
Zahra berjalan dari depan gerbang markas matra marinir. Hawa dan aroma ksatria tercium segar di pagi hari. Seruan lagu santai namun membangkitkan semangat sudah biasa terdengar jika ia menemukan satu banjar om-om kacang biru sedang lari pagi.
Ia hanya mengangguk tersenyum pada beberapa yang ia kenali atau pernah bertemu. Adik dari Mayor sekaligus personel Raden Joko, siapa tak kenal, belum lagi kakak iparnya adalah mantan model terkenal, semua pasti mengenalinya dengan hanya menyebutkan nama Eirene.
Kepalanya agak sedikit pusing tersorot cahaya matahari yang mulai mengintip dari balik pepohonan dan ujung atap gedung kantor korps marinir, pertanda alarm tubuh Zahra telah berbunyi, ia lelah...butuh makan---minum dan tempat tidur gratis saat ini.
Langkahnya cukup membuat Zahra berkeringat karena sinar matahari semakin menyorot bumi belahan khatulististiwa.
Dari ujung belokan ia sedikit mempercepat langkah mana kala melihat sesuatu, pemandangan itu membuat Zahra mengeluarkan tawa kecilnya.
"Ha-ha-ha, gemes banget gue!" gumamnya.
Sesosok model Internasional bernasib naas! Yup---dialah Eirene lovely, menikah dengan abang minus akhlaknya itu merubah nasib glamour Eirene, yang tadinya wanita itu selalu bergelimang kemewahan bersama para manusia hedon kini ia harus bersusah-susah ria mengurus 2 anak di usia yang sedang masa-masa aktif mereka.
"Cimoy! dikunyah makannya cepet ih!" lihatlah betapa sibuknya ia, bukan mengurus job atau fotoshot sebuah iklan, tapi menyuapi kedua anak-anaknya makan sambil momong di jalanan blok rumah.
"Hati-hati kak, itu ada motor lewat nanti kamu kesenggol!" bila pagi, emak satu ini berubah jadi speaker tahu bulat, mesti teriak-teriak bak alarm tsunami pada kedua anaknya, anggap saja sedang latihan paduan suara.
Gadis kecil yang sedang mengayuh sepeda roda tiga itu adalah Cut Daliya Clemira, bocah menggemaskan itu tertawa-tawa, "dedek sini!" lucknut sekali ia, adiknya yang baru belajar berjalan ia suruh mengejar dirinya yang bersepeda, memang jelas bocah perempuan itu turunan abang Ray mutlak, tidak berperikemanusiaan.
Pandangan cimoy tertumbuk pada Zahra, "ma cuttttt!" bocah itu turun dari sepedanya dan memilih berlari, Zahra tertawa....tuh bocah ngapain harus capek-capek lari, sementara sepedanya ditinggal!
"Halo sayang-sayangnya ma cutt!" Zahra ikut berlari menyerbu.
Ia lebih dekat dengan kedua bocah absurd ini ketimbang dekgam Saga karena berada jauh di timur. Ditambah Saga itu jiplakan bang Fath dan abi Zaky yang pendiam, begitu kalem, baik, pintar dalam akademik, pintar mengaji dan cool, bikin cewek-cewek pada nempel. Ingat sekali ia, jika Fara sering mengeluhkan bahwa ibu-ibu dari teman Saga ingin jika putri-putrinya kelak berjodoh dengan putra danyon tanah timur itu.
Wah! Kecil-kecil abang Saga udah sold out! Dan ini, kedua anak dari Ray adalah jiplakan Rayyan banget! Banget!
"Ma---ma cut!" ujar Panji, dengan langkah sempoyongan seperti akan jatuh.
Kedua anak yang berbeda jarak usia 2 tahun ini dikecup satu persatu olrh Zahra, harum shampoo khas balita pertanda jika keduanya sudah mandi pagi.
Zahra menggendong Panji, "tumben nih kesini, libur dek?" tanya Eyi yang menyusul.
