mereka sontak menoleh ke belakang.



"Eh, mbaknya siapa?!" tunjuk salah satunya.



"Oh, saya anak divisi keuangan," jawab Zahra tanpa gugup.



"Oh, kita divisi perencanaan. Tapi istrinya ngga pernah dibawa ke kantor atau dikenalin. Apa pak Dewa malu kali ya?"



"Katanya sih suster gitu di rumah sakit, ahhh alamat bang toyib kalo lagi jaman co vid gini mah! Pasti pak Dewa nyari yang free lah, iya ngga? Presdir atau atasan banyak duit mah udah ngga aneh punya simpenan!"



Kedua lainnya mengangguk, "apalagi pak Sadewa, dia terkenal playboy. Istrinya gampang lah dikibulin, toh dia kerja di rumah sakit...pasti sibuk banget sekarang,"



Zahra mengepalkan tangannya kencang-kencang. Sejelek itukah image seorang CEO atau presdir?



"Oh," Zahra berohria saja meskipun hatinya panas.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2