My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
GENGSI SEBESAR GUNUNG


__ADS_3

Zahra mengatupkan bibirnya saat tawa itu terdengar garing di pendengaran, segaring kerupuk jengkol. Ia segera pamit undur diri dari kamar Dewa, "kalo gitu gue balik ke depan dulu," gadis perawat itu sudah memutar badannya.


"Sus---" tahan Dewa.


"Gue aus, laper..." lanjutnya fasih.


Zahra tersenyum, "oke, saya lihat dulu ya bang." Ia kembali mendekat, mencoba mengesampingkan perasaan yang sudah sejak tadi terasa canggung berada satu ruangan dengan Dewa.


"Sudah bisa menelan ludah? Coba batuk dan tarik nafasnya," pinta Zahra.


"Bisa, lo suruh gue jungkir balik, koprol sama lompatin gedung juga bisa Ra!" jawabnya sewot.


Zahra tertawa menggeleng, "kalo lo koprol ntar yang ada gue ditampol dokter, Wa! Pen yang dipasang sia-sia dong," wajah cantik itu kembali ceria.


"Kalo gitu nanti saya suruh perawat lain buat bawa air hangat sama makan ya,"


"Gue maunya lo, Ra!" ujar Dewa parau. "Lo ngga kasian sama gue gitu, Ra? Sendirian disini,"


Zahra menatap dalam netra kelam Dewa, "kenapa harus gue?"


"Karena lo suster!" jawabnya.


Zahra tertawa mendengar jawaban di luar ekspektasinya, atau mungkin ia yang terlalu kepedean.


"Kenapa?" tanya Dewa. "Ngarepin jawabannya karena gue suka sama lo?"


Zahra menggeleng dan tersenyum kecut, "asli Wa. Lo tuh pasien paling narsis, kepedean," ia tertawa.


"Udah ah. Gue mau ambil makan lo dulu, katanya laper!" tambah Zahra.


"Ra, lo yang harus balik lagi kesini! Gue maunya lo yang nyuapin!" perintahnya sebelum Zahra benar-benar pergi.


Zahra menutup pintu kamar Dewa dan berlalu, sementara Dewa menatap langit-langit ruang rawatnya nyalang, menerawang perasaan hatinya saat ini yang boleh dikatakan sudah melenceng dari jalur. Baru kali ini ia begini pada seorang perempuan terlebih itu Cut Zahra.


"Kamu anak cewek doyannya berantem! Dasar gendut!"


"Kamu juga anak cowok beraninya sama perempuan! Nakal banget sih! Kasar!"


Dewa tertawa hingga jakunnya naik turun mengingat setiap pertengkarannya dengan Zahra kecil yang bertubuh montox. Moment kelas dengan hiasan bangau kertas dan bangku-bangku kecil serta pelangi selalu chaos gara-gara pertengkaran Zahra dan Dewa kecil.


"Nesh, kayanya gue suka Zahra."


Sulit sekali untuknya bilang suka pada perempuan karena ini kali pertamanya, ada rasa menggebu seperti ini di dalam hati, Dewa bukan lelaki bo doh yang tak menyadari jika ini adalah perasaan menyukai pada lawan jenis.



Suara daun pintu dibuka sukses membuat Dewa menoleh, Zahra kembali masuk membawa senampan makanan milik Dewa.



"Masih dalam bertahap ya bang, kalau memang minum air hangat sudah baik-baik saja dan tak ada kendala dengan sistem pencernaannya, nanti baru boleh makanan yang lebih padat sesuai anjuran dokter Farhan."



Zahra menaruh nampan itu di meja samping lalu menyentuh tuas ranjang agar posisi Dewa lebih nyaman untuk menerima suapan.



Dengan sendok, Zahra telaten menyuapi air hangat terlebih dahulu, lalu menunggu beberapa saat.



Ia melirik jam di tangannya, "kata suster Ninung operasi sudah selesai agak lama, sebenernya sudah bisa minum ya bang. Tapi kita tidak mau ambil resiko, jadi bisa ditahan sebentar kan?"



Dewa mengangguk, "bisakan lo ngga canggung gini, biasa aja Ra. Lo lagi bikin jarak sama gue?" tanya Dewa.


__ADS_1


Zahra menghela nafasnya, "lo gimana sih, dimanisin nolak? Malah nuduh bikin jarak," Zahra tersenyum miring dan menarik kursi di samping Dewa.



"Lendra ngga datang, Wa?" gadis itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Kenapa pembicaraan ini harus jadi terasa canggung setelah perasaan itu hadir. Setidaknya jika ada Lendra, momentnya tidak akan se-awkward ini.



"Engga, kerjaan Lendra banyak. Sebagai anak tunggal dari om Milo yang punya kerajaan bisnis, Lendra dituntut untuk sibuk. Gue juga sengaja nolak Axel datang, buat apa bayar mahal-mahal kalo ngga diurusin perawat," jujurnya cuek membuat Zahra tertawa kecil, tak peduli mau dikata ia warga negara pelit bin kikir atau ngga berbudi, ngga berperikemanusiaan, atau peri-peri lainnya.



"Iya, kerjaan perawat apa dong?! Lo emang ngga mau rugi banget, Wa!" desis Zahra, marah dan ketusnya Zahra membuat Dewa dapat tersenyum.



Ponsel Dewa bergetar membuat keduanya terdiam dan menoleh. Zahra meraihnya dan menyerahkan pada Dewa, sekilas ia melihat nama yang tertera.



*Ganesha*



"Hallo,"



(..)