"Engga. Baru pulang shif malam, kak Eyi turun berapa kilo tiap hari lari pagi gini? " Zahra terkekeh.
"Ha-ha-ha, iya kurus lagi deh!"
"Ke rumah yuk! Eyi baru masak ayam serundeng," ajaknya.
"Ma cut! Aku dong udah bisa gowes yang benelll! Liat deh---liat!" unjuknya selalu ingin mendapatkan perhatian dari semua anggota keluarga termasuk Saga, bocah SD itu terkadang selalu menyerah meladeni adik sepupunya itu karena terlalu bawel.
__ADS_1
"Iya--iya, ma cut udah liat..." jawab Zahra tak terlalu memperhatikan.
"Ihhh--ma cut sama dedek Panji telusss! Sebel aku! Udah ah, mau sama abang Lengga aja aku mah, abang Lengga bilang aku cantik!"
Eyi menggelengkan kepalanya, anak gadisnya itu benar-benar jiplakan Rayyan yang kecentilan dan genit.
"Moy ih! Jadi cewek harus jual mahal ih!" omel ibunya, membuat Zahra tertawa.
"Ha-ha-ha! Jiplak abang Ray banget nih, genit ih!"
"Yuk pulang yuk! Umi mau ngampus bentar lagi," ucap Eyi.
"Belum dikasih jadwal magang kak?" tanya Zahra.
Eyi menggeleng, "belum." Ia menggeleng pasrah setengah frustasi.
"Kenapa?"
Kini keempatnya berbalik dalam perjalanan ke rumah dinas Rayyan yang baru. Sejak naik jabatan menjadi mayor, mereka pindah blok.
"Abang kamu tuh malu-maluin! Dia datang ke kampus, minta penempatan Eyi ngga boleh jauh dari Markormar, maksimal sekitaran ibukota lah, malu banget sama dosen, temen-temen mahasiswa sama dekan---mana bawa pasukan trio ubur-ubur lagi pada pake baju kesatuan, kan dikiranya mau nyerang kampus! Kenapa ngga sekalian bawa keluarga smurf satu truk Reo?!" adunya mengaduk-aduk sisa nasi yang ada di mangkok, sisa kedua anaknya makan barusan bersama sayur sop lalu ia suapkan ke mulutnya sendiri, sayang mubadzir.
"Itulah si playboy kak, kalo nyebelinnya kambuh ya gitu!"
"Kak, Zahra lapar ih---ngantuk juga, capek ngga kuat, baru pindah bangsal!" adu nya pada Eyi seraya melengos ke belakang untuk membasuh kaki dan mencuci muka setelah pintu terbuka.
Kedua bocah tadi langsung anteng di halaman rumah yang sudah disulap menjadi taman bermain yang aman, siapa lagi jika bukan ummah sultonah yang punya andil mindahin stasiun wahana bermain anak di mall ke rumah Rayyan dan Al Fath.
Eyi mengunci pagar halaman rumah, "mainnya jangan berantem ya kak," tak jua direspon Cimoy, Eyi meraup nafas sedalam-dalamnya bahkan lebih dalam dari lautan, lalu mengeluarkan nafas naganya.
"Kak, cimoy? Mainnya jangan berantem sama dedek? Dedeknya jangan dipakein bandana kelinci sama kerudung, dia ngga suka! Iya kak? Iyain dulu? Nanti abi marah, masa cowok dipakein kerudung," tanya Eyi lantang.
"Iya---iya----iya---iya! Umi celewet ah," suara gemoy cimoy sampai ke dapur, bahkan Zahra menyemburkan sisa-sisa air minum yang belum sempat ditelan. Ingin sekali ia menculik cimoy dan membawanya kemana-mana apalagi saat bekerja, ia selalu merasa terhibur dengan adanya para keponakan. Eyi lantas masuk ke dalam menghampiri Zahra.
"Sama nasi," ucap Eyi saat menemukan Zahra mencomot ayam yang ada di piring seraya membawa mangkok bekas kedua anaknya ke wastafel lalu mencucinya.
"Iya entar, minta piring dong kak!" pinta Zahra sudah posisi mantap untuk makan hingga tak mau berpindah lagi barang sejengkal saja.
Eirene mengelap tangannya lalu meraih satu piring membawanya ke atas meja makan dan ikut duduk.
"Kamu tidur di kamar cimoy aja. Kamar Panji masih berantakan, nanti minta abang anter kerja, mumpung lagi ngga dinas luar,"
__ADS_1
Zahra mengangguk, Eirene beranjak mengambil make upnya, memilih berias di teras seraya memperhatikan kedua anaknya bermain.
Akhirnya Zahra membawa serta piring makannya beserta segelas air ke luar.
Gadis itu duduk di kursi samping Eirene dan menaikkan kedua kakinya ke atas kursi sementara piring berada di pangkuannya. Langit pagi di markormar cukup indah sebagai latar kedua keponakan yang sedang bermain.
"Moy---cimoy awas itu dedeknya di belakang sayang---jangan lari-lari!" teriak Eyi menjeda pembuatan alis.
Hari ini Zahra tak terlalu fokus, entah karena mengantuk atau memang ada yang lain yang ia pikirkan, ternyata bukan hanya Zahra saja yang merasakan itu.
"Dek, kamu tuh kenapa? Biasanya secapek apapun kamu ngga diem gini? Sakit?! Mau Eyi bilang sama abang, umi?"
Zahra menggeleng, tangannya memang menyuapkan nasi beserta lauknya namun ia terlihat seperti tak ada gairah. Bukan karena masakan Eyi tak enak namun karena ada sesuatu mengganjal di hatinya. Apakah ia harus mengadu dan meminta solusi kakak iparnya itu?
"Kak,"
Eyi menghentikan goresan lipstiknya, "hm,"
"Rasanya jatuh cinta tuh gimana sih?" tanya Zahra.
Eirene hanya menyunggingkan senyumannya, "udah mulai jatuh cinta nih sama calon suami, cieee---- udah ada debaran-debaran yang bikin makan ngga enak karena mikirin dia terus, inget tuh! Eyi sama abang dulu, kalo ketemu tuh suka deg-degan apalagi kalo tatap-tatapan tuh bikin ngga enak duduk ! Bawaannya kalo lagi jauhan tuh otak kaya lagi hipnotis, Rayyan--Rayyan--Rayyannn gitu," Eyi memandang ke atas awan biru, seolah sedang bernostalgia rasanya awal jatuh cinta pada Rayyan.
"Udah lah! Kaya orang ngga waras! Sampe jadi deh tuh dua bocil---" tunjuknya pada kedua bocah yang sedang asik bermain, yang satu bermain tongkat peri dan kuda pony dan yang satu dengan boneka action figur iron man meskipun kerjaannya melumuri kepala si iron man dengan saliva dan menggigiti tangannya hingga penyok, kalo sampe si tony stark tau mewek da rah dia, kepalanya berlumur air liur balita.
"Getaran cinta tuh ngga pernah salah loh dek. Hati bakal tau kemana kasih sinyal jodoh," tambahnya.
"Kapan nih tuker cincin?" tanya Eyi kembali melirik Zahra yang semakin terdiam. Kenapa semua ciri-ciri yang Eyi katakan lebih pada perasaannya terhadap Dewa bukan Ganesha.
"Ngga tau kak. Udah ah! Udah abis, Zahra ngantuk banget!" ia menunjukkan piring yang sudah tandas isinya hanya tersisa tulang belulang ayam bagian pa ha.
"Ya udah deh sana, otak kamu kayanya udah ngga konek dari tadi. Kalo siang bangun ada puding strawberry di kulkas,"
"Asikk! Zahra jadi berasa bungsunya kak Eyi, nanny'nya cimoy sama Panji jam berapa datang?" tanya Zahra.
"Bu Nani kesini jam 9an, nanti Eyi kasih tau kalo kamu tidur di kamar cimoy!"
Zahra mengangguk, "oke."
.
.
__ADS_1
.
.