"Gue lagi liburan bareng cewek cantik! Kalo lo masih peduli, urus aja kerjaan lo yang bener. Waktu lo cuma tinggal sebentar lagi. Abis ini sesuai perjanjian, gue yang ambil alih."




"Ganesh ada hubungi lo?" tanya Dewa, Zahra mengangguk, "ada kemaren."



Zahra menunduk, "katanya balik dari tugas luar kotanya, dia mau adain acara tunangan kita di salah satu hotel keluarga om Jihad di kawasan puncak," jawab Zahra meloloskan nafas berat.



"Oh ya? Kok gue baru tau?" tanya Dewa.



"Terus ini kenapa muka lo ditekuk? Kalo gitu, yang tadi lo bilang---"



"Gue cuma ngga yakin aja, soalnya sampai detik ini bagi gue Ganesha masih gue anggap kaya temen."



Tatapan Zahra lurus menatap masa depan, "entah mau jadi apa hubungan gue sama Ganesh. Apa mungkin belum, kata orang sih cinta datang seiring waktu, gue cuma realistis aja sekarang. Cinta datang karena nafkah, meskipun nanti gue ngga tau ke depannya gimana, Ganesha terlalu pasif, dan yang lebih absurdnya lagi sekarang gue curhat sama abangnya yang ngga ada akhlak!" ia mendelik sinis pada Dewa.



"Lo mesti janji, jangan bilang ini sama Ganesh, om Ji sama tante Ica atau nanti lo, gue suntik kebiri!" Zahra meminta Dewa janji kelingking, pertama kalinya seumur hidup Zahra mengalah meminta perdamaian pada Dewa.



Dewa hanya menatap kelingking yang di ulurkan Zahra di depannya tanpa mau menautkan kelingkingnya.


__ADS_1


"Lo ngga harus berkorban, Ra. Buat apa? Kalo memang lo belom ada rasa sama Ganesha, ngga usah dipaksain. Gue tau ada beban nama baik keluarga di pundak lo, tapi gue yakin orangtua bakalan maklum," balas Dewa.



"Lo ngga tau Wa, saat umi sama abi bilang *umi khawatir kamu sendirian*, itu rasanya nyesek. Ada gurat khawatir di wajah mereka bukan hanya saat gue sakit, ataupun keluar malam sendirian, tapi pergaulan dan teman hidup--- ada rasa tanggung jawab abi yang masih mengganjal saat gue belum memiliki jodoh yang menurutnya baik, ada pukulan berat saat abi bilang, *mumpung abi masih ada umur buat titipin anak gadis abi sama orang yang tepat*," Zahra menunduk saat harus bicara tentang kedua orangtuanya, Dewa menyimak dengan khusyuk.



"Gue akan ikut kemanapun garis takdir membawa. Kalau memang saat waktu yang ditentukan Allah gue sama Ganesha memang tak ada harapan, atau disaat diantara sujud-sujud gue tak ada nama Ganesha, mungkin gue akan ambil jalan tengah, menerima kandidat yang abang-abang gue ajukan, setidaknya meminimalisir tindak kriminal dalam rumah tangga, karena gue berada di ruang lingkup abang-abang gue, setidaknya itu plan gue ke depan."



Zahra mengambil mangkuk berisi bubur dan menyendok isinya.



"Aaa---pesawat mau masuk dan landing di mulut yang penuh dosa nih?" gadis perawat itu terkekeh kecil.



"Ra, kalau seandainya ada kandidat lain dari klan Alvian apa lo mau terima?" Dewa menerima suapan Zahra. Zahra menatapnya lama dengan alis mengkerut.



Ia tertawa sumbang, "udah kaya barang flashsale aja gue!" kembali Zahra mengaduk bagian bubur di pinggir mangkok agar tak berantakan.



"Gue serius," jawab Dewa, ia menelan saliva beserta bubur yang ada dalam mulutnya sedikit sulit. Zahra hanya tersenyum kaku saja namun otaknya berpikir keras, Jihad dan Ica hanya memiliki 2 anak, maksudnya kandidat lain yang dimaksud Dewa apakah dirinya? Ia hanya belum siap kalau memang jawabannya iya, jika Dewa mengatakan dirinyalah yang akan mengajukan diri, karena entah bagaimana reaksinya nanti, apa mangkuk yang dipegangnya akan jatuh?



"Ra," Dewa menyentuh tangan Zahra.



"Siapa?" tanya Zahra memberanikan diri menatap Dewa. Percayalah saat ini degupan jantung keduanya semakin bertabuh kencang, kasihan sekali kerja jantung dan pembuluh da rah yang harus extra mana kala keduanya gugup saat ini, tapi karena gengsi yang sebesar gunung untuk mengakui, keduanya sama-sama menampik perasaan itu.



"Suster Zahra! Maaf mengganggu sebentar," Rosa membuka pintu ruang rawat Dewa.



"*Memangnya sesibuk itu ya perawat Zahra?! Berapa biaya yang harus gue bayar kalo pingin diurus suster Zahra?! Gue bayar sekarang*!" terdengar suara lantang seseorang dari luar ruangan Dewa, jelas saja terdengar kencang karena pasien itu berada di depan ruang Dewa.



Dewa mengerutkan dahinya, "siapa tuh orang, mau gue kirim ke ruang mayat atau meja operasi?" dari suaranya, Dewa merasa tak asing dengan sosok yang berteriak-teriak macam sirine ambulans itu.



"Ck," Zahra berdecak.



"Angkasa," gumamnya membuat Dewa menukikkan alisnya dan mengernyitkan dahi.



"Siapa?" tanya nya memastikan lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